Site icon Baladena.ID

Mengapa membuang waktu terasa lebih enak dibandingkan menghargai waktu?

Sangat mudah membuang waktu karena gangguan ada di mana-mana dan seringkali membutuhkan sedikit usaha untuk terlibat. Media sosial, layanan streaming, dan video game hanyalah beberapa contoh hal yang dapat dengan mudah mengalihkan perhatian kita dari tugas kita. Di sisi lain, menjadi produktif membutuhkan usaha, disiplin, dan fokus. Mungkin sulit untuk memulai tugas, terutama jika tugas itu rumit atau membosankan. Selain itu, kita mungkin tidak selalu merasa termotivasi untuk bekerja, sehingga sulit untuk tetap berada di jalur yang benar. Namun, ada strategi yang dapat membantu kita menjadi lebih produktif, seperti memecah tugas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, menetapkan tujuan dan tenggat waktu tertentu, dan meminimalkan gangguan. Penting untuk disadari bahwa menjadi produktif adalah keterampilan yang dapat dikembangkan dengan latihan dan ketekunan.

Einstein bilang, semakin lambat Anda bergerak semakin cepat waktu berlalu. Sebaliknya, semakin cepat Anda bergerak semakin lambat waktu berlalu.

Sementara itu, hukum kelembaman menyatakan bahwa suatu benda yang diam akan lebih sulit digerakkan dibandingkan benda yang telah bergerak.

Di dalam konteks pertanyaan ini,

Sekali terjebak dalam keadaan tidak produktif maka akan sulit untuk menggerakkannya sementara itu waktu terasa bergerak semakin cepat.

Ketika telah berada dalam fase produktif maka akan mudah untuk meningkatkannya dan waktu akan terasa melambat.

Jadi sebenarnya bukan membuang waktu, tapi membuat waktu berlalu dengan cepat itu tak butuh energi, sementara membuat waktu terasa lambat dan berarti itu membutuhkan banyak energi.

Nahh… kita nggak mau mengeluarkan energi awal ini.

Budaya di Indonesia, energi besar untuk melompat dari keadaan diam ini ini diperoleh dari kondisi yang tidak menguntungkan alias ilmu kepepet.

Exit mobile version