Site icon Baladena.ID

Mengapa Ada Lailatul Qadar?

Misteri Lailatul Qadar

Jumat kali ini bertepatan dengan tanggal ganjil, yakni 27 Ramadhan. Di tanggal-tanggal ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagian umat Islam menyengaja untuk bersungguh-sungguh dalam bermunajat kepada Allah, agar bertemu dengan Lailatul Qadar. Karena keutamaannya yang luar biasa. Berkenaan dengan itu, Hikmah Jumat kali ini akan membincang tentang sebagian hikmah di balik Lailatul Qadar untuk umat Islam.

Lailatul Qadar adalah malam dimana al-Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfudz ke Langit Dunia secara keseluruhan atau glondhongan yang keutamaan malam tersebut melebihi 1000 bulan. Ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Qadr [97]: 1-5. Ibn Katsir menukil salah satu versi riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini. Yakni ada seorang Yahudi yang tekun beribadah hingga akhir hayatnya, malam ia bermunajat siang berjihad. Itu dilakukan selama seribu bulan hingga akhir hayatnya, dan itu membuat ta’jub kaum muslimin. Lalu turunlah QS. al-Qadr [97]: 1-5, ini. Berikut kutipan salah satu versi riwayatnya.

عن مجاهد قال : كان في بني إسرائيل رجل يقوم الليل حتى يصبح ، ثم يجاهد العدو بالنهار حتى يمسي ، ففعل ذلك ألف شهر ، فأنزل الله هذه الآية ليلة القدر خير من ألف شهر قيام تلك الليلة خير من عمل ذلك الرجل .

Dari Mujahid berkata: Adalah seorang lelaki Bani Israil yang malam harinya melakukan qiyamul lail sampai pagi, dan siang harinya ia berjihad sampai ajal menjemput. Hal itu ia lakukan selama seribu bulan. Lalu Allah menurunkan ayat ini. Qiyamu Lail pada malam tersebut lebih baik dari amal shaleh yang dilakukan oleh lelaki tadi itu.

Ini menunjukkan betapa rahmat Allah yang teramat besar bagi umatnya Kanjeng Nabi Muhammad. Mengingat memang umat ini didesain dengan postur yang kecil-kecil, umurnya juga tidak panjang. Karena itu tentu tidak bisa menyamai amal kaum terdahulu jika tidak ada bonus-bonus demikian itu. Karena desain yang demikian itu, bahkan Nabi Musa pun pernah mengingatkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad, untuk bernego tentang kewajiban shalat dari 50 sampai menjadi 5. Alasannya ya, karena umatnya Kanjeng Nabi Muhammad itu kecil-kecil, wong kaumnya Nabi Musa yang besar-besar dan gagah saja tidak kuat kok, apalagi yang kecil-kecil. Ini apa semacam ada kebanggaan atas suku ya kira-kira?

Lalu, misteri tentang kapan tepatnya diturunkannya Lailatul Qadar yang tidak pernah djelaskan secara eksplisit, ternyata juga mengandung hikmah yang teramat besar. Pertama dengan dirahasiakannya tanggal terjadinya Lailatul Qadar ini justru akan memotivasi umatnya Kanjeng Nabi untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menemukannya, sehingga akan mendapatkan keutamaan keseluruhan Ramadhan. Ini sebagaimana hikmah yang terkandung dalam hal-hal lainnya yang dirahasiakan oleh Allah, sebagaimana dikutip dalam buku Lailat al-Qadr, Ma’naha, Waqtuha, ad-Du’a fiha, menjelaskan sebagai berikut.

أخفاها سبحانه كما أخفى سائر الأشياء فإنه أخفى رضاه في الطاعات حتى يرغبوا فى الكل وأخفى غضبه فى المعاصى ليحترزوا عن الكل. وأخفى وليه فيما بينا الناس حتى يعظموا الكل. وأخفى الإجابة في الدعاء ليبالغوا في كل الدعوات. وأخفى الإسم الأعظم ليعظموا كل الأسماء. وأخفى الصلاة الوسطى ليحافطوا على الكل. وأخفى قبول التوبة ليواظب المكلف علي جميع أقسام التوبة. وأخفى وقت الموت ليخاف المكلف. فكذا أخفى هذه الليلة ليعظموا جميع ليالى رمضان.

Allah swt. merahasiakannya (Lailatul Qadar) seperti Dia merahasiakan hal-hal lain. Bahwa Allah merahasiakan keridhaan atas ketaatan itu agar manusia mencintai segala ketaatan. Allah merahasiakan amarah atas kemaksiatan agar manusia bisa menjaga diri dari segala kemaksiatan. Dia merasahasiakan Wali-Nya diantara manusia agar mereka berta’dzim kepada semua orang. Dia merahasiakan ijabahnya doa agar manusia menyangatkan doa dalam semua doa yang dipanjatkan. Dia merahasiakan Asma al-A’dham agar mereka mengagungkan Asma Allah semuanya. Dia merahasiakan Shalat Wustha, agar mereka menjaga semua shalat. Dia merahasiakan diterimanya taubat agar seseorang rajin dalam segala jenis pertaubatan. Dia merahasiakan waktu kematian agar seseorang agar selalu waspada. Demikian pula Dia merahasiakan Lailatul Qadar agar mereka mengagungkan keseluruhan malam Ramadhan.

Kedua dirahasiakannya Lailatul Qadar ini agar tidak terjadi pelipatan sanksi kepada pelaku dosa. Ada sebagian manusia yang tidak bisa menahan diri dari dosa, jika dosa yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar sementara itu ia tahu bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, maka bobot dosanya akan dilipatkan. Berbeda jika ia tidak mengetahui kapan Lailatul Qadar itu teradi. Inilah rahmat Allah lainnya kepada umat Islam di balik Lailatul Qadar ini. Berikut lanjutan kutipannya.

كأنه تعالى يقول لو عينت ليلة القدر وأنا عالم بتجاسركم على المعصية فربما دعتك الشهوة في تلك الليلة إلي المعصية فوقعت في الذنب فكانت معصيتك مع علمك أشد من معصيتك مع لا علمك فلهذا السبب أخفيتها عليك.

Seakan-akan Allah Ta’ala berfirman jika Aku eksplisitkan Lailatul Qadar itu, sementara itu Aku mengetahui akan kenekatan kalian dalam melakukan maksiat, maka manakala kekuatan syahwat menggodamu untuk bermaksiat pada saat Lailatul Qadar itu, mandanganu kamu jatuh pada perilaku dosa maka maksiat yang kamu lakukan dengan pengetahuan kamu atas Lailatul Qadar, itu bobot kemaksiatannya lebih berat dibanding jika kamu tidak mengetahui bahwa saat itu adalah Lailatul Qadar.

Ini seperti cintanya Rasulullah kepada umatnya. Suatu ketika, ada seseorang tidur di masjid kemudian beliau meminta kepada Sayyidina Ali untuk membangunkannya agar mengambil wudhu. Lalu, Sayyidina Ali bertanya, kenapa kok bukan penjenengan saja yang membangunkan. Lalu Rasulullah menjawab, jika menolak perintah saya itu implikasinya dia bisa menjadi kufur. Tapi beda halnya jika ia menolak kamu. Begitulah kira-kira. Maka untuk yang berhubungan dengan Kanjeng Nabi, jangan sekali-kali berani main-main, guyonan atau lainnya kecuali tidak takut kuwalat. Berikut kutipan riwayat yang ditermaktub dalam buku yang telah disebut di atas.

وروي أنه عليه السلام دخل المسجد فرأى نائما فقال يا على نبهه ليتوضأ فأيقظه على ثم قال على: يا رسول الله إنك سباق إلي الخيرات فلم لم تنبهه؟ قال لأن رده عليك ليس بكفر ففعلت ذلك لتخف جنايته لو أبى.

Diriwayatkan bahwasannya Kanjeng Nabi suatu ketika masuk ke dalam masjid, beliau melihat ada orang tidur. Mandanganu beliau bersabda: Wahai Ali, tolong dia itu diingatkan untuk berwudhu. Lalu Sayyidina Ali membangunkannya, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah Enkau tidak mengingatkannya sendiri, padahal Engkau adalah seutama-utama dalam hal kebaikan? Beliau bersabda: Karena penolakannya terhadap dirimu tidak menjadikannya kafir. Aku melakukan itu untuk meringankan kejelekannya jika seandainya ia menolak.

Demikian Hikmah Jum’at kali ini semoga dengannya Allah memberikan manfaat, dan Allah senantiasa berkenan memberikan pertolongan hingga selesainya Ramadhan kali ini. Aamiin. Billaahi fii sabiilil haq.

Exit mobile version