“Sesat”, begitulah tanggapan kebanyakan orang jika ditanya, apa itu filsafat? Pemikiran seperti ini perlu diluruskan. Hakikatnya filsafat itu tidak menyesatkan, yang membuat sesat itu berawal dari pemikiran orang itu sendiri yang belum cukup bekal dalam berfilsafat. Yaitu orang yang belum terbiasa mengonsumsi rutinitas berfilsafat.
Dalam berfilsafat, seseorang harus memiliki keberanian yang besar. Tidak ada kata “ragu” dalam berfilsafat. Jika ada orang yang berfilsafat, tapi niatnya hanya setengah-setengah maka pasti tidak akan sampai tujuan apa yang difilsafati. Seseorang yang berfilsafat itu diibaratkan seperti orang yang mengarungi kedalaman lautan filsafat. Sedangkan seseorang yang ragu-ragu bisa dikatakan kalau ia belum terlalu dalam menyelami lautan, ia bagaikan baru menapaki kaki di bibir pantai dan jika diibaratkan makan buah ia baru merasakan kulitnya belum sampai daging buahnya.
Ddalam filsafat tak pernah lepas dari jeratan kata “rumit”. Kita bisa lihat dari hasil gagasan-gasan filsafat oleh para filsuf yang tertuang dalam buku-bukunya. Ketika pertama kali membaca buku filsafat tidak semua orang bisa langsung memahaminya. Toh, kalau sudah memahamipun belum tentu selaras dengan pemikiran tokoh. Bisa jadi menyeleweng jauh dan memunculkan pemahaman baru, itulah yang menyebabkan awal mula kesesatan. Kenapa demikian? Hal yang demkian ini, dilatarbelakangi karena bahasa yang digunakan dalam filsafat itu terlalu melangit.
Menurut kacamata penulis, kerumitan dalam berfilsafat itu dilatarbelakangi oleh cara penyampain gagasan orang yang berfilsafat. Padahal sebenarnya gagasan filsafatnya sudah benar, hanya saja yang membuat rumit itu adalah bahasanya.
Filsafat adalah wadah untuk orang-orang yang gemar memperumit kemudahan. Orang yang berfilsafat itu identik dengan kata rumit. Sesuatu yang sepele aja diperumit. Misal, kita ambil sampel objek kursi, mulai dari siapa pembuatnya, berasal dari apa dan fungsinya apa, dipertanyakan semua dan dibahas detail sampai ke pangkal akarnya dan sudah tidak tidak bisa lagi dibahas.
Meskipun demikian, yang perlu kita ketahui filsafat itu tak selamanya rumit. Jika kita rutin mengonsumsi segala kerumitan, maka kenikmatan akan kita tuai. Hal ini bisa kita lakukan dengan membaca dan memahami berbagai pemikiran filsuf dalam buku-bukunya. Jika kita sudah paham, maka rasa empati terhadap filsuf lama-kelamaan akan muncul dan kecanduan akan filsafat muncul dalam diri kita.
Filsafat itu mikir. Kebanyakan orang itu malas mikir dan menyukai semua yang serba instan dan praktis. Jika cara pemikiran seseorang terhadap sesuatu tidak sampai hakikatnya, maka yang akan terjadi adalah salah pemahaman, itulah yang menyebakan seseorang sesat.
Seorang pelajar sejati tidak akan mengatakan filsafat itu sesat. Kenapa? Karena jikalau ia mengatakan filsafat itu sesat, maka untuk membuktikan kebenarannya ia harus berfilsafat. Dengan membuktikan kebenaran apakah filsafat itu sesat atau tidak, menjadikan kita dituntut untuk berargumen menyusun berbagai alasan. Nah, yang perlu diketahui menyusun argumen itu sebenarnya membuktikan kalau kita berusaha berpikir untuk menyesatkan filsafat.
Sekarang ini, yang menjadi problem adalah pemahaman seseorang yang belum mampu membedakan antara filsafat sebagai ilmu atau filsafat sebagai hasil pemikiran. Keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Pertama, filsafat sebagai ilmu itu membawa dampak postif. Dengan memahami filsafat sebagai sebuah ilmu, membuat manusia menjadi termotivasi untuk berpikir dengan benar untuk mencari kebenaran dan mencintai kebijaksanaan. Dengan begitu, manusia diharapkan bisa memeroleh kebahagiaan.
Kedua, filsafat sebagai hasil pemikiran. Hakikatnya gagasan-gagasan dalam filsafat itu tidak ada yang menyimpang. Yang seringkali menjadikan penyimpangan dalam filsafat itu berawal dari kesalahan subjek dalam menggunakan gagasan-gagasan filsafat.
Pada dasarnya, filsafat itu hanyalah alat. Jika kita mampu menggunakannya dengan baik, maka akan membawa kita menjadi orang yang baik. Kita bisa menjadi orang saleh dan beriman. Namun sebaluknya, jika kita salah dalam menggunakan alat itu, maka filsafat bisa menjadikan kita sesat sehingga menginkari keberadaan Tuhan. Jangan ragu-ragu dalam berfilsafat dan berfilsafatlah dengan benar. Wallahua’lam bi al-shawwab.
Oleh: Uswatun Khasanah, Mahasiswi Akidah dan Filsafat Islam, Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang

