Site icon Baladena.ID

Menarik, Dosen AIK Unismuh Tutup Perkuliahaan dengan Seminar Study Ilmu Falak

Baladena.id, MAKASSAR – Dosen Al-Islam Kemuhammadiyaan Universitas Muhammadiyah (AIK UNISMUH) Makassar menutup perkuliahan dengan Seminar Ilmu Falak, Jumat (9/7). Kegiatan yang lain daripada biasanya ini, diinisiasikan oleh Dosen AIK Unismuh Dr. Dahlan Lama Bawa M.Ag dengan mengumpulkan 10 kelas mahasiswa mata kuliah AIK yang diampuhnya untuk mengikuti seminar study sebagai prasyarat dalam melaksanakan final test.

Dr. Dahlan Lama Bawa menuturkan bahwa keberadaan Muhammadiyah merupakan sebuah tuntutan zaman dengan latar belakang teologis, sosiologis, dan politis bangsa Indonesia pada waktu itu. Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan tinggi berkewajiban mengemban amanah dakwah perserikatan muhammadiyah.

“Muhammadiyah dikenal dengan gerakan tajdidnya. Pada awal kedatangannya, Muhammadiyah melakukan sebuah gerakan revolusioner dengan prinsip yang kokoh terhadap pengamalan keislaman. Pengamalan tersebut harus berdasarkan ilmu dan sebuah ilmu mesti diamalkan,” ucapnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 300 mahasiswa melalui Daring ZOOM meeting dengan tema “Ilmu Falak dan Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah”. Adapun pemateri yang didatangkan ada Ahli Falak Unismuh Mursyid Fikri, S.Pd.I., MH penerbit dua buku modul pembelajaran Falak dengan judul; Modul Pembelajaran Ilmu Falak dan Problematika Penentuan Awal Bulan Qomariah dan Peristiwa Gerhana.

Saat memberikan materi, Mursyid menyampaikan bahwa Muhammadiyah pada abad pertamanya mempelopori gerakan pembaharuan pada delapan aspek. Aspek-aspek tersebut berupa akurasi arah kiblat, jadwal waktu shalat sepanjang masa, kalender Islam, haji dan umrah, gerakan pendidikan, gerakan PKU, amil zakat, dan panti asuhan.

Setelah itu, Mursyid pun melanjutkan memfokuskan penjelasannya terhadap perkembangan ilmu falak di Indonesia. Penulis Modul Pembelajaran Ilmu Falak ini mengingatkan bahwa di Indonesia, orang yang pertama kali mempelopori pengamalan ilmu falak adalah Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan.

“KH. Ahmad Dahlan merupakan pelopor ilmu Falak di Indonesia. Beliaulah yang meluruskan kiblat masjid Agung Jogjakarta, waktu itu sempat melenceng hingga 24°,”ucapnya.

Sebagai motivasi, Mursyid berpesan kepada mahasiswa dan Kader Muhammadiyah agar senantiasa mempelopori dan mencerdaskan masyarakat sebagaimana ruh Muhammadiyah yang bergerak berdasarkan ijtihad ilmu pengetahuan yang jelas. Alumni Ilmu Falak Pascasarjana UIN Walisongo Semarang ini menegaskan bahwa Kader Muhammadiyah harus melanjutkan semangat K.H Ahmad Dahlan dalam meluruskan arah qiblat.

“Muhammadiyah bergerak atas ijtihad ilmu pengetahuan yang jelas. Untuk itu, kita harus harus teliti. Kemelencengan  1° saja, bisa melenceng sampai 111 Km dari ka’bah,” tutur penulis buku Problematika Penentuan Awal Bulan Qomariah dan Peristiwa Gerhana tersebut.

Exit mobile version