Menyusuri Blora, udara panas memang. Pohon jati berjajar berdampingan dengan sawah yang membentang. Hijau segar, ramai burung yang berkicauan. Tak khayal, sawah menjadi ikon keindahan daerah ini. Maka bisa ditebak, petani adalah mayoritas profesi penduduknya.
Memasuki musim tanam padi seperti ini, tampak khas petani berkubang lumpur membungkukkan badan menanam padi. Bagi masyarakat Blora, menanam padi bukan sekadar aktivitas menanam, melainkan sakral bagi kehidupan. Salah satu perilaku yang menjelaskan kesakralannya adalah ritual kawit, semacam silaturahmi antara penduduk dengan ibu bumi.
Ritual Tanam Padi
Kawit merupakan salah satu bentuk tradisi Hindu Jawa yang masih lestari di daerah Blora. Kawit [krama-ngoko] memiliki arti awal atau mulai. Jadi tradisi ini dapat diartikan sebagai ritual memulai menanam padi. Sepanjang ingatan para tetua desa, tradisi ini telah berlangsung lama, dilakukan oleh petani khususnya pemilik sawah setiap kali ingin menanam padi. Kawit dimaksudkan untuk meminta keselamatan dari wabah penyakit, kesuburan dan kelimpahan hasil panen kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Mengingat kawit ini adalah ritual yang sakral, maka dalam prosesi pelaksanaannya pun ada syarat-syarat tertentu yang diberlakukan. Seperti sajen yang dihidangkan, peletakan sajen dan hari pelaksanaan –ritual berlanjut penanaman padi- terikat dengan aturan. Sajen yang dipakai dalam ritual tanam padi ini tidak sembarang sajen. Ini haruslah sesuai dengan permintaan leluhur sawah. Oleh sebab akulturasi Islam, leluhur sawah merupakan perumpamaan rasa hormat dan cinta kepada bumi yang memberi kehidupan tanam. Seperti cerita rakyat dewi pertanian, Dewi Sri.
Sajen dalam ritual kawit dinamakan cok bakal, terdiri dari kembang setaman, terong, rempah (bawang merah, bawang putih, cabai), cikalan (kelapa irisan), nasi putih, rokok dan uang logam yang dijadikan satu ke dalam wadah takir –terbuat dari daun pisang, membentuk segi empat serta kedua sisinya ditusuk dengan sada/biting-. Sedangkan untuk sawah yang dianggap keramat, maka cok bakal tersebut dilengkapi dengan ingkung. Apabila sesajen itu kurang pepak (lengkap) artinya tidak sesuai permintaan leluhur, diyakini mengakibatkan kegagalan panen (pageblug) atau hal lain yang tidak diinginkan.
Ucapan sesepuh desa yang banyak dipercaya masyarakat Blora seperti diungkapkan oleh Mbah Sam (70) dari desa Ngawen, “biyen pernah tonggone mbah anggone sesajen kurang pepak, eh ndelalah durung tekan omah kok kecelakaan lan mripate ilang siji” (dulu ada tetangganya mbah kurang lengkap dalam menyiapkan sesaji, kok sebelum sampai rumah kecelakaan dan matanya hilang satu).
Beralih dari tuah sajen. Setiap cok bakal dibawa oleh pemilik sawah untuk diletakkan di sebelah pojok kanan sawah -sudut dimana pertama kalinya padi akan ditanam di petak tersebut- untuk dibacakan doa bersama. Terkait ini, para petani juga menyakini tentang petungan (hitungan) Jawa untuk menentukan hari baik saat akan meletakkan cok bakal untuk menanam padi.
Ritual permohonan keberkahan tanam semacam ini juga dilakukan oleh beberapa daerah seperti, ritual Weri Mata Nii oleh warga Flores, Kenduri Jamu Sawah oleh warga Serdang Bedagai, Nyobeng oleh Suku Dayak, dan masih banyak lagi.
Pada akhirnya ritual yang mengundang banyak kontroversi keyakinan beragama merupakan warisan agung budaya Indonesia yang lekat pada kehidupan masyarakat di banyak daerah. Menanam padi merupakan langkah awal melanjutkan kehidupan, menjadi bagian penting dari adanya bangsa.
Sebagai bangsa yang berbudaya, masyarakatnya sudah patut memaknai setiap pekerjaannya. Demikianlah ritual kawit merupakan salah satu cara petani memaknai pekerjaannya, berupa menanam padi sebagai wujud bakti pada bumi dan negeri.

