Site icon Baladena.ID

Menakar Efektivitas Islah dalam Pusaran Konflik PBNU

Siapapun orangnya yang berada dalam pusaran konflik PBNU seperti sekarang ini pasti tidak mudah. Ada banyak faktor penyebabnya, dua di antaranya selain begitu kentalnya ewuh-pakewuh dan anggah-ungguh, konflik ini merupakan akumulasi gumpalan masalah yang selama ini menjangkiti internal PBNU.. Sebagai salah seorang warga Nahdliyin, saya tentu saja menikmatinya, sebagai bagian dari pembelajaran diri dalam berorganisasi, sebagai evaluasi integritas dari rekam jejak para Kiai NU dan sebagai tolok ukur kemajuan bangsa ini.

Sehingga harapan dan do’a untuk islah dari warga Nahdliyin di seantero negeri atas konflik PBNU ini seperti masih sebatas bayang-bayang dan kosong makna. Sebab, kesepakatan hasil dari pertemuan di Lirboyo berkenaan dengan percepatan Muktamar ke 35 hampir dapat dipastikan tidak akan bisa menyelesaikan konflik yang kadung rumit ini. Entah solusi apa yang tepat untuk konflik PBNU ini, yang jelas kalau pun Muktamar dipercepat, ia hanya akan menjadi ring baru tetapi untuk tetap mempertarungkan konflik yang sama di babak berikutnya.

Sosok KH. Imam Jazuli misalnya ia memang sedari awal menjadi salah satu pelopor kritik pedas terhadap PBNU. Dengan segala kekuatan dan pengaruhnya, Kiai Imam menyeruak di mana-mana. Ia mendapat dukungan seperti ia mendapatkan caci-maki yang juga tak kurang-kurang. Ia jelas sedang bermanuver atas namanya sendiri dan sekurang-kurangnya atas nama PKB. Kita tahu dalam era kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, PKB betul-betul disepelekan. Gus Yahya malah secara terang-terangan menabuh genderang perang. Saya pikir, faktor inilah yang paling membuat Kiai Imam murka terhadap Gus Yahya.

Saya sendiri sebetulnya dalam posisi mengkritik Gus Yahya sekaligus KH. Miftachul Akhyar (Kiai Miftach), hanya saja dalam konteks konfik ini, Gus Yahya berada dalam banyak masalah yang relatif lebih gawat ketimbang Kiai Miftach. Telah saya catat lebih dari 14 poin rapor merah PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya. Saya dengan Kiai Imam mungkin dalam posisi yang kelihatan sepintas sama dalam rangka mengkritik Gus Yahya, tetapi saya tidak dalam posisi sedang dalam kepentingan politik seperti Kiai Imam yang begitu ambisius terhadap PKB.

Kiai Imam memang sosok pemberani, pemodal yang kaya raya, keturunan Kiai, pengasuh Pesantren besar, secara akademik juga bisa dibuktikan karena ia lulusan Pesantren Lirboyo sekaligus Perguruan Tinggi luar negeri ternama Universitas Al-Azhar, andai saja Kiai Imam itu salah satu putra dari KH. Wahid Hasyim (seperti Gus Dur), ia mungkin akan lebih banyak mendapatkan pendukung fanatik sebagaimana dulu Gus Dur. Meskipun saya banyak berbeda pendapat dengan Kiai Imam, tetapi soal uji nyali keberanian, saya setuju bahwa ia sulit ditandingi.

Oleh karena itu, harapan dan do’a terkait islah, masih mengundang sejuta tanda tanya. Sebab saya meyakini, kesepakatan yang dibuat pada pertemuan para Kiai sepuh di Lirboyo lebih cenderung merupakan karena efek desakan pro kontra publik yang begitu dahsyat, selain juga karena begitu kentalnya ewuh-pakewuh dan anggah-ungguh dalam budaya berorganisasi di NU dan Pesantren. Keakraban dalam bentuk cium tangan antar Kiai dan anggah-ungguh semacamnya terlihat seperti kamuflase belaka.

Bagaimana mungkin bisa islah kalau konflik PBNU ini masih menyisakan kubu-kubu. Rais Aam tetap dengan Pj Ketua Umum, demikian Ketua Umum bukan dengan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan seterusnya. Sehingga yang tampak di permukaan ini sama sekali masih jauh dari gambaran ruwetnya konflik di internal PBNU. Bahkan apabila kemungkinan Gus Yahya dan Rais Aam “dilarang” ikut dalam kontestasi Muktamar yang akan datang, calon-calon pimpinan PBNU yang dianggap baru sudah bisa dipastikan akan tetap merupakan representasi dari dua kubu yang berseteru.

Lalu endingnya nanti bagaimana? Wallahu a’lam, saya yakin para elit PBNU yang tengah berseteru pun dibuat bingung dengan konflik ini. Sebab sampai hari ini, belum ada tanda-tanda dari salah satu dari dua kubu tersebut yang akan mengalah. Kalau saja Gus Yahya sejak awal memilih mundur, anggap saja Gus Yahya berada dalam posisi yang benar secara konstitusional AD/ART dan Perkumpulan PBNU, konflik yang kadung menjadi “bubur” ini tidak akan ruwet seperti sekarang ini. Alih-alih fokus pada pelayanan dan pemberdayaan umat, yang terjadi malah terjebak pada keruwetan konflik internal.

Wallahu a’lam

Oleh: Mamang M Haerudin (Aa) Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah, 27 Desember 2025.

Exit mobile version