Terlahir di negeri tempat berkumpulnya berbagai keanekaragaman merupakan sebuah anugerah.
Tak hanya keanekaragaman pada sumber daya alam, namun juga keanekaragaman tersebut membangun masyarakat heterogen yang terpisah dari eksklusivitas.
Mereka membentuk dinamika tersendiri yang unik, bersatu di bawah identitas nasional.
Melalui keberagaman, manusia menantang sifat nalurinya sebagai makhluk individual untuk dapat membangun komunitas yang harmonis ditengah perbedaan.
Namun, tak serta merta hal tersebut mudah dilakukan, perbedaan acap kali menjadi sumbu bagi lahirnya permusuhan.
Manusia yang tak menyukai keterbukaan lantang menolak hal yang tidak sependapat dengannya. Begitulah bentuk egois dari manusia. Selalu merasa dirinya paing benar sendiri.
Mengingat adanya enam agama yang diakui secara resmi di Indonesia, agama menjelma menjadi arena bagi kaum fanatic berlaga. Perilaku intoleransi nyatanya menjadi pertunjukkan yang lazim.
Seperti perilaku intoleransi yang terjadi baru- baru ini, sekelompok pemuda membubarkan dan merusak tempat peribadatan para jemaat Kristen di Padang.
Belum diketahui secara pasti motif para pemuda untuk membubarkan umat Kristen melakukan peribadatan pada hari itu.
Namun, yang pasti perilaku tersebut menunjukkan pembatasan dalam sebuah negara yang konon menganut demokrasi.
Tak dapat dipungkiri, konflik antar umat beragama di Indonesia sering terjadi tak hanya pada masyarakat awam.
Intoleransi agama juga kerap terjadi di kalangan kaum religius bahkan menular pada anak-anak. Jeratan fanatisme pada anak-anak meski tak dengan sengaja dilakukan, namun tetap memiliki dampak yang signifikan.
Bagi anak-anak, paparan fanatisme oleh lingkungan mereka diasuh merupakan bentuk ketidakadilan. Anak-anak tidak dibiarkan menikmati kebebasan berpikir.
Mengadopsi mentah-mentah budaya serta perilaku tempat mereka diasuh. Didukung pula dengan lingkungan yang tidak memberinya ruang untuk berdialektika.
Pola pendidikan dengan menggunakan sistem bank seperti yang dikritik oleh Paulo Freire, dapat berujung pada pembatasan kemandirian berpikir anak untuk menentukan baik buruk bagi mereka sendiri.
Anak-anak dalam sistem pendidikan banking ini akan terjebak dalam pla pikir yang tertutup, menola pandangan asing.
Selain merusak fitrah seorang manusia yang merupakan makhluk mandiri berpikir, pola asuh semacam itu tidak mendorong seorang anak untuk membentuk sebuah komunitas yang harmonis.
Anak menjadi semakin sulit menempatkan diri dalam sebuah perbedaan. Sikap moderat sebagai modal utama persatuan pun sukar terealisasi.
Kita patut mempertanyakan lagi masa depan generasi emas 2045 apabila anak-anak terjebak dalam pandangan ekstrem.
Bagi suatu peradaban yang beragam, pandangan ekstrem ini berpotensi memecah belah kesatuan sebuah bangsa.
Indonesia gemilang hanya dapat diraih dengan menghantarkan anak berkarakter inklusif.
Indonesia terbangun bukan atas persamaan, namun terlahir atas perbedaan yang bernaung dalam demokratis, saling menghargai perbedaan mesti dimulai sejak dini.
Hal tersebut dapat dilatih dalam lingkup terdekat seperti rumah, persekolahan dan masyarakat.
Dalam model pendidikan pembebasan yang dipopulerkan oleh Paulo Freire, menawarkan sebuah metode pendidikan progresif melalui dialektik.
Metode ini menghindari pentransferan pengetahuan secara pasif dengan mendorong terjadinya proses dialog pada anak.
Pada anak-anak yang biasanya memiliki kecenderungan untuk bertanya, metode dialektis ini dapat menjadi fasilitas untuk memperoleh pengetahuan yang lebih inklusif menghadapi perbedaan.
Dalam program sosialisasi moderasi beragama di Desa Sendangdawung, Mahasiswa KKN Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang Posko 63, menggunakan metode dialektis selama proses sosialisasi dengan anak-anak kelas 5 dan 6.
Anak- anak diajak untuk menangguhkan segala bentuk kemapanan pengetahuan yang ia miliki saat ini. Proses pembelajaran dimulai dengan pendefinisian agama, seingga anak-anak dapat menempatkan landasan berpikirnya.
Pendefinisian ini membuka cara pandang anak bahwa agama yang mereka anut bukanlah satu-satunya ajaran dan pedoman hidup bagi manusia.
Terdapat ajaran-ajaran lain yang sama-sama memiliki tujuan bagi kemaslahatan.
Sehingga bersikap extreme melihat ajaran yang dianutnya sebagai pandangan yang paling benar merupakan bentuk sikap yang egois.
Proses dialektis-dialektis yang berkembang selanjutnya, mengikuti aur keraguan dan rasa penasaran yang muncul pada setiap anak. Jawaban tidak terberi secara pasif, namun melalui proses negosiasi yang ketat.
Dengan mempraktikkan metoe dialektis tersebut serta menyusuri pemaknaan melalui pembedahan akar kata secara ketat anak-anak diharapkan mampu memiliki keterbukaan.
Dengan begitu, generasi emas 2045 pun dapat terwujud melalui keharmonisan yang tercipta antar individu yang kemudian dapat ditularkan pada umat.
[Divisi Pendidikan dan Keagamaan] KKN Moderasi Beragama ke-20 UIN Walisongo Posko 63, Ds. Sendangdawung, Kec. Kangkung. Kab. Kendal

