Orang yang pernah tidak hanya sekali masuk lingkungan Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau dikenal dengan Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, pasti akan merasakan perbedaan. Secara sekilas saja, terlihat perubahan di berbagai titik. Tahun pertama hanya ada dua rumah segitiga dari bambu yang disusun bolak balik dan dua asrama untuk para santri dan pengajar. Ada banyak gazebo dari bambu berbentu segi empat dan dari kayu berbentuk bundar yang didesain mirip rumah honay. Tahun kedua berdiri rumah kayu kuno di antara dua asrama, ditambah dengan lima rumah kapsul dari gorong-gorong raksasa berdimater 2 meter. Lalu ditambah lagi rumah kayu kuno yang di halaman depannya diletakkan perahu kayu berukuran lumayan besar. Masuk tahun ketiga, rumah kapsul sudah menjadi tujuh belas buah. Gedung lima lokal dengan dinding kaca di bagian depan membuatnya seperti akuarium raksasa. Karena santri makin banyak, puluhan kamar mandi dan toilet pun dibangun. Dan bersamaan itu pula rumah-rumah kayu dengan dinding kepang berukuran 5×7 m2 pun dibuat dan kini berjumlah tujuh buah. Kini juga sudah berjajar gazebo dari kayu jati di kawasan sekiling replica ka’bah di sebelah timur kawasan awalnya.
Namun, fasilitas itu selalu tidak cukup karena jumlah santri juga terus meningkat. Karena itu, pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. terus melakukan penambahan tempat tinggal para santri-murid. Bahkan kini yang menjadi fokus garapannya adalah mewujudkan mimpinya membangun 50 rumah untuk ustadz/ah Planet NUFO. Rumah perdana sudah dalam proses pengerjaan.
Karena proyek yang terus berkelanjutan itu, bisa dikatakan bahwa para pekerja atau tukang yang mengerjakan fasilitas di Planet NUFO tak pernah berhenti. Satu proyek hampir selesai, proyek berikutnya sudah menunggu. Apa yang sesungguhnya memotivasi dosen ilmu politik di FISIP UMJ, Jakarta itu hingga membuat para pekerja di Planet NUFO merasakan rasa senang karena tidak pernah kehilangan pekerjaan? Berikut ini wawancara baladena.id dengan suami dr. Oky Rahma Prihandani, Sp.A., M.Si. Med. dan ayah dari lima anak bernama depan Atana dan Atena yang juga Guru Utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang.
Baladena: “Saya lihat, pemandangan di Planet NUFO selalu berubah ya, Bah?”
Abana: “Kalau kita tidak berubah, berarti kita sudah mati. Kata paling lunak adalah stagnasi. Ciri makhluk hidup itu kan selalu berubah. Harus bergerak dinamis.”
Baladena: “Iya. Tapi sepertinya lari terus ini.”
Abana: “Kelihatan begitu ya? Pokoknya dengan segenap daya upaya. Berusaha keras dan terus berdoa kepada Allah, agar Allah menguatkan dan menyukupkan. Sebab, kebutuhannya memang mendesak. Kalau kita tidak bergerak dinamis, justru akan jatuh. Seperti orang naik sepeda dan motor. Kan harus bergerak, agar tetap bisa berdiri.”
Baladena: “Memangnya jumlah penghuni terus bertambah ya, Bah? Kan mestinya ada sirkulasi. Ada yang masuk dan ada yang keluar. Dan karena itu, jumlahnya jika bertambah pun tidak signifikan mestinya.”
Abana: “Jumlahnya terus bertambah. Sebab, kalau tiga tahun pertama kami hanya fokus di level SMP. Mulai tahun lalu, sebagian anak-anak yang lulus SMP tidak keluar dari Planet NUFO, karena mereka sekolah di SMA Negeri terdekat dari sini. Setelah melihat dinamika mereka, kami memutuskan pada tahun ajaran baru nanti akan membuka PKBM. Kami sudah bekerjasama dengan PKBM Generasi Juara. Tujuannya simple saja, agar anak-anak tidak usah keluar dari lingkungan NUFO. Dengan begitu, mereka tetap berada dalam kendali yang diperlukan. Anak-anak juga memiliki banyak waktu untuk menghafalkan al-Qur’an. Saya ingin agar mereka nanti bisa kuliah di perguruan tinggi excellent di jurusan-jurusan yang membuat mereka punya profesi atau menunjang usaha yang mereka telah rintis. Saya sudah menjalin komunikasi dengan senior saya yang saat ini dekan Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, karena dia punya program rekrutmen mahasiswa melalui jalur tahfidh al-Qur’an. Ini kesempatan bagus. Soal jumlah mahasiswa tadi, di samping itu, ada program tahfidh 10 bulan yang biasanya adalah lulusan SMU yang juga sambil kuliah. Mereka lulusan SMU dari banyak daerah di seluruh penjuru nusantara. Ada yang kuliah di Universitas Terbuka, ada juga yang kuliah di UICI. UICI ini kan universitas digital pertama di Indonesia. Karena itu, mereka bisa kuliah dari mana saja termasuk dari Planet NUFO. Karena itulah, fasilitas untuk para santri-murid, terutama tempat tinggal mereka dan juga para guru, ustadz/ah juga harus ditambah. Sebab, jumlahnya bertambah terus.”
Baladena: “Fasilitas selain itu apa yang diprioritaskan?”
Abana: “Saya lebih banyak mengarah kepada sarana untuk anak-anak bisa membangkitkan semangat wirausaha dan kepemimpinan. Kalau soal keilmuan umumnya, sudah banyak yang memikirkan dan mengerjakan. Nah, soal usaha dan kepemimpinan ini saya berusaha agar bisa terintegrasi. Maka usaha utama di sini adalah budidaya domba/kambing. Sebab, di dalam kambing di samping terdapat berkah, juga terdapat berbagai pelajaran penting untuk membangun karakter kepemimpinan. Saya sangat merasakan ini, karena sejak kelas VI MI saya menggembala domba, dimulai dari 2 ekor, dan ketika kelas III SMP saya punya 18 ekor kambing. Kalau santri-santri di sini punya 18 ekor kambing kan mantap. Tentu tidak semua punya passion dalam kambing. Usaha lain juga kami fasilitasi. Karena itu, di depan Planet NUFO kini dibangun kandang yang lebih besar. Di sebelah timur NUFO, agak masuk, juga saya bangunkan kandang yang memungkinkan santri-murid untuk memelihara kambing lebih banyak lagi. Anak saya tahun ajaran baru akan masuk dan sudah siap menjadi pembudidaya kambing. Anak siapa sudah siap? Ayao bersama anak saya jadi pengusaha domba.”
Baladena: “Saya lihat di depan masjid Mlagen, di samping tempat yang biasanya dipakai para santri-murid NUFO berjualan, juga sedang ada proyek bangunan. Itu untuk apa?”
Abana: “Wah, itu agenda rahasia. Hahaha. Itu rumah berukuran 9×9 M2. Tapi bisa juga untuk rumah para ustadz/ah. Ini rumah perdana. Sudah cukup lama saya bermimpi membangun 50 rumah untuk para ustadz/ah yang sudah menikah. Rumah itu diisi oleh pasangan suami-istri yang minimal salah satunya hafal al-Qur’an. Di rumah itu nanti tinggal juga 12-15 santri-murid sehingga bisa belajar secara super intensif. Tanah di depan masjid itu kan 1,85 hektar. Jadi cukuplah untuk membangun 50 rumah. Hahaha. Namanya cita-cita kan harus besar. Kalau santri-murid 750 orang saja kan harus benar-benar punya 50 pasang pendidik yang total football untuk menemani mereka belajar, berlatih usaha, dan juga menguatkan karakter kepemimpinan. Sebab, saya membuat lembaga pendidikan ini karena memiliki visi yang agak beda. Kalau sama saja dengan yang sudah ada, mending tidur saja. Kan bapak ibu saya sudah merintis pesantren yang kini dikelola adik saya. Di situlah saya lahir. Harus ada pesantren atau lembaga pendidikan secara umum, dengan visi baru yang selalu melakukan perubahan, menyesuaikan dinamika zaman. Sekarang ini perkembangan sains dan teknologi menuntut kita berubah makin cepat. Kalau kita mempertahankan tradisi lama terus, ya kita akan makin jauh ketinggalan. Planet NUFO dengan santri-murid yang sebagiannya berlatar belakang keluarga aktivis, bisa saya ajak untuk itu. Para orang tua mereka tidak akan protes, bahkan sangat mendukung. Sebaliknya, mereka bisa protes kalau kami masih menggunakan cara-cara jadul.”
Baladena: “Jadi di depan masjid Mlagen itu nanti akan ada 50 rumah, Bah?”
Abana: “Bisa saja. Bisa juga tidak sampai 50 buah. Sebab, kami kan punya tanah di sebelah timur NUFO yang itu juga akan digunakan untuk perluasan dan pengembangan NUFO. Semoga tanahnya juga selalu bertambah luas. Minimal 100 hektar. In syaa’a Allah. Agar jadi kawasan baru dengan cara hidup yang benar-benar kami inginkan. Coba bayangkan kalau setiap terdengar adzan, kita melihat anak-anak muda bergegas ke masjid. Setelah itu mereka membaca al-Qur’an, juga bacaan-bacaan berkualitas lainnya. Dan waktu selain itu digunakan untuk bekerja, agar bisa memproduksi sesuatu untuk memastikan swadaya. Bahkan bisa dijual ke luar.”
Baladena: “Untuk melakukan semua itu kan perlu duit, Bah. Dari mana itu dananya?”
Abana: “Nah, ini lagi pertanyaannya. Uangnya tentu ada sumbernya. Ada usahanya. Yang jelas, tidak dari meminta kepada siapa pun. Tidak ada yang namanya proposal permohonan dana. Kepada perorangan, lembaga, maupun pemerintah. Sebab, kami berusaha untuk berdikari. Tapi tidak menolak jika ada siapa pun yang mau berkontribusi dan tidak mengganggu independensi kami. Sering saya bilang, ibarat perjalanan pakai mobil nih, kami selalu menyiapkan dana untuk membeli pertalite demi kelancaran perjalanan kami. Jika di tengah perjalanan ada yang menambah uangnya dan cukup untuk membeli pertamax atau bahkan pertamax turbo, yang bisa membuat kecepatan makin wus wus wus, tentu kami terima dengan senang hati. Maka semua warga Planet NUFO selalu saya motivasi untuk bekerja, berkarya untuk menghasilkan uang juga. Yang jelas, uang dari pembayaran sebagian santri-murid yang membayar, kami gunakan untuk kepentingan yang langsung mereka rasakan sendiri. Ya tidak cukuplah uang itu untuk membiayai agenda yang kita bicarakan ini. Semoga selalu punya minimal pertalite. Saya sudah terlanjur bilang kepada para tukang, bahwa proyek di Planet NUFO ini akan berlangsung hingga yaumil qiyamah. Hahaha. Semoga tak pernah kena resesi dan macet. Semoga lancar terus dan tambah akselerasi. Barakah makin melimpah. Aamiin.” ***

