Site icon Baladena.ID

Memfasilitasi Santri Pra-Sejahtera dengan Memberdayakan

Tidak sedikit santri-murid di Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, berasal dari keluarga menengah ke atas dalam aspek ekonomi. Bahkan tidak sedikit dari keluarga aktivis dan elite politik. Namun, ada juga di antara mereka yang berasal dari keluarga pra-sejahtera dan bahkan juga berstatus yatim. Sementara untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas, diperlukan pembiayaan yang cukup. Pendiri dan Pengasuh Planet NUFO punya cara sendiri untuk mengatasi masalah ini, dengan cara memberdayakan para santri-murid agar tidak satu pun di antara mereka yang memiliki alasan untuk tertinggal disebabkan oleh tidak memiliki fasilitas pendidikan yang mereka perlukan. Apa saja yang dilakukan Planet NUFO untuk membuat anak-anak dari keluarga dengan strata ekonomi apa pun tetap bisa meraih harapan dan cita-cita mereka?

Berikut ini wawancara baladena.id dengan Pendiri dan Pengasuh Pesantren Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, yang juga Pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang.

Baladena.id: “Di masyarakat sekitar sini, tersiar kabar bahwa Planet NUFO ini katanya lembaga pendidikan yang mahal. Apa informasi itu benar?”

Abana: “Kalau yang bilang orang yang putra/inya tidak mondok dan sekolah di Planet NUFO mungkin benar. Tapi kalau yang anak-anaknya ada di sini, saya berani pastikan tidak benar. Sebab, mereka yang memasukkan anak-anak mereka di Planet NUFO tidak ada yang mengatakan bahwa biaya di sini mahal. Semua biasa. Yang masuk di sini tidak hanya anak-anak orang kaya, ada pengusaha, profesional, elite politik, dan juga birokat. Ada anak dan ponakannya anggota DPR RI, ada anaknya komisaris; tetapi ada juga anak yatim dan pra sejahtera. Miskinlah bahasa kasarnya.”

Baladena: “Jadi, maksud benar dan tidak benar itu bagaimana?”

Abana: “Mahal itu kan relatif. Bagi yang merasa angka tertentu itu besar, tentu itu akan terasa mahal. Tetapi bagi yang punya banyak duit, angka yang sama dianggap terlalu murah. Dan di Planet NUFO, ada pilihan-pilihan menyesuaikan diri dengan ukuran kantong dan mental. Kami tidak memaksakan. Yang punya banyak duit dan mau membiayai anaknya dengan biaya besar ya boleh. Tapi kalau mau memilih yang minimalis juga boleh. Kaya miskin itu sebenarnya kan soal mental saja, kalau duitnya ada. Ada yang memilih biaya-biaya yang paling tinggi, kalau tidak salah terakhir uang pangkal Rp. 20 juta dan dia senang sekali anaknya bisa belajar di sini, karena anaknya mengalami kemajuan signifikan. Ada juga yang kalau dilihat dari pekerjaannya mampu, tapi memilih uang pangkal yang hanya Rp. 3 juta. Tidak ada masalah. Sedangkan yang berasal dari keluarga prasejahtera, cukup hanya membaya surat keterangan tidak mampu dari RT atau kelurahan. Langsung kami terima. Jadi tidak ada kata mahal kan?”

Baladena: “Iya juga ya. Karena mahal dan tidak mahal hanya soal kemampuan dan mental. Termasuk tempat tinggal tidak ada perbedaan ya, Bah?”

Abana: “Sama sekali tidak ada. Mereka tinggal bersama-sama. Tidak ada cluster yang bayar sekian, yang ini sekian. Sama sekali tidak ada. Dan kami buat berbeda-beda itu agar para orang tua tahu bahwa mendidik anak-anak mereka sebenarnya membutuhkan biaya besar. Tapi tidak mungkin membebankan biaya besar itu kepada mereka yang belum mampu. Ya itu risiko bagi pendiri lembaga pendidikan, yang ingin melakukan kaderisasi. Ya harus ikut merogoh kantong dalam-dalam. Tapi semua itu mendatangkan berkah. Dan saya benar-benar merasakannya. Kan Planet NUFO ini baru berdiri tahun 2011. Sementara saya mendirikan Monasmuda Institute tahun 2011. Ini malah pesantren perkaderan yang semua santrinya tidak dipungut biaya. Dapat asrama dan pembinaan gratis. Bahkan angkatan 2011 sampai 2015 mendapatkan beasiswa SPP atau UKT kuliah di UIN Walisongo Semarang.  Sebagian mahasantri di Monasmuda Institute yang kini sudah studi pascasarjana itulah yang sekarang menjadi guru atau ustadz/ah di Planet NUFO. Nah, biaya mereka studi pascasarjana, sehingga menjadi guru-guru yang berkualitas ini kan mahal.

Baladena: “Jadi, yang bikin mahal itu sebenarnya apa ya, Bah?”

Abana: “Kalau saya, karena menekankan kualitas SDM guru, maka perhatian utama saya adalah peningkatan kualitas pendidik. Mereka harus studi lanjut, S2 dan S3. Nah, ini per semester bisa hampir Rp. 100 juta. Soal fasilitas fisik, karena ini sekolah menengah, saya jadikan sebagai yang nomor 2. Yang paling utama adalah guru yang berkualitas. Kalau pendidiknya berkualitas, maka pendidik akan mampu membuat kreativitas dalam mengajar, sehingga proses belajar mengajar, apalagi ini sekolah alam, akan semakin berkualitas. Laboratorim bisa langsung menjelajah alam.”

Baladena: “Berarti biaya kan tetap ada. Nah, santri-murid yang berasal dari keluarga prasejahtera bagaimana?”

Abana: “Saya telah membuat cara yang berlaku untuk semua, tetapi sesungguhnya awalnya bertujuan untuk membuat yang berasal dari keluarga prasejahtera ini tidak mengalami kendala untuk memenuhi kebutuhan belajar, misalnya memiliki buku tulis, buku bacaan, dll peralatan yang diperlukan. Caranya, saya mengumumkan bahwa saya mau membeli bibit tanaman yang saya tentukan, Rp. 5000,00 per bibit. Selama ini yang saya tentukan di antaranya adalah kacang saci dan kelor. Dengan cara ini, saya bisa mendapatkan bibit yang bisa ditanam oleh anak-anak tanpa membuat anak-anak dari keluarga pra sejahtera merasa direndahkan. Bahkan ada anak-anak dari keluarga sejahtera yang melakukannya. Karena mereka memang menyukainya. Dan itu tetap bernilai positif. Dengan uang itu, mereka bisa membeli apa saja keperluan pendidikan mereka, termasuk juga sabun dan shampoo.”

Baladena: “Mereka mau ya?”

Abana: “Sudah berjalan. Saya selalu membawa polybag. Saya taruh di mobil saya. Kalau ada yang memerlukan, mereka lapor. Kalau sudah memiliki bibit yang siap tanam, mereka juga lapor dan kami berikan uangnya. Saya berharap, dengan mereka pernah melakukan aktivitas kerja yang menghasilkan uang sendiri ini akan membuat mereka termotivasi untuk selalu produktif. Dan yang terpenting adalah mind set bahwa menghasilkan uang itu sebenarnya tidak sulit. Banyak jalan untuk menghasilkan uang. Dengan begitu, di masa yang akan datang, mereka tidak akan pernah menjadi pengangguran dan pusing mencari pekerjaan. Sejak belia, mereka sudah tahu cara menghasilkan uang. Itulah yang dulu saya alami juga. Sejak kelas IV  sekolah dasar saya sudah jual beli anak ayam. Saya beli harga Rp. 150,00 kemudian saya jual Rp. 175.00. Untungnya saya akumulasi dan kemudian saya belikan lagi. Terus begitu. Sampai saya bisa beli bebek puluhan ekor dan 18 kambing yang ketika saya kelas I SMU saya jual untuk membeli kitab. Kalau tidak punya. Kalau saat itu, saya tidak punya 18 ekor kambing, saya tidak bisa beli kitab. Sebab, saat saya mengalami puber intelektual, bapak saya yang biasanya memfasilitas buku-buku, baru saja meninggal dunia. Ini juga sebenarnya yang memotivasi saya memberikan fasilitas pemberdayaan yang bisa menghasilkan uang ini kepada para santri.”

Baladena.id: “Kalau mereka menanam banyak, apa tidak jebol kantongnya, Bah?”

Abana: “Makin banyak ya makin bagus. Kan yang ditanam sudah berbuah dan menghasilkan uang. Kacang saci itu sangat kami perlukan, juga daun kelor. Sekarang ini masih sangat kekurangan. Jadi kalau punya banyak ya saya jual kepada pembeli pasti mudah. Santri-santri yang sudah mengenal medsos bisa membantu menjualkan juga. Namun, sekarang ini, lahan kami masih luas, dan kami telah berkomitmen untuk mewujudkan swasembada pangan, utamanya sayur-sayuran. Jangan sampai sayur saja beli dari pasar. Tujuannya agar mendapatkan asupan makanan yang kualitasnya benar-benar kita ketahui organik. Bukan yang mengandung bahkan kimia berbahaya. Agar anak-anak sehat wal afiyat.” (AH)

Exit mobile version