Seorang pencari ilmu membutuhkan ketenangan, kenyamanan dan perhatian yang baik. Begitu pula seorang siswa yang belajar di ruang-ruang kelas baik itu di ruang sekolah, madrasah maupun ruang belajar lainnya, mereka membutuhkan kenyamanan dalam menuntut ilmu. Bagi siswa menuntut ilmu dengan kondisi nyaman dan bersahabat merupakan media belajar yang membawa dirinya kepada alam kemerdekaan. Mereka tidak akan mengalami hambatan psikologis dan mampu melaksanakan belajarnya dengan baik dan terukur.
Bagi sebagian guru menciptakan kemerdekaan siswa adalah problem yang cukup serius. Siswa diminta harus mengikuti apa yang diinginkan guru, dan memaksakan kehendak guru tanpa mempertimbangkan maslahat-mafsadatnya. Dengan hal itu, seorang guru yang memenjara pikirannya akibat memiliki keinginan menjadikan siswa sebagai objek akan mendapatkan tabir pemisah yang sangat jauh antara ia dan siswanya.
Sebagai pendidik (guru) seyogyanya mendesain media pembelajarannya dengan tetap memperhatikan kebutuhan psikologi siswa untuk memudahkan mengajak siswa mengerti dan memahami terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Seorang siswa memiliki ragam keinginan, tidak hanya fokus ingin mendapatkan pengetahuan intelektual semata, namun mereka membutuhkan asupan gisi pada psikomotiknya dan juga afektifnya. Guru yang berhasil membimbing siswa apabila ketiga kebutuhan tersebut siswa bisa dipenuhi.
Guru tidak sepatutnya menjadikan siswa sebagai musuh dengan cara menyalahkan siswa pada segala tindakannya. Misalnya, apabila ada siswa yang tidak memakai seragam atau tidak memasang alat kelengkapan atribut di seragam sekolahnya, kemudian seorang guru memarahi dan menghukumnya dengan cara memukul dan bahkan memberi sanksi psikologis.
Tindakan seperti ini tidak efektif, justru melahirkan kebencian-kebencian pada diri siswa, dan selanjutnya mereka mengalami trauma yang berkepanjangan. Saat ada siswa yang tidur dikelas, bicara sendiri ketika seorang guru memulai menjelaskan mata pelajaran, pada saat itu guru dituntut untuk melihat siswa sebagai manusia yang masih membutuhkan perhatian dan pemahaman, karena dengannya seorang guru akan sadar akan tugas yang diemban yaitu sebagai pengajar, pembimbing dan pembina ruh para siswa-siswanya.
Paling elok untuk diterapkan adalah memberi tugas bagi siswa yang “kurang memperhatikan” pelajarnya disesuaikan dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki siswa, ataupun bisa memberikan tanggung jawab yang lain agar siswa tersebut memiliki respon atau tergerak untuk melaksanakan aktifitas pembelajaran. Jika ini dilakukan oleh seorang guru, maka guru telah menguasai jiwa dan raganya seorang siswa. Tentu kegiatan belajar dan mengajarnya akan berjalan dengan mulus tanpa mengalami hambatan yang krusial.
Membuat siswa merdeka bagian penting dari desain belajar mengajar para pendidik di sekolah. Kemerdekaan siswa akan melahirkan kreatifitas-kreatifitas dan bahkan akan tumbuh semangat belajar yang di dorong oleh keinginannya (internal) sendiri bukan dari keinginan orang lain (eksternal). Guru tanpa susah payah menyuruh, memerintah bahkan “marah-marah” saat memberikan tugas dan siswa kurang memperhatikannya dengan baik.
Pada hakikatnya tidak ada siswa yang malas belajar, tidak ada siswa yang nakal, tidak ada siswa yang berani pada guru, yang ada seorang guru tidak mampu menyelami jiwa-jiwa siswa, atau tidak mampu menembus tabir pemisah antara dirinya dan siswa, bahkan ironi jika ia menganggap siswa sebagai manusia nakal dan “bajingan”.
Walhasil, terciptanya hubungan yang harmonis antara guru dan murid akan membuat transfer pengetahuan akan mudah dilakukan. Guru dan murid merupakan simbiosis mutualisme yang keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Perbedaan identitas jangan dijadikan sebagai “pemisah”, karena itu hanya bungkus, yang terpenting shilaturruh dan saling menghargai, memahami posisioning masing-masing. Disinilah akan terjadi dialektika yang baik sehingga tercipta ruang-ruang manusia yang merdeka bukan ruang penjarah yang berbaju gedung sekolah. Memerdekakan siswa adalah salah satu cara untuk melahirkan kader-kader manusia yang siap menuju masyarakat yang memiliki peradaban yang tinggi.

