Site icon Baladena.ID

MEMBUAT TARGET REALISTIS MENGHAFALKAN AL-QUR’AN

Banyak orang ingin menjadi penghafal al-Qur’an. Bukan hanya karena sekedar ingin mendapatkan keutamaan sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah saw., tetapi karena kesadaran bahwa hafal al-Qur’an dan tentu saja disertai pemahaman kepada maknanya, adalah jalan untuk memahami petunjuk yang ada di dalamnya. Dengan hafal al-Qur’an, ayat-ayatnya bisa dipahami secara utuh. Sebab, pemahaman yang utuh mensyaratkan kemampuan untuk menginterkoneksikan beberapa atau bahkan banyak ayat. Dalam banyak kasus, menarik simpulan atau pemahaman dari sebuah ayat, tanpa menginterkoneksikannya dengan ayat-ayat lain, telah menyebabkan pemahaman yang parsial, sehingga justru menyebabkan kekeliruan.

Namun, tidak banyak orang sukses menghafalkan al-Qur’an. Di samping cerita sukses menghafal, bahkan viral, banyak juga yang gagal menghafal firman Allah ini secara total. Padahal, jika tidak hafal total, menurut Pengasuh Pesantren Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh, potensi untuk mengalami degradasi sangat besar. Ibarat yang dibuatnya adalah orang panjat pinang. Ia tidak mungkin bertahan di tengah ketinggian tiang yang licin, karena ia harus melawan gaya gravitasi.

Bagaimana cara membuat target menghafalkan al-Qur’an yang realistis, sehingga kitab setebal lebih dari 600 halaman itu bisa dihafalkan secara total? Berikut ini wawancara dengan Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ yang oleh para santri-muridnya akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana itu:

 

Baladena.id: “Banyak orang yang heran, takjub mungkin tepatnya, al-Qur’an yang setebal itu bisa dihafalkan di luar kepala. Apalagi ada anak kecil yang mampu melakukannya? Menurut Abah Nasih bagaimana?”

Abana: “Apanya yang bagaimana? Kalau saya, takjub itu karena ketidaktahuan saja. Kalau sudah tahu ya jadi biasa-biasa saja. Termasuk hafal al-Qur’an itu sebenarnya banyak orang yang mampu. Tapi karena tidak mau, ya jadi tidak hafal.”

Baladena: “Jadi sebenarnya mudah ya, Bah?”

Abana: “Bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an memang Allah telah memudahkan al-Qur’an untuk dihafal. Kalau dimudahkan, berarti aslinya tidak mudah juga. Menjadi mudah bagi orang yang punya kemauan niat yang serius. Dan ini juga memerlukan prasyarat. Tidak sulit. Di antaranya adalah kecerdasan yang standard saja. Dengan kemauan keras dan kecerdasan standard, pasti bisa. In syaa’a Allah. Tidak usah cerdas-cerdas banget yang luar biasa. Sebaliknya, walaupun masuk dalam kategori genius, tetapi tidak memiliki tekad kuat, ya tidak bisa. Buktinya kan banyak sarjana, bahkan doktor, studi Islam lagi, tapi tidak hafal al-Qur’an. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, itu karena mereka memang tidak menyeriusi. Dan penyebabnya bermacam-ragam.”

Baladena: “Kecerdasan standard itu yang bagaimana? Apakah Abah Nasih sudah punya standardnya itu?”

Abana: “Ini masih perlu diuji terus ya. Tapi biasanya, saya meminta kepada para calon penghafal al-Qur’an di Monasmuda Institute atau Planet NUFO untuk menirukan kalimat-kalimat tertentu. Di antaranya adalah “ibis redibis numquam peribis in armis”. Kalau bisa mengulang kalimat ini kurang dari enam kali pengulangan, maka saya optimis bahwa yang bersangkutan mamiliki daya ingat yang cukup. Ini daya ingat murni, tanpa asosiasi. Nah, kalau pakai bahasa Indonesia, saya menggunakan terjememahannya “kamu akan pergi, kamu tidak akan kembali, karena kamu akan mati di medan perang” atau sebaliknya “kamu akan pergi, kamu akan kembali, karena kamu tidak akan mati di medan perang”. Kalau bisa langsung menirukan tanpa harus saya ulangi, itu tanda logika dan daya ingatnya baik. Kandidat penghafal ini berarti memiliki kemampuan asosiasi dan logika yang baik. Sebab, kalimat ini mengandung logika sederhana. Kalau mati di medan perang, ya pasti tidak akan pernah kembali. Atau sebaliknya. Setelah saya pastikan memiliki daya ingat dan logika yang standard, maka saya ajak untuk membuat target menghafal yang realistis.”

Baladena: “Nah ini dia, ada kata kunci realistis. Memang ada target yang tidak realistis? Ini yang perlu mendapatkan penjelasan sedetil-detilnya.”

Abana: “Ya ada. Dan prosentasenya tidak sedikit. Maka sebenarnya yang benar-benar menghafalkan al-Qur’an, tidak banyak. Tapi karena sebagian kita tidak memahami persoalannya, dan husnudhdhann saja kepada orang-orang yang bergelut dengan al-Qur’an, maka kita biasanya tidak mengkritisinya. Jadi ada dua target yang tidak realistis. Pertama, target menyelesaikan terlalu cepat, dan yang kedua, sebaliknya terlalu lama. Yang kedua ini sepertinya realistis, tetapi faktanya malah jadi tidak realistis.”

Baladena: “Maksudnya bagaimana ini, Bah?”.

Abana: “Kalau target khatam terlalu cepat, sepertinya itu mudah dipahami sebagai sesuatu yang tidak realistis. Jika pun ada yang berhasil, jumlahnya hanya satu di antara 10 juta. Bukan hanya sejuta. Misalnya menghafalkan al-Qur’an dalam waktu 40 hari. Saya belum pernah bertemu orangnya. Yang saya temukan adalah pemuda-pemuda yang katanya pernah mengikuti program tahfidh 40 hari, tetapi setiap kali saya ajak simaan, pasti ngeles. Bahkan sekedar satu juz saja, dan juz yang mana diacak, belum pernah ada yang berani. Ini karena memang tidak realistis. Sebab, kalau hanya 40 hari, kira-kira kan harus menghafal minimal 15 halaman per hari. Itu ¾ juz. Hebat sekali kan? Kalau benar maksudnya. Faktanya tidak begitu.”

Baladena: “Baik. Ini masuk akal. Tapi yang sebaliknya ini, terlalu lama, tapi kok malah tidak realistis itu bagaimana?”

Abana: “Lagi-lagi kita harus bicara data. Saya pernah mendengar ada seorang usia lanjut yang berhasil menghafalkan al-Qur’an. Tapi itu baru informasi, belum membuktikannya sendiri. Yang saya punya datanya adalah mereka yang melampaui 5 tahun waktu menghafal dan belum menyelesaikan hafalan 30 juz, rata-rata sudah kehilangan gairah untuk melanjutkan menghafal. Mereka sudah angkat tangan. Atau jika pun masih punya keinginan, mereka akan terhambat oleh aktivitas-aktivitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup, mulai kuliah, berorganiasi, bekerja, mengurus keluarga, dll.. Kalau pengalaman pribadi, ini bukan berdasarkan survey ya, tetapi hanya pengalaman memandu beberapa teman yang ingin menghafalkan al-Qur’an. Dan mereka itu kalangan intelektual. Bahkan sebagiannya dosen dengan disiplin ilmu keislaman. Mereka datang kepada saya untuk meminta panduan cara yang paling efektif dan efisien dalam menghafalkan al-Qur’an. Ya dengan senang hati saya pandu. Apalagi saya melihat memang mereka memiliki kecakapan yang cukup, bahkan lebih dari cukup. Setelah saya uji dengan alat uji saya, saya sampaikan bahwa mereka bisa menghafal minimal dua halaman. Dan betul, pada hari pertama saya kontak dan saya tanya, katanya menghafal tidak hanya dua halaman, tetapi tiga halaman. Hari kedua, juga demikian. Hari ketiga masih sama. Nah, hari keempat ini mulai ada masalah. Katanya dia harus mengurus genteng rumahnya yang bermasalah. Seharian harus membereskannya, sehingga tidak bisa menambah hafalan. Besoknya lagi saya kontak lagi ternyata ada agenda lain, dan setelah beberapa hari kemudian begitu, akhirnya sudah tidak saya tanya lagi. Kemauan dan kemampuan ada, tetapi waktunya sudah tidak memungkinkan. Ini jadi tidak realistis. Apalagi yang kemampuannya kurang, sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama. Makin tidak realistis lagi.”

Baladena: “Kalau begitu, memulainya harus saat usia masih belia ya, Bah? Usia yang paling tepat berapa?”

Abana: “Pertanyaan yang bagus. Saya sering juga mengatakan tentang ini sebagai usia strategis. Kira-kira kelas II atau III SMP sampai kelas II SMU. Saya sebut sebagai usia strategis karena tiga alasan. Yang pertama, ini usia anak-anak sudah mulai mampu berlogika, ditunjang dengan wawasan yang sudah makin bertambah. Sudah mampu menghubungkan antara satu kejadian dengan kejadian lain sebagai sebab dan akibat. Dengan begitu, mereka bisa diajari untuk memahami maksud al-Qur’an, setidaknya literal dulu. Sebab, sangat banyak kalimat di dalam al-Qur’an yang polanya jika-maka. Kemampuan ini menyebabkan mereka memiliki pengetahuan baru dari yang mereka baca. Pengetahuan baru ini, berdasarkan pengalaman saya dan para penghafal al-Qur’an yang saya tangani, menyebabkan semangat meningkat. Pemahaman yang didapatkan dari ayat-ayat yang sedang digeluti, membuat terasa ada sesuatu yang baru dan penting untuk diingat dan dijadikan sebagai bahan untuk berbicara, berdiskusi, dan juga berdebat. Namanya saja anak muda yang sedang butuh-butuhnya eksistensi diri. Kedua, waktu yang tersedia relatif cukup. Usia SMP dan SMU kan urusannya masih sekedar belajar pelajaran sekolah. Tidak ada tuntutan-tuntutan yang bersifat mendesak yang kalau tidak lakukan bisa membahayakan. Kalau orang sudah berkeluarga, kalau tidak bekerja, implikasinya bisa ruwet sana sini. Ketiga, energi sedang penuh-penuhnya. Kalau digunakan untuk melakukan aktivitas full, tidak ada masalah. Asal semangatnya ketemu, maka lelah, lapar, haus, bahkan sakit pun tidak terasa. Kalau ini saya merasakan sendiri. Saat awal kelas II SMU saya sampai ambeyen dan berdarah-darah. Dan itu tidak terasa. Tahunya saat BAB melihat ada darah banyak. Kemungkinan besar karena saat itu benar-benar menikmati belajar, terutama menghafalkan al-Qur’an karena saya targetkan betul, sebelum kelas III harus sudah beres.”

Baladena: “Memangnya kelas III SMU ada apa?”

Abana: “Kelas III SMU kan sudah harus tinggal mengulang agar lebih lancar lagi. Selain itu, harus mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi yang diidamkan. Hafalan al-Qur’an jangan sampai menjadi alasan untuk tidak masuk perguruan tinggi excellent yang diidamkan. Justru penghafal al-Qur’an harus membuktikan bahwa mereka adalah hamba Allah yang memiliki kualitas yang benar-benar membuatnya layak disebut orang spesial Allah. Kualitas dunia dan akhiratnya harus dapat dong. Tapi setidaknya adalah memenuhi harapan al-Qur’an sendiri. Di dalam QS. Fushshilat: 53, Allah menegaskan bahwa ada tanda-tanda di alam semesta maupun dalam diri kita sendiri yang bisa menunjukkan bahwa al-Qur’an itu benar. Nah, penghafal al-Qur’an adalah orang yang paling berkepentingan untuk membuktikan bahwa al-Qur’an adalah kebenaran dari Allah. Dengan demikian, mereka punya argumen untuk orang lain juga, terutama yang mempertanyakan, bahwa yang mereka lakukan, bergelut siang malam dengan al-Qur’an itu rasional. Nah, untuk itu, kalau di Indonesia, perguruan tinggi adalah tempat yang strategis. Jurusan yang sepertinya paling cocok ya MIPA, teknik, dan IT; kalau makrokosmos. Kalau mikrokosmos ya kedokteran. Jurusan lain tentu saja juga bisa. Nah, untuk itu kan perlu persiapan yang baik juga. Intinya, jangan sampai al-Qur’an dijadikan sebagai alasan untuk tidak bisa masuk di jurusan yang diinginkan atau menjadi keinginan banyak orang.”

Baladena: “Jadi bagaimana konkretnya dalam membuat target ini?”

Abana: “Ya tinggal dihitung saja sesuai dengan kemampuan masing-masing. Karena al-Qur’an dalam mushhaf yang dicetak umum sekarang hanya 600 halaman, maka tinggal kita hitung saja. Biasanya, di awal program menghafal, saya meminta para kandidat untuk mengukur kemampuan mereka, lalu membuat target masing-masing sesuai kemampuan itu. Bukan saya yang bikin target. Dengan begitu, mereka akan konsisten. Kalau saya yang bikin target, sementara kemampuan mereka tidak mendukung, nanti ya macet malah. Hasilnya beragam. Dalam sehari, ada yang mampu menghafal 2 halaman, ada yang 1 halaman, dan ada yang hanya ½ halaman, bahkan ada juga yang ¼ halaman. Kalau 2 halaman, berarti hanya butuh waktu 10 bulan saja. Kalau 1 halaman, berarti butuh waktu 20 bulan. Berarti tidak sampai dua tahun. Ini masih bagus. Kalau ½ halaman, berarti butuh waktu 40 bulan, atau 3 tahun lebih 4 bulan. Ini masih memungkinkan jika dimulai oleh anak kualiahan sejak semester I. Dengan catatan, benar-benar ketat. Sebab, pada semester 7 mereka sudah harus KKN dan lain-lain. Kalau tidak disiplin tinggi, nanti kena teori panjat pinang. Jika tidak sampai atas, melorot ke titik terbawah. Ekstrimnya begitu. Nah, kalau kemampuan kurang dari ½ halaman per hari, biasanya saya rekomendasikan untuk tidak menghafal saja. Nanti yang buang waktu saya juga akhirnya. Saya sudah cukup banyak pengalaman dengan kasus-kasus begini. Maka kemudian jadi lebih tegas. Mungkin tega lebih tepatnya, untuk mengatakan yang pahit-pahit.”

Baladena: “Saran untuk mereka yang ingin menghafal, atau para ortu yang ingin anak-anak mereka menghafalkan al-Qur’an apa, Bah?”

Abana: “Kalau mau menghafal, pahami artinya dulu. Para ortu, jangan tergesa-gesa memaksa anak menghafalkan al-Qur’an. Menghafalkan al-Qur’an itu perlu tenaga dalam. Iya, energy dari dalam diri sendiri. Harus ada kesadaran. Dan itu bisa muncul di antaranya kalau tahu artinya. Bisa memotivasi. Kalau tidak, bisa seperti mendorong mobil mogok, koplingnya masuk, dan hand remnya ditarik. Kita sendiri yang justru kelelahan mendorong tiap hari. Hasilnya tidak berubah.” (AH)

Exit mobile version