Site icon Baladena.ID

MEMBACA DAN MERENUNGKAN AL-QUR’AN

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Rembang

 

“Maka tidakkah mereka merenungkan/menghayati (mendalami) al-Qur’an? Sekiranya (al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. al-Nisa’: 82).

Al-Qur’an, sesuai dengan namanya yang berarti bacaan, lebih ingin dibaca dengan suara yang bisa didengarkan dibanding dibaca hanya dengan diam. Sebab, dengan bunyi itu, ayat-ayat al-Qur’an akan melahirkan efek keindahan yang luar biasa, bukan hanya dari ujung-ujung ayatnya yang berima, tetapi juga kata yang dipilih dan substansi pesannya yang menggetarkan. Memang inilah yang menjadi salah satu indikator bahwa al-Qur’an adalah mu’jizat dari Allah, karena ia benar-benar menjadikan para pujangga terhebat menjadi lemah dan kalah. Bahkan banyak pujangga era jahiliyah yang kemudian menerima Islam tak lagi mencukupkan diri dengan keindahan al-Qur’an. Mereka menerima Islam karena merenungkan bahwa tidak mungkin al-Qur’an dengan keindahan bahasa dan kebenaran ungkapan-ungkapannya yang verifikatif berasal dari manusia. Apalagi sebagian orang yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad mu’jizat-mu’jizat lain yang tampak padanya, di antaranya beliau dinaungi awan dalam perjalanan yang panas terik. Dengn kata lain, setelah membacanya dalam konteks untuk merasakan keindahan rima dengan suara, al-Qur’an juga perlu dibaca dalam diam dalam rangka melakukan perenungan mendalam.

Manusia yang hidup di era setelah Nabi Muhammad, dan karenanya tidak bisa menyaksikan langsung mu’jizat yang ada pada Nabi Muhammad, bukan tidak bisa merasakan mu’jizat yang Allah berikan kepadanya. Mereka masih bisa menangkap mu’jizat itu dengan menemukan kebenaran dalam pesan-pesan masa depan (futuristik) di dalamnya. Keindahan al-Qur’an akan tetap unggul sampai hari kiamat. Ditambah lagi ayat-ayat yang berisi tentang isyarat ilmu pengetahuan (sains) yang pasti semakin banyak yang terbukti, di antaranya laut yang terbelah menjadi bagian asin dan tawar (al-Furqan: 53, al-Naml: 21, Fathir: 12, al-Rahman: 19).

Kebenaran dan keunggulan al-Qur’an itu hanya mungkin ditangkap oleh orang-orang yang mau membaca secara berulang-ulang dan merenungkan untuk menemukan pesan terdalam. Pesan yang dimaksud bukan hanya pesan yang tersurat, tetapi juga yang tersirat. Karena itu, perenungan yang dilakukan haruslah perenungan yang memerlukan sepenuh kesungguhan (ijtihad), yang dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring (Ali Imran: 191). Perenungan kepada ayat-ayat al-Qur’an sangat diperlukan karena ayat-ayat dan surat-suratnya walaupun berkorelasi antara yang sebelum dengan yang sesusahnya, tetapi seringkali ada kaitan antara ayat-ayat dalam jumlah yang banyak di banyak tempat, baik dalam satu surat maupun di surat-surat yang berbeda. Dalam konteks inilah, hafal al-Qur’an menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Tentu saja harus dengan penguasaan kepada aspek-aspek yang menjadi bahasan dalam kajian ulum al-Qur’an. Hanya dengan semuanya itulah, pesan-pesan al-Qur’an bisa ditangkap dan memperkokoh hujjah kebenarannya secara khusus dan Islam secara keseluruhan.

Sebagai contoh sederhana, surat al-Ashr yang termasuk dalam kategori surat terpendek di dalam al-Qur’an memiliki kandungan ajaran luar biasa komprehensif. “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, memerintahkan kebenaran dan kesabaran” (al-‘Ashr: 1-3). Jika tidak memerlukan pemahaman yang harus melibatkan ayat-ayat lain, surat al-‘Ashr sudah mewakili keseluruhan ajaran Islam. Namun, surat ini sering disalahpahami, karena tarikan simpulannya tidak didasarkan pada hasil perenungan mendalam terhadap banyak ayat yang lain yang sesungguhnya memiliki kaitan sangat erat. Misalnya, lebih banyak yang menarik kesimpulan secara keliru bahwa manusia mengalani kerugian karena tidak memanfaatkan waktu. Padahal, justru sebaliknya. Surat ini mengandung juga perspektif tentang amal yang sebanyak apa pun, yang itu berarti membutuhkan variabel waktu, tetapi tidak mendapatkan balasan dari Allah.

Di antara ayat yang membuat ayat ini bisa dipahami secara sangat jelas adalah al-Kahfi: 103-105 dan Ali Imran: 85. Dua ayat ini telah mewakili ayat-ayat yang lain yang di dalamnya dibicarakan tentang kerugian.

“Katakanlah (Muhammad): “Apakah perlu Kami beri tahukan kepada kalian tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.” (al-Kahfi: 103-105).

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Ini hanyalah satu contoh kasus saja di dalam al-Qur’an. Walaupun sesungguhnya di dalamnya terdapat kata kunci yang sangat jelas, tetapi masih lebih banyak pembacanya yang keliru dalam memahami. Apalagi ayat-ayat lain dengan pesan yang jauh lebih halus dan lebih dalam. Belum lagi dalam konteks ayat-ayat yang memiliki kandungan istarat ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Perenungan diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang akurat, lalu diikuti dengan penelitian, usaha berkreasi, atau setidaknya berinovasi.

Tentu saja untuk memahami dan mewujudkan cita al-Qur’an perlu pembacaan berulang-ulang, diikuti dengan perenungan yang lebih serius agar kaitan-kaitan yang ada di dalamnya bisa diidentifikasi secara baik lalu ditarik simpulannya dengan tepat. Dengan demikian, akan terurai pokok permasalahan dengan komprehensif dan makin nampak bahwa al-Qur’an memang adalah panduan untuk menjalani kehidupan guna mencapai kedamaian, kesejahteran, dan juga keselamatan di dunia maupun di akhirat. Wallaahu a’lam bi al-shawab.

Exit mobile version