Site icon Baladena.ID

Meluruskan Pandangan Wasathan dalam Al-Qur’an

Oleh: Salsabila, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Para Muffasir mengartikan kata wasathan dengan terbaik, pilihan, adil, dan seimbang. Arti lainnya adalah umat yang selalu dituntut untuk berada di jalan yang lurus. Yaitu umat yang selalu menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Tetapi, banyak orang-orang yang yang beranggapan bahwa kata wasathan diartikan secara serta merta dengan tekstual saja, yaitu tengah-tengah. Yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah:143

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “”Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 dijelaskan bahwa Allah telah menjadilkan kamu umat pertengahan. Ayat ini memeberikan penjelasan terkait dengan gambaran Allah Swt tentang umat yang wasat(pertengahan).

Dengan adanya makna arti kata Wasathan dalam Al-Qur’an di ayat ini yang di artikan dengan tengah-tengah. Banyak orang berpikiran dan berpandangan bahwa maksud dari kata wasathan dalam ayat ini adalah arti tengah-tengah yang sesungguhnya. Banyak orang yang memaknai ayat ini secara tekstual, yang dimaksud tengah-tengah ya arti tengah-tengah yang benar ditengah. Bersikap biasa saja, tidak ekstrim kanan maupun juga kiri.

Dr. Mohammad Nasih memiliki pandangan yg berbeda mengenai ummatan wasathan ini. Menurut beliau kata wasathan dalam ayat ini hanyalah mejadi simbol, seperti yang terdapat di dalam Al-Quran kata ashabul yamin dan ashabul syimal.

Kata ashabul yamin terdapat pada QS. Al-Waqiah:91

فَسَلَٰمٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِ

“Maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).”

Dan, kata ashabul syimal terdapat pada QS. Al-Waqiah:9

وَأَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ

“Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,”

Dari kedua ayat ini, kata ashabul yamin dan ashabul syimal hanya menjadi simbol yang artinya golongan kanan ialah yang surga dan golongan kiri ialah yang neraka.

Jadi, kata wasathan dalam QS. Al-Baqarah:143 bukan memiliki arti yang selama ini dipahami oleh kebanyakan orang, yaitu tengah-tengah yang keberadannnya ditengah-tengah tidak kanan dan tidak kiri. Jika disambungkan dengan islam wasathiyah maka bahwa islam adalah umat yang tengah-tengah. Tidak esktrim dan biasa-biasa aja itu salah. Menurut Doktor Muhammad Nasih ummatan wasathan yang benar adalah umat yang cenderung pada kebenaran.

Nah, kalau arti tengah itu diartikan dengan tengah yang keberadaannya ditengah-tengah tidak kanan dan tidak kiri, maka nanti akan menjadi salah konsepsi. Sama seperti sirotol mustaqim (jalan yang lurus). Kalau sirotol mustaqim diartikan secara tekstual, lurus terus nanti nabrak. Jadi lurus bukan berarti lurus yang sebenarnya, sama seperti wasathan bukan tengah dengan arti tengah yang sebenarnya. Tetapi, kata wasathan hanya menjadi simbol, sama seperti ashabul yamin maupun ashabul syimal.

Doktor Muhammad Nasih yang, sangat tidak setuju dengan adanya prespektif bahwassanya islam adalah agama yang moderat. Beliau berpendapat bahwasanya islam adalah agama dakwah.

 

 

 

 

Exit mobile version