Di antara hal miris yang terjadi pada zaman sekarang ini adalah sepinya jama’ah di masjid. Baik masjid yang berada di desa maupun kota besar tidak luput dari sepinya jamaah yang hadir untuk menunaikan sholat berjamaah. Padahal, masjid-masjid yang ada saat ini telah dibangun secara bagus, kokoh, bahkan mewah bak istana-istana kerajaan. Namun, sangat disayangkan karena kini masjid-masjid terlihat sepi dari jama’ahnya.
Betapa meruginya umat Islam, masjid awalnya dibangun dengan penuh susah payah, beramai-ramai merelakan semuanya, meminta dana mengajukan proposal yang dikemas dengan sedemikain rupa, berjibaku siang dan malam. Lalu, korban makanan dan minuman, tenaga, pikiran, uang, bahkan nyawapun terkadang menjadi taruhan, akan tetapi setelah masjid telah kokoh berdiri sebagaimana sekarang, justru masjid ditinggal dan disia-siakan. Masjid kini indah, namun dalam keheningan.
Masjid kini dapat dikatakan yatim piatu. Maksudnya, tidak ada penghuni yang memperdulikan keadaannya. Kemudian, tidak ada pula berkunjung untuk menjenguknya (baca: sholat atau melakukan aktivitas di dalamnya). Di masjid-masjid sangat mudah ditemukan mukena-mukena yang kotor, bau serta lantai masjid yang penuh dengan debu. Sungguh sangat miris. Mukena-mukena tersebut tertumpuk secara berantakan, berjamur, dan berbau apek seperti tidak pernah dicuci berbulan-bulan bahkan tahunan sebagaimana banyaknya jamur dan warna kuluk yang menempel pada mukena.
Adapun yang mengisi masjid-masjid saat ini adalah cenderung generasi lama, kaum tua renta yang tinggal menunggu saja watku kontrak habis dalam hidup di dunia. Semetara generasi mudanya lebih memilih pada kesenangan semu yang lebih menggoda untuk menghabiskan waktu setiap harinya. Kafe, angkringan, mol, dan tempat wisata adalah lebih utama dari pada memakmurkan masjid yang telah dibangun bersama-sama. Masjid sepi tanpa ada lagi suara yang mentunkan puisi-puisi indah sang Maha Kuasa.
Seandainya masjid dapat berbicara, mungkin ia akan menyampaikan keluhan, menggugat, atas perbuatan umat Islam kepadanya. Ia hening dalam kesendirian, ditinggal pergi para penghuninya yang memilih pada keindahan dunia yang fana. Dunia yang hanya sementara. Umat Islam cenderung terlena, jauh dari rasa cinta untuk memakmurkan masjid. Terlena dengan hingar bingar dunia yang sifatnya adalah sementara.
Padahal, apabila semua umat Islam itu paham terhadap esensi dari sebuah masjid, tentu akan sangat menyesalinya kala tidak melaksanakan ibadah bersama di dalamnya. Masjid adalah porosnya tempat perbaikan dunia, jantungnya kedamaian kehidupan. Selain itu, masjid merupakan titik temu dalam beribadah secara bersamaan dengan seluruh kalangan umat Islam tanpa adanya perbedaan satu dengan yang lainnya. Semua sholat, beribadah, tunduk dan sujud menggapai ridho-Nya. Namun, itu semua kini telah disia-siakan oleh umat Islam itu sendiri. Padahal apabila dapat memakmurkan masjid maka Allah akan senantiasa memberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan dan Allah kategorikan termasuk orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah Swt:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S At-Taubah: 18)
Adapun maksud dari ayat tersebut yaitu siapapun yang memakmurkan masjid dengan caranya adalah mendirikan sholat di dalamnya digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang beriman yang mendapatkan petunjuk. Di dalam hadis Nabi juga diterangkan bahwa seorang laki-laki yang hatinya melekat pada masjid akan diberikan rahmat oleh Allah Swt. Berikut ini lafadz hadis tersebut:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya. (H.R. Bukhori dan Muslim)
Berdasarkan ayat dan hadis tersebut sangat merugi bukan, apabila umat Islam tidak memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraih pahala, sekaligus petunjuk dari Allah Swt. Maka, sangat perlu untuk mengancarkan kembali aksi cinta terhadap masjid pada generasi muda. Generasi muda perlu untuk dibiasakan sejak dini untuk mencintai masjid. Masjid menjadi sebuah hal penting, untuk tempat beribadah, tempat meminta pertolongan kepada Allah dalam mengarungi luaskan kehidupan di dunia, menjadikan masjid adalah sebuah kebutuhan dalam beribadah. Bukan hanya sebagai tempat memenuhi persyaratan perayaan hari-hari besar.
Adapun pembiasaan sikap cinta terhadap masjid dapat dimuali dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Lalu, lingkungan sekolah dan masyarakat yang didesain sedemikian rupa sehinggan terjalin komunikasi dan pembiasaan yang ideal bagi generassi muda agar hatinya senantiasa terpaut dengan masjid.
والله عالم بشواب

