Site icon Baladena.ID

Masihkah Nabi Khidir hidup?

Banyak di antara orang Indonesia yang masih mengisahkan pertemuanya dengan Nabi Khidir, yang sudah wafat ribuan tahun yang lalu. Sebagai umat Islam, kita harus percaya dengan adanya Nabi Khidir namun, tidak semestinya berlebihan sampai-sampai menceritakan bahwa Nabi Khidir masih hidup. Dalam surat Al-Anbiya’ 34-35 dijelaskan bahwa “Allah tidak menjadikan hidup bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”

Kemudian pada ayat selanjutnya dijelaskan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. Dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa tidak seorang pun yang diabadikan hidupnya oleh Allah SWT sebelum dan sesudah  Nabi Muhammad SAW. Kenyataanya masih ada saja orang yang menceritakan kehadiran Nabi khidir. Hal ini terjadi, karena masyarakat Indonesia masih percaya kepada tahayyul. Sebagaimana yang sedang viral akhir-akhir ini, masyarakat telah tertipu oleh dukun yang berkedok agama. Tentu saja hal ini sangat miris karena masyarakat baru sadar bahwa mereka telah tertitpu selama mereka mempercayainya.

Semua orang akan mati, dan Ketika dating ajalnya maka tidak akan bisa dipercepat dan diperpanjang kematiannya sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 34 :

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun”.
Dari ayat tersebut manusia mempunyai ajal, hal ini berkaitan dengan takdir manusia yaitu kematian. Takdir berasal dari kata قدّر- يقدّر   lalu  membentuk kata masdar yaitu     تقدىرا   artinya ketentuan atau ketetapan. Kemudian takdir dibagi menjadi dua macam yaitu takdir mubram dan takdir muallaq.

Menurut Sumber Belajar Kemendikbud, takdir mubram adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku dan manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya. Sedangkan takdir muallaq merupakan ketentuan Allah SWT yang mengikuti sertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiar. Salah satu contoh dari takdir mubram yaitu kematian. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat diatas, tidak seorangpun yang hidup abadi  di dunia ini sebelum ataupun sesudah Nabi Muhammad wafat. Maka, dengan berfikir rasional dapat dikatakan bahwa Nabi Khidir adalah manusia, dan semua manusia akan merasakan kematian.

Terlahir menjadi laki-laki ataupun perempuan juga merupakan contoh dari takdir mubram. Takdir ini tidak boleh diubah-ubah karena hukumnya haram, kecuali karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak ada pilihan lain. Ayat tentang kematian juga dijelaskan dalam al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 78:


Artinya: “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muham-mad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?”

Kemudian contoh dari takdir muallaq yaitu keberhasilan seseorang dalam pendidikan maupun dalam hal kekayaan, hal ini juga menjadi problem bagi masyarakat Indonesia yang masih salah faham dalam memahami kata zuhud, kata ini harus difahami dengan cermat karena jika tidak, masyarakat akan selalu mengalami ketertinggalan. Terutama masyarakat Indonesia yang sebagian penduduknya masih lemah ekonomi. Konteks kata zuhud ini, ditujukan kepada orang kaya, untuk mengingfakkan seluruh hartanya untuk jihad dijalan Allah. Peristiwa ini terjadi pada zaman imam Al-ghazali, pada masa itu umat islam mengalami puncak kejayaan. Maka dari itu untuk bisa sukses masyarakat Indonesia harus berusaha keras dan ikhtiya kemudian di iringi dengan doa kepada Yang kuasa. Waallahu a’alam bil showabi

Exit mobile version