Pemahaman tentang konsep ilmu laduni telah banyak didengar oleh kalangan umat muslim di Indoneisa. mengutip dari berbagai sumber, ilmu laduni dianggap sebagai ilmu yang datang langsung dari Allah Swt untuk menyingkap berbagai misteri ilmu pengetahuan di dunia ini. Ilmu Laduni dikaitkan erat dengan orang-orang yang memiliki kedekatan khusus dengan sang pencipta dan ilmu Laduni juga diasosiasikan sebagai hadiah khusus yang Allah berikan kepada siapa saja dari hambanya yang dikehendaki.
Ilmu Laduni juga banyak dipahami dengan konsep ilmu pengetahuan yang datangnya secara tiba-tiba tanpa adanya proses belajar yang intensif atau bahkan tidak belajar sama sekali. Ilmu Laduni dapat dikatakan sebagai pengalaman batin seseorang tentang ilmu pengetahuan yang datangnya langsung dari ilham atau intuisi dari Tuhan. Kata-kata seperti “Oh, si Fulan itu tidak pernah mondok atau belajar tapi dia bisa mengetahuinya” dapat dijadikan salah satu contoh bagaimana ilmu Laduni ini dipahami oleh banyak orang.
Dalam konteks kebahasaan, ilmu Laduni berasal dari bahasa Arab ladunni yang memiliki arti di sisih-Ku (Allah) hal ini merujuk kepada segala ilmu pengetahuan yang bersumber langsung dari Allah. Menurut Harianto (2005) dalam jurnalnya yang berjudul Ilmu Laduni Perspektif Psikologi Pendidikan, beliau mengutip pendapat Imam al-Ghazali tentang bagaimana cara seseorang memperoleh ilmu Laduni, yaitu dengan mengumpulkan berbagai informasi, melakukan uji coba (riyadha), melakukan perenungan, melalui pendekatan ilham, melakukan penyucian diri (tazkiyat an-nafs), dan yang terakhir adalah mengingat (zikir). Anam dan Sholikhah (2018) dalam jurnalnya yang berjudul Konstruksi Pendidikan Islam Berbasis Laduni Quotient memformulasikan bahwa ilmu Laduni adalah sebuah kecerdasan yang bisa disebut dengan Laduni Quotient (LQ) yang merupakan sebuah kecerdasan yang terakumulasi dari kecerdasan yang ada dalam otak dan hati.
Menurut berbagai pendapat, secara garis besar pengetahuan tantang ilmu Laduni terdapat di dalam kata مِنْ لَّدُنَّا dalam al-Qur’an surah al-Kahf ayat 65 yang berbunyi:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
Artinya: “Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
Jika kita tinjau kembali mengenai pengertian ilmu Laduni yang mengatakan bahwa ilmu Laduni adalah ilmu yang diperoleh tanpa usaha, maka itu tidaklah tepat. Menurut pendapat Dr. Mohammad Nasih, seorang pakar ilmu politik dan juga memiliki disiplin ilmu tafsir mengatakan bahwa lafadz مِنْ لَّدُنَّا mengandung dhamir yang berarti kami (نّا) hal ini mengisyaratkan bahwa Allah Swt memberikan ilmu melalui perantara, bukan ilmu itu secara ujug-ujug datang sendiri.
Banyak ayat-ayat yang lain yang bisa kita jadikan contoh dalam kasus ini. Seperti di dalam surah al-Baqarah ayat 3 yang berbunyi:
ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
Kata رَزَقْنَٰهُمْ di dalam mempunyai cara kerja yang sama dengan kata sebelumnya yang ada di dalam surah al-Kahf ayat 65, yaitu Allah Swt memberikan rizki kepada hambanya melalui sebuah perantara, hal ini bisa melalui usahanya sendiri dan melalui orang lain. Selain itu, kata yang digunakan pun juga berbeda dalam surah al-Kahf menggunakan kata min ladunna bukan menggunakan kata min ladunni, oleh karena itu jika ayat ini dikontekskan dengan ilmu Laduni maka maknanya sudah berseberangan.
Di sisi lain menurut teori dasar pendidikan, seseorang dapat memiliki ilmu pengetahuan hanyalah jika dia melakukan aktivitas yang disebut belajar. Karena belajarlah, manusia dapat berkembang baik secara fisik dalam ruang lingkup motorik dan secara psikis dalam ruang lingkup afeksi (Wahab & Rosnawati, 2021). Sebagai makhluk yang bersifat materi, manusia harus melakukan sebuah usaha-usaha yang riil untuk mencapai sebuah perubahan di dalam dirinya. Ini adalah sebuah konsep dasar yang seyogianya telah dipahami oleh masyarakat.
Pada zaman sekarang ini, umat manusia justru mengalami tantangan yang relatif akan lebih kompleks. Pada era industri ini, konsep kapitalisme lah yang harus kita semua waspadai. Seseorang yang berkuasa akan semakin berkuasa dengan berbagai usahanya. Jika umat Islam terus dihantui dengan konsep-konsep yang bertentangan dengan kehendak akal pikiran, maka umat Islam akan terus tertinggal oleh bangsa lain yang senantiasa mengedepankan perkembangan ilmu pengetahuan dengan basis riset dan teknologi. Konsep ilmu Laduni harus benar-benar didekonstruksi secara total demi terwujudnya masyarakat muslim yang memiliki budaya akademis dan terus maju seiring dengan perkembangan zaman.
Wallahu a’alam bi al-sawwab

