“Terkadang, terdapat beberapa hal yang tidak perlu kita pikirkan terlalu jauh, mengingat puncak dari pengetahuan manusia adalah kesadaran akan ketidaktahuannya akan apapun.”
***
Buang asumsi bahwa si penulis sebetulnya tidak suka belajar hanya karena secara tidak langsung pernyataan di atas terlihat bertolakbelakang dengan kewajiban manusia untuk belajar dan berpikir, sehingga manusia dapat terbebas dari belenggu kebodohan. Tidak, sama sekali tidak demikian. Hal yang perlu disadari oleh semua manusia adalah cara mereka memandang kata “bodoh” itu sendiri. Sampai saat ini, aku masih bersitegang dengan Cogito Ergo Sum milik Rene Descarters.
Akan kuceritakan sepenggal pengalamanku terkait pembahasan ini, tentang ketidaktahuan yang mencerminkan bahwa manusia tidak bisa lepas dari kebodohan. Pada bulan Oktober di tahun 2022, aku dipertemukan dengan salah seorang profesor dari Universitas Airlangga, Surabaya. Kami berada dalam satu forum seminar Budi Daya Ternak dan Pakan Alternatif—yang kebetulan—beliau menjadi salah satu keynote speaker di sana. Ya, beliau pakar teknik pangan, akademisi proaktif, terpampang jelas dengan Honoris Causa (gelar HC) yang menghiasi namanya yang cukup panjang. Kepada bapak, mohon maaf jika ada kesalahan dalam pengejaan dan penyebutan identitas. Sudah lama dan saya sedikit lupa detailnya. Sebagai penyimak subjektif, jujur saja, aku kurang tertarik dengan pembahasannya terkait dengan dinamika beternak, hingga sampailah dia pada celetuk jenaka yang audience tangkap sebagai lelucon, namun bagiku itu sangat bermakna.
“Bodoh itu terbagi menjadi 3; bodoh mutlak, bodoh statis, dan bodoh dinamis. Apa perbedaannya? Bodoh mutlak adalah suatu bodoh yang pengidapnya bodoh dan tak sadar bahwa ia bodoh, sedangkan bodoh statis adalah suatu bodoh yang mana pengidapnya tahu bahwa ia bodoh, namun enggan mengambil aksi. Terakhir, bodoh dinamis, yang mana pengidapnya merasa bodoh dan berusaha keras untuk beranjak dari kebodohan itu. Pertanyaan saya satu. Kita ada di level bodoh mana sekarang?” Pernyataan tersebut kemudian disambut tepuk tangan hadirin yang riuh, termasuk aku.
Kami sempat berbincang-bincang sedikit tentang disrupsi peternakan terhadap masterplan of futuristic bussiness atau rancangan bisnis masa depan, pasca forum diadakan. Aku ingin kenal dan tahu bagaimana cara beliau memandang suatu problematika yang ada, ternyata kami sefrekuensi. Ada kesetujuan antara aku dengan pendapat beliau di seminar tersebut. Tetapi ada satu kejanggalan yang belum sempat kami diskusikan bersama, yakni “bodoh” secara substansial. Kami dipisahkan oleh alasan urusan penting, sembari menaruh harap kami dapat ngopi dan ngobrol kembali di lain hari.
Menurut KBBI, kata bodoh dapat diartikan sebagai ketidakmengertian, ketidakpahaman, ketidaktahuan, dan ketidakmampuan untuk memahami. Tentu saja hal ini menciptakan bentrok apabila kita menarik korelasi dari definisi bodoh terhadap salah satu quote milik Socrates, “Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa Anda tidak mengetahui apa-apa.”
Perpaduan gagasan Profesor-Honoris Causa dengan Socrates membentuk suatu simpulan bahwa manusia akan selamanya berada dalam ruang kebodohan. Kita perjelas dari hal yang mungkin teman-teman sedikit tendensius dalam memerhatikannya, bodoh dinamis. Katakanlah si bodoh dinamis memiliki ambisi yang kuat untuk beranjak dari kebodohannnya. Ia skeptis, kepo, have a huge curiosity about anything, dengan harapan besar baginya untuk mencapai suatu kebijaksanaan. Apakah dengan itu ia akan luput dari kebodohan? Tidak. Justru secara paradoks, ia berusaha meraih kebodohan yang lain. Bukankah kata Socrates, kebijaksanaan adalah ketidaktahuan akan apapun yang dapat diartikan sebagai suatu kebodohan? Hanya saja level keduanya berbeda. Si bodoh dinamis dan bijaksana lebih tahu di mana ia berdiri. Pun, jika kita taruh si bodoh dinamis pada prosesnya meraih kebijaksanaan (belum bijaksana), maka ia tetap menjadi si bodoh karena terdapat kesenjangan antara lantai di mana ia berpijak dengan lantai kebijaksanaan. Ada hal yang tidak ia ketahui, entah banyak maupun sedikit. Ia tetap menjadi si bodoh yang memiliki ketidaktahuan.
Lantas, apa yang terjadi dengan bodoh-bodoh lainnya? Jangan tanyakan, karena si bodoh mutlak akan terus berada dalam kebodohan dan kesadaran yang nihil. Sama halnya dengan si bodoh statis, namun betapa sia-sianya dia yang telah diberi secercah kesadaran, namun enggan mencari jawaban. Pada hakikatnya, manusia tidak tahu apa-apa, mereka hanya sekadar merasa bahwa mereka tahu. Kasarnya, mereka sok tahu. Padahal, untuk mencapai suatu pemahaman tersebut tidaklah sesimpel apa yang telah mereka kuasai dan sejauh mana proses yang mereka jalani. Ini berlaku untuk segala hal, bahkan sebutir pasir pun memiliki tingkat kerumitan yang tinggi, baik komposisi, prosesi, dan makna yang ada di sebaliknya. Hal ini dapat dibuktikan oleh kondisi manusia dari zaman dulu, hingga saat ini yang tidak pernah luput dari kesalahan dan evaluasi. Pendapat manusia saja tidak ada yang mutlak. Tapi tolong bedakan antara nabi yang diberi pengetahuan secara khusus oleh Tuhan dengan manusia petakilan semacam kita di bumi masa kini.
Manusia itu bodoh, yang membedakan antara satu bodoh dan bodoh lainnya terletak pada kesadaran manusia itu sendiri. Kesadaran yang menggerakkan manusia untuk berpindah dari satu bodoh ke bodoh lainnya, sehingga komplitlah kesadaran mereka akan ketidaktahuan mereka yang abadi, ini manusiawi.
Kemungkinan besar, topik ini memiliki keterkaitan dengan tingkat kebijaksanaan, kesadaran, dan pengetahuan Tuhan yang holistik. Bisa jadi, ada kaitannya dengan pemisahan nama “Maha Bijaksana, Maha Teliti, dan Maha Mengetahui,” dari 99 Nama Tuhan. Bahkan “Maha Mengetahui” muncul dua kali di sana. Apa kaitannya dengan kesadaran, karena Tuhan dikenal sebagai dzat dengan kesadaran tertinggi, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Maha Melihat dan tidak pernah tidur? Bagaimana bisa? Mungkin nanti.
NB : Tulisan ini hadir atas prasangka burukku atas kebuntuan berpikir, insecurity, dan kebingungan yang aku alami sedari lama ia terbentuk, namun anehnya ia tak kunjung terjawab. Dampaknya cukup parah, sehingga hubunganku dengan manusia, bahkan dengan Tuhan sekalipun harus menjadi sedikit kacau. Cara pandangku terhadap hidup menjadi sedikit rancu. Setidaknya, tulisan ini dapat menjadi anti-tesis sekaligus obat penenangku sebelum tanda tanya baru muncul lagi ke permukaan. Tulisan ini tidak anti-kritik, teman-teman boleh membantah apa saja yang telah tertulis di sini. Aku yakin, kita semua bodoh dinamis di sini.
Salam hangat, Penulis.
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang periode 2022/2023, Ketua Terpilih Pengurus Literasi SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PR IPM Planet Nufo periode 2022/2023, Penulis 2 buku; Mengkaji Hari dan Arsip Insomnia

