Site icon Baladena.ID

Makna Relasi Anak dan Orang tua dalam Kehidupan Modern Sesuai Syariat Islam ( Kajian Surah Al Isra 23-27)

*Oleh: Mutiah Puryanti & Dr.Hamidullah Mahmud, M.A, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Keluarga dalam satu lingkup kecil masyarakat, secara umum memiliki ikatan emosional dan sosial. Dalam Islam, keluarga sering disebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai fondasi utama masyarakat dan institusi biososial yang sesuai dengan fitrah manusia. Jika dimasa lampau relasi anak dan orang tua berpusat pada peran tradisional, dimasa kini hadir tantangan baru yang mengubah cara ajar setiap orang tua dengan anak. Salah satu faktor utama adalah arus teknologi dan informasi semakin modern. Media sosial, perangkat pintar, dan koneksi internet yang nyaris tanpa batas telah menciptakan gap (kesenjangan) baru antara generasi.

Anak-anak tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan instan, seringkali lebih baik  dalam teknologi daripada orang tua. Sebaliknya orang tua belajar cara mengasuh anak di tengah ancaman tayangan konten negatif, dan kesulitan untuk semaksimal mungkin memantau aktivitas digital anak. Kesenjangan ini sering kali memicu konflik komunikasi dan jarak emosional, di mana interaksi tatap muka berkurang digantikan oleh kesibukan masing-masing dengan perangkat digital masing-masing.

Model pengasuhan (parenting style) juga terus bergeser. Orang tua modern cenderung ingin menjadi “teman” bagi anak-anak mereka, yang terkadang membuat batasan menjadi terbuka. Di sisi lain, arus pemikiran setiap anak dengan orang tua sebagai manusia lebih berani mempertanyakan atau bahkan menolak pandangan orang tua. Hal ini menempatkan orang tua pada dilema, bagaimana menjadi sosok yang suportif dan otoritatif secara bersamaan, tanpa merusak keharmonisan.

Relasi antara anak dan orang tua dalam keluarga adalah satu aspek penting dalam kehidupan keluarga yang mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam. Dalam keluarga orang tua menjadi dasar utama dalam membangun keharmonisan, kasih sayang, serta nilai moral dan spiritual. Dalam menghadapi hal ini penting untuk kembali mencari pedoman dan prinsip keagamaan yang mampu menawarkan solusi atas renggangnya relasi ini.

Sebagai contoh, ajaran Islam tentang Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua) seperti yang termaktub dalam QS Al-Isra’ Ayat 23-27 menawarkan petunjuk yang tak lekang oleh waktu. Ayat-ayat ini bukan hanya berbicara tentang ketaatan, tetapi juga tentang:

Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana prinsip dalam QS Al-Isra’ Ayat 23-27 dapat menjadi landasan moral dan panduan bagi anak dan orang tua dalam memperkuat relasi keluarga di tengah hiruk pikuk dan tantangan era modern ini. Di dalam ayat 23-24 merupakan bagian dari Al-Qur’an yang membahas tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua dan dijelaskan mengenai larangan anak berkata kasar

Ayat 23 “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu”

Maksud jangan menyembah selain Allah adalah tidak menyekutukan Allah, tidak ada Ibadah selain kepada Allah. Maksud tidak ada Ibadah selain kepada Allah adalah agar manusia memahami betapa pentingnya berbuat baik terhadap ibu bapak dan mensyukuri kebaikan orang tua

Alasan Allah memerintahkan berbuat baik kepada orang tua ialah

Ayat 24 “Sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”

Kata kasar dan Kotor ialah “ah” karena sikap tersebut kurang disenangi dan sifat sensitif lansia. Tidak boleh menghardik dan membentak, yang di sukai ialah perkataan yang lembut, sopan santun

Ayat 25  “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam dirimu. Jika kamu adalah orang-orang yang saleh, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat”.

Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati (niat), maka berusaha menjadi orang yang Saleh Dan tulus.

Ayat 26 dan 27 “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Selain orang tua, kerabat dekat, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan juga mendapatkan hak mereka. Di sinilah peran anak dalam keluarga, selain memenuhi tugas terhadap orang tua, juga diajak untuk bersikap adil dan perhatian terhadap anggota keluarga lain serta lingkungan sosial. Mengingatkan tentang bahaya pemborosan. Orang-yang menghambur-hamburkan harta tanpa hikmah disebut sebagai “saudara-saudara setan”. Hal ini mengingatkan anak dalam keluarga agar bijaksana dalam penggunaan harta, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga mempertimbangkan orang tua, kerabat, dan mereka yang membutuhkan.

Kesimpulan dari artikel ini ialah Keutamaan Birrul Walidain, berbakti kepada orang tua ditempatkan sejajar dengan tauhid (mengesakan Allah), menunjukkan kedudukan amalan ini sebagai amalan fundamental dalam Islam. Tingkat Kelembutan Komunikasi, Larangan mengucapkan kata “ah” atau membentak. Perintah untuk merendahkan diri dengan penuh kasih sayang dan mendoakan orang tua merupakan praktik kasih sayang timbal balik yang diwajibkan, baik saat orang tua hidup maupun setelah wafat. Keseimbangan Moral dan Sosial sebagai pengingat bahwa kebaikan kepada orang tua harus diiringi dengan kesadaran sosial.

Dengan demikian, QS Al-Isra’ 23-27 menjadi fondasi spiritual dan praktis untuk membangun keluarga yang tentram di mana anak menjadi pelaksana bakti yang tulus dan orang tua menunaikan amanahnya dengan penuh hikmah.

Exit mobile version