Site icon Baladena.ID

Makin Miskin Karena Rokok

Oleh: Naya, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Siapa yang tidak mengenal rokok? Benda kecil yang berbentuk tabung berukuran 70 mm ini berisi tembakau kering yang mengandung berbagai macam zat-zat kimia. Mulai dari kalangan orang tua, remaja, bahkan anak-anak pun sudah mengenal rokok. Rokok sudah tidak asing lagi bagi kehidupan kita. Setiap hari kita terbiasa menjumpai perokok aktif di berbagai sudut wilayah. Seakan itu sudah menjadi adat, banyak orang yang melazimkan fenomena tersebut. Bahkan bagi kelompok masyarakat tertentu rokok sudah bisa dikategorikan sebagai kebutuhan pokok tersendiri.

Di pedesaan misal, rokok menjadi suguhan wajib bagi para pekerja kuli ataupun tamu yang hendak berkunjung. Jika tidak ada rokok rasanya kurang Afdhol. Banyak yang beranggapan bahwa rokok dapat menghilangkan stress, padahal pada kenyataannya rokok justru mendatangkan bahaya yang sangat besar. Bahaya rokok sangatlah besar hingga bisa mengancam nyawa manusia. Bahaya rokok juga tidak hanya mengancam si perokoknya saja, namun bagi orang-orang yang turut mengirup asap rokok, juga berpotensi terpapar asap rokok yang menyebabkan kanker hingga kematian. Coba bayangkan, jika kebiasaan-kebiasaan tersebut terus dilakukan, berapa besar potensi kematian dan kanker di masyarakat?

Rokok mengandung nikotin yang menyebabkan pemakainya mengalami kecanduan. Kecanduan inilah yang akhirnya melahirkan kebiasaan kemudian melekat kuat menjadi budaya. Pada masyarakat menengah kebawah, kebiasaan ini merupakan bahaya yang besar karena selain dapat membahayakan kesehatannya, juga membahayakan perekonomiannya. Maksudnya sifat kecanduan ini akan berubah menjadi kebutuhan yang memaksa pecandunya untuk terus mengonsumsi rokok. Coba bayangkan, jika rata-rata perokok aktif tidak cukup merokok sebatang atau bahkan sebungkus sehari? Sebungkus rokok saja jika dihargai 20 ribu, maka dalam satu bulan mereka dapat menghabiskan 600 ribu hanya untuk memenuhi kebutuuhan rokoknya sja. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil terutama bagi masyarakat kecil.

Selain itu, penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh rokok juga menurunkan produktivitas. Jika seorang kepala keluarga dalam satu keluarga terkena penyakit akibat merokok, maka orang tersebut tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, mereka harus merawat dan menjaga anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut. Kondisi tersebut dapat menyulitkan aktivitas produtif suatu keluarga. Waktu yang seharusnya di gunakan untuk bekerja justru hilang karena sakit ataupun merawat dan mengurusi anggota keluarga yang sakit. Merawat orang sakit tentunya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perlu banyak biaya agar presentase kesembuhan semakin besar.

Menurut sri mulyani, menteri keuangan Indonesia, rokok adalah komponen pengeluaran terbesar masyarakat miskin. Berdasarkan data yang dilaporkan olejh badan statistic, rokok masih menjadi konsumsui utama masyarakat Indonesia. Konsumsi rokok tersebut naik 4,3% dari Rp 73.442 perkapita perbulan perbulan maret 2020. Selain itu konsumsi rokok merupakan pengeluaran tertinggi ke dua setelah beras diantara kelompok pengeluaran yang lain. Menurut data yang dikeluarkan oleh BPS, dalam satu bulan, pengeluaran masyarakat Indonesia untuk setara dengan gabungan dari konsumsi susu, telur, ayam, dan sayur-sayuran. Jika dihitung secara keseluruhan, lebih dari 2 juta yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok diluar keperluan rumah lainnya seperti biaya pendidikan dan lain-lain. Biaya yang cukup besar bukan?

Itulah mengapa kebiasaan merokok sangat berbahaya terlebih bagi masyarakat kelas bawah. Kecanduan maupun kebiasaan yang menjadikan sebagai kebutuhan pokok harus segera dihentikan karena dampaknya yang begitu besar. Kita sebagai generasi yang sadar akan bahaya rokok harus mengajak dan mengedukasi masyarakat untuk tidak membudidayakan kebiasaan merokok agar tidak menurun kepada generasi selanjutnya. Jika kebiasaan ini terus turun temurun ke generasi berikutnya, maka hal itu akan menjadi ancaman tersendiri bagi kemajuan bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version