Site icon Baladena.ID

Mahasiswi KKN TIM II Universitas Diponegoro Menggagas Kokedama untuk Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

Desa Karanggatak, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (05/08/2023)

Mata pencaharian masyarakat Desa Karanggatak yang mayoritas petani, salah satunya kelapa merupakan salah satu potensi yang dimiliki di desa tersebut, namun disamping hal tersebut terdapat permasalahan yaitu banyaknya limbah sabut kelapa. Sabut kelapa tersebut di bakar oleh masyarakat Desa Karanggatak dan belum dimanfaatkan dengan sempurna. Namun, jika dilihat lebih jauh limbah sabut kelapa dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak yang postif seperti dimanfaatkan menjadi kokedama.

Kokedama berasal dari Jepang dan menjadi populer dalam pertanian kreatif dan ramah lingkungan. Kokedama berasal dari bahasa Jepang yaitu “koke” berarti “lumut” dan “dama” berarti “bola”. Sehingga secara umum kokedama sabut kelapa diartikan menjasi sebuah metode menanam tanaman dalam bola tanah yang terbuat dari campuran sabut kelapa dan tanah, yang diikat dengan tali atau anyaman khusus.

Di negara asalnya, Kokedama dikenal sebagai tanaman bonsai miskin. Hal tersebut dikarenakan tanaman dikerdilkan untuk berumur panjang dengan meminimalkan biaya yang dikeluarkan.

Kegiatan tersebut menargetkan Karang Taruna dan Ibu-Ibu PKK Desa Karanggatak dan diprakarsai oleh Afifah Nurul Nur Hidayah dari Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Rangkaian kegiatan tersebut terdiri dari sosialisasi terkait kokedama sabut kelapa, demo proses pembuatan kokedama sabut kelapa, dan evaluasi.

Rangkaian monodisiplin tersebut dimulai dari hari Selasa (20/07/2023) dengan memperkenalkan terlebih dahulu cara menanam metode kokedama, manfaat yang diberikan, alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat kokedama sabut kelapa.

Selama kegiatan sosialisasi berlangsung, ibu-ibu PKK Desa Karanggatak sangat antusian terkait kokedama sabut kelapa terlihat dari berbagai pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya oleh ibu-ibu PKK. Setelah kegiatan sosialisasi selesai, juga diberikan leaflet dan brosur untuk dijadikan bahan pembelajaran untuk terus mengembangkan kokedama sabut kelapa. Kegiatan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan tahapan pembuatan kokedama dan pada kegiatan ini mendapatkan banyak perhatian dari ibu-ibu PKK yang mengikuti kegiatan tersebut.

Memastikan materi yang disampaikan telah dimengerti oleh ibu-ibu PKK yang menghadiri kegiatan tersebut, maka dilaksanakan kegiatan evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk memastikan kader yang dilatih telah benar-benar mengerti dan memahami terkait materi dan pelatihan yang telah diberikan, sehingga dapat disebarluaskan di seluruh Desa Karanggatak untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Perawatan tanaman Kokedama ini tergolong praktis dan tidak mengeluarkan banyak tenaga, namun yang terpenting dari perawatan ini adalah tidak meletakkan di tempat yang langsung menerima cahaya matahari. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga tanaman Kokedama untuk selalu terhidrasi dan tidak kekurangan air yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Supaya selalu terhidrasi, tanaman Kokedama cukup dicelupkan ke dalam ember berisi air bersih, dan biarkan meresap selama beberapa menit lalu gantung kembali hingga kering. Selain memerlukan air untuk tetap menjaga tanaman terhidrasi, tanaman kokedama juga memerlukan pupuk cair untuk menunjang pertumbuhannya. Proses pemberian pupuk cair seperti pemberian air, yaitu dengan menuangkan pupuk cair ke dalam ember dan mencelupkan kokedama selama beberapa saat untuk meresap ke dalam tanaman.

Penulis : Afifah Nurul Nur Hidayah
DPL : Reny Wiyatasari, S.S., M.Hum.
Lokasi : Desa Karanggatak, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali

Exit mobile version