Site icon Baladena.ID

Lupa Tasyahud Awal, Apa yang Harus Dilakukan?

Duduk tasyahud awal merupakan salah satu gerakan shalat yang tidak jarang terlupakan. Namun, tidak jarang juga ada yang belum memahami tindakan apa yang harus dilakukan ketika ia melewatkan gerakan duduk tasyahud awal. Dalam artikel ini, penulis mencoba informasikan tindakan yang harus dilakukan, apabila dalam shalat lupa melakukan duduk tasyahud awal, sesuai dengan dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa hukum duduk tasyahud awal masuk dalam kategori sunah ab’adh. Dalam kitab I’anatut Thalibin, Abu Bakar Muhammad bin Syatha’ Dimyathi menjelaskan bahwa sunah ab’adh adalah sunah yang apabila tidak dilakukan, maka dianjurkan untuk digganti dengan sujud sahwi. Sunah ini dinamakan ab’adh karena menjadi bagian (ba’dhu) dari rukun shalat.

Tuntunan shalat, sebagaimana yang kita ketahui, Rasulullah Saw. memerintahkan kepada umat Islam untuk melakukan shalat sebagaimana shalat yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. itu sendiri. Dalam peristiwa ada gerakan shalat yang terlupakan, Rasulullah pun memberikan contoh tindakan tersebut. Tentu, kelupaan Rasullah Saw. ini bukanlah hal yang disengajanya, melainkan peristiwa yang menunjukan bahwa Rasulullah Saw. adalah manusia biasa juga yang tidak luput dari kelupaan tersebut.

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika kita melewatkan duduk tasyahad awal?

1) Apapila lupa melakukan duduk tasyahud awal, tetapi ingat sebelum sempurna berdiri tegak.

Bagi orang yang lupa melakukan tasyahud awal, tetapi ia ingat sebelum sempurna berdiri tegak, maka ia boleh kembali mengerjakan duduk tasyahud awal. Hal ini sebagaimana hadis yang dirirwayatkan oleh Abu Daud:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ يَعْنِي الْجُعْفِيَّ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ شُبَيْلٍ الْأَحْمَسِيُّ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَإِنْ ذَكَرَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ اسْتَوَى قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَلَيْسَ فِي كِتَابِي عَنْ جَابِرٍ الْجُعْفِيِّ إِلَّا هَذَا الْحَدِيثُ

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Amru dari Abdullah bin Walid dari Sufyan dari Jabir yaitu Al Ju’fi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin Syubail Al Ahmasi dari Qais bin Abu Hazim dari Al Mughirah bin Syu’bah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila seorang imam terlanjur berdiri pada raka’at kedua, dan ingat sebelum berdiri tegak, hendaknya ia kembali duduk, dan apabila telah berdiri tegak hendaknya ia tidak duduk dan sujudlah dua kali yaitu sujud sahwi.” Abu Daud berkata; “Dan dalam kitabku tidak di sebutkan dari Jabir Al Ju’fi kecuali dari hadits ini,” (Sunan Abu Daud: 872).

2) Apabila lupa melakukan duduk tasyahud awal, tetapi ingat setelah sempurna berdiri tegak.

Bagi orang yang lupa melakukan duduk tasyahud awal, tetapi setelah saat ia berdiri tegak, maka ia tidak diperkenankan kembali ke posisi duduk tasyahud awal. Hal ini sebagaiman hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah:

الْفَضْلُ بْنُ يَعْقُوبَ الْجَزَرِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، ح وَثنا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ، نا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُزَ، عَنِ ابْنِ بُحَيْنَةَ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. وَقَالَ يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ فِي حَدِيثِهِ: فَسَبَّحْنَا بِهِ، فَلَمَّا اعْتَدَلَ مَضَى وَلَمْ يَرْجِعْ قَالَ الْفَضْلُ: فَسَبَّحُوا بِهِ، فَمَضَى وَلَمْ يَرْجِعْ

Al Fadhl bin Ya’qub Al Jazari menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abu Adi menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa’ad (Ha’) Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Hurmuz, dari Ibnu Buhainah, ia berkata,  Al Fadhl berkata, “Maka para sahabat mengingatkan beliau dengan ucapan tasbih, namun beliau tetap meneruskan shalatnya dan tidak kembali duduk tahiyyat,” (Shahih Ibnu Khuzaimah: 1030).

Dalam hadis riwayat Ahmad dijelaskan juga bahwa:

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ جَابِرٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شِبْلٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ أَمَّنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ فَقَامَ فَقُلْنَا سُبْحَانَ اللَّهِ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يَعْنِي قُومُوا فَقُمْنَا فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدُكُمْ قَبْلَ أَنْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ وَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ

Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Jabir dari Al Mughirah bin Syibl dari Qais bin Abu Hazim dari Al Mughirah bin Syu’bah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengimami kami shalat zhuhur atau ashar, lalu beliau (langsung) berdiri (pada rakaat kedua) hingga kami membaca, “SUBHAANALLAH.” Dan beliau membaca: “SUBHAANALLAH.” Lalu beliau memberikan isyarat agar mereka berdiri, maka kami pun berdiri. Selesai shalat beliau langsung sujud dua kali lalu bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ingat sebelum tegak berdiri maka hendaknya ia duduk, tetapi jika telah tegak berdiri maka janganlah ia duduk,” (Musnad Ahmad: 17512).

Syekh Ibrahim al-Bajuri menyebutkan pendapat Ibnu Hajar dalam Hasyiyah-nya, jika ia tetap kembali ke posisi tasyahud ketika sudah berdiri tegak dan tahu bahwa itu haram, maka shalatnya batal. Namun, jika dalam keadaan lupa atau tidak tahu akan keharamannya, maka shalatnya tidak batal, tetapi harus langsung berdiri ketika sudah ingat.

Namun, apabila ia sebagai makmun yang lupa duduk tasyahud awal dan langsung berdiri, maka ia wajib kembali ke posisi tasyahud awal untuk mengikuti imam, meskipun makmun tersebut sudah berdiri tegak. Jika ia melakukannya dengan sengaja, menurut al-Zarkasi, ada dua pandangan. Pertama, ia dibolehkan untuk melanjutkan gerakan shalatnya dan berniat mufaraqah (memisahkan diri). Kedua, disunnahkan kembali tasyahud mengikuti imam, tetapi kesengajaannya akan menghilangkan fadhilah (keutamaan) shalat berjamaah.

Sedangkan jika imam yang lupa duduk tasyahud awal, maka makmum wajib mengikuti gerakan imam dan tidak boleh menyelisihi gerakannya. Jika makmun tetap melakukannya dengan sengaja, maka shalatnya batal. Sebab, kewajiban makmum untuk mengikuti gerakan imam sebagaimana dicontohkan dalam hadis berikut ini:

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ قَالَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ الْأَسْدِيِّ حَلِيفِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Rumh telah mengabarkan kepada kami al-Laits dari Ibnu Syihab dari al-A’raj dari Abdullah bin Buhainah al-Asdi yaitu kawan yang telah bersumpah setia dengan Bani Abdul Muththalib, “Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah shalat Zhuhur, dalam shalat itu beliau langsung berdiri, padahal seharusnya duduk (tasyahud awal). Maka ketika shalat telah cukup (empat raka’at), maka beliau bersujud dua kali dengan membaca takbir setiap kali sujud, yaitu ketika duduk sebelum salam. Orang-orang ikut pula sujud bersama-sama dengan beliau, yaitu pengganti tasyahud awal yang terlupa,” (Shahih Muslim: 886).

Namun jika imam yang berdiri dalam posisi tergak itu kembali ke posisi duduk tasyahud awal, maka makmum tidak diwajibkan mengikuti kesalahannya. Apalagi jika imam tahu akan keharaman melakukan itu, tetapi ia tetap melakukannya dengan sengaja, maka shalat imam batal dan lebih baik makmun berniat mufaraqah dari shalatnya imam.

Oleh: Buya Alamsyah, Alumni Pondok Pesantren Hubulo Gorontalo

Exit mobile version