Berbulan-bulan engkau mengandung, tiada hari tanpa kata lelah nan letih. Memang, aku sungguh tak tau, keadaan juga kejadian kala itu, yang sama sekali tak mungkin ku deskripsikan satu persatu. Usahaku sangatlah sia-sia, jikalau digunakan untuk mengingat-ingat maupun menanyakan, kejadian kala itu. Sebab, itu adalah salah satu cara membuang waktu sisa hidupku. Sangat sulit tuk dilupakan, kebaikannya pun juga tak mungkin tuk dibalas dengan setimpal. Ia adalah Ibu.
Seseorang yang memiliki peran yang sangat penting, bagi kehidupanku, juga makhluk hidup pada umumnya. Entah bagaimana keadaan ku saat ini, jikalau dulu Ia tak melakukan hal yang sangat berperan bagi kehidupanku. Beribu-ribu jeritan, tawa, tangis, dan sedih bahagialah yang menjadi pelampiasanmu. Yang seluruh ekpresi itu, keluar dari paras wajahmu. Hingga terdengar suaraku, kau sudah tak sadarakan diri.
Berpisah ruangan darimu, sungguh sulit, sebab nyawalah pertaruhannya. Yang tak sedikit dari kaum Hawa, gagal menjadi sepertimu. Banyak dari mereka menyerah, sebelum mencapai hasil yang indah. Tapi kini, kau berhasil melakukannya. Tak hanya aku saja, melainkan kakak juga adikku yang kau hasilkan dari perjuanganmu.
Tak cukup sampai disitu, perjuanganmu masih panjang jikalau diuraikan. Kau juga pernah bercerita, akan kejadian 2 tahun disapih olehmu. Hal yang tak mudah bukan? Perlu mengatur makanan, juga mencari bahan pangan yang berkualitas, demi hasil yang puas. Tak bisa seenaknya sendiri, harus lebih mampu mengatur diri. Itu merupakan jerih payahmu padaku. Tak sedikit dari kalanganku, yang kurang mengkonsumsinya, yang menyebabkan banyak dari mereka yang kurang akan bahan pokok yang dibutuhkan kala itu. Berontakan, jeritan, juga tangisan yang bisa ku lontarkan. Tak mengerti jati diri, juga berbuat sewenang hati. Tanpa ada rasa sedikitpun mengasihani.
2 fase berhasil kau lewati, sedangkan aku hanya bisa bersenang hati. Masih ada beberapa fase lagi, yang masih terngiang-ngiang di pikiranku, hingga kini. Balita (bawah lima tahun) merupakan usia yang masih sangat dini, jikalau dibandingkan umur manusia pada umumnya. Memandikan, merawat, maupun menyuapi adalah tanggung jawabmu, yang kini aku sadar kalau aku hanya merepoti. Mungkin kala itu aku memang tidak bisa juga tak mampu. Tapi mengapa harus Ibu? Atau karena itu memang sudah perannya juga takdirnya, untuk melakukan hal seberat ini? Yang katanya, tak sedikit dari kalangannya gagal melakukan peran seperti ini.
Aku menyesal, karena aku telat sadar. Kini aku yakin, kalau belum tentu ada orang seberuntung aku. Tadi saat sang fajar masih menyinari, salah satu kakel (kakak kelas) curhat denganku. Ia kehilangan peran ibu, di kehidupannya, bahkan ia sering melihat kedua orang tuanya bertengkar, hanya karena hal yang tak wajar. Ia juga sudah tak tinggal lagi bersama orangtua kandungnya, entah perasaan apa yang ada dirinya. Yang jelas tak bahagia. Ia begitu kuat melawan kenyataan, mampu menahan tetesnya air mata yang seharusnya terjatuh. Perasaan di dalam dirinya, pastilah sangat teraduk-aduk. Kadang positif, juga negative. Teraduk dan keluarlah bukti dari segala kebohongan pada dirinya. Yaitu air mata. Yang keluar bercucuran layaknya darah yang memuncrat.
Mengeluh, menuntut hak, bahkan merusaklah yang sampai kini masih ku lakukan. Padahal sudah sering sekali diingatkan, tapi tetap saja tak ada perubahan. Semakin dewasa, semakin jarang di rumah. Berkeliaran malam-malam, tak ingat rumah, tak ada kabar. Seakan-akan ibu hanyalah pembantu, dan rumah hanyalah tempat penyimpanan. Yang datang hanya untuk meminta uang dan berganti pakaian, itu pun dua hari sekali. Bolos sekolah nan tak mengakui salah. Niatan berubah, sangat mustahil muncul. Salat saja bolong-bolong, ada aja alasannya, padahal kalau dipikir-pikir ya, tidak logis.
Tapi mau bagaimana pun juga, seperti itulah kehidupanku di masa lalu, yang semakin dewasa kenakalan bertambah, juga bergaul keberanianlah yang bertambah. Apakah ini karena pergaulan maupun lingkunganku? Atau karena diriku yang tak sadarkan diri? Sungguh aku sangat menyesal, meski waktu telat. Kau telah menua sedangkan aku semakin dewasa. Perjuangan dan jerih payahmu, belum selesai sampai disini. Aku masih SMP (sekolah menengah pertama) akupun masih memiliki seorang adik. Peranmu masih terus berkelanjutan, hingga ajal menjemput.
Kesadaran dan niat berubah mulai muncul, walau masih sebesar benih, yang jikalau dirawat pasti menunaikan hasil. Semua ini berawal dari ketiadannya (ayah) yang dirinya telah lebih dahulu pergi. Perannya juga sangat penting, yang kini seluruh beban dan tanggung jawabnya telah diwarisi ke aku, karena akulah satu-satunya. Jujur, aku belum siap, meski takdir berkata “Iya”. Mau bagaimanapun juga, ya tetap. Waktu tak bisa diulang, diawal hanya ada permulaan yang diakhirnya selalu penyesalan. Terulang-ulang, dan hampir pasti. Alurnya selalu seperti ini, tapi ya ini dapat diubah. Sekarang semua tergantung pada diriku sendiri, orang lain hanya dapat menasihati. Yang menentukan baik dan buruknya nasibku, dan tiada lagi yang menghalangiku.
Aku mengerti keadaanmu yang sesungguhnya, ketika adikku terlahir. Rela bangun tengah malam, hanya untuk anak-anaknya. Begitu kuatnya dirinya, dengan kesabarannya juga kasih sayangnya. Aku tak tau apa yang akan ku perbuat selanjutnya, yang jelas membuat dirimu bahagia. Selamat hari ibu, untukmu. Ini merupakan kali pertamaku mengucapkan. Setelah beberapa tahun lamanya. Kita tak bertemu, namun aku yakin kita saling rindu.
Aku juga ingin berminta maaf, atas segala kesalahan yang sudah kuperbuat. Baik itu sengaja, maupun tidak. Karena aku sangat menyesal, tak sempat berminta maaf padanya (ayah) sebelum pergi. Dan sekarang ia telah beda alam. Akupun tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, dan akan mengurangi kesalahan yang lain.
Beribu-ribu terimakasih, kuucapkan padamu. Tak tau lagi mau seperti apa. Tetaplah berbuat baik, walau orang lain berkata tidak. Jaga kesehatan juga penting, karna mencegah lebih baik. Jangan terlalu memaksakan diri, masih ada abang yang selalu menemani. Tulisan ini kubuat, guna menggugurkan kewajiban, juga sebagai hadiah untukmu. Kau adalah perempuan yang hebat. Tak semua orang, sesempurna dirimu. Kau juga pemberi pengalaman pertama dalam hidupku, yang sangat mustahil ku lupakan. Semangat, my mom!
Oleh: Rakhmat Bukhari Mahayana, Siswa Kelas 8 SMP Alam Nurul Furqon asal Depok, Ketua Umum Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo

