Tahun kedua lebaran di masa pandemi ini ku lewati di tanah rantau. Daerah yang sebelumnya tak kunal sama sekali. Situasi dan kondisinya begitu asing. Adat istiadatnya berbeda. Cara berbicara, menyantap makanan dan bertutur katapun berbeda. Namun tidak lantas hal itu membuatku harus kembali ke kampung halaman. Justru hal itulah yang semakin membuatku penasaran.
Awalnya, tak hanya keluargaku yang khawatir karena jauhnya aku dari hadapan mereka, jauh di tengah perantauan yang terpisah oleh selat. Mereka sangat khawatir, lalu akupun mencoba untuk menyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja.
Akupun heran tidak terbesit sedikitpun rasa takut di hatiku untuk tidak pulang kampung pada saat hari raya idul fitri. Pikiranku jauh lebih tentang bagaimana aku selalu berada di lingkungan keluargaku. Keluarga yang telah membesarkanku. Namun, kali ini sungguh berbeda, ketenangan yang tercipta terdapat sesuatu yang berbeda, karena ada sesuatu yang baru namun sama-sama membuatku merasa aman.
Sebut saja keluarga ideologis. Aku sangat bersyukur memiliki mereka. Mereka yang kumaksud adalah Bapak Aziz, Bang Fajri, Teteh Lida, Ayuk Diah, dan Mbak Ayu. Abang dan Mbak ini adalah bagian dari keluarga ideologisku yang ada di peratauan. Kami hidup bersama-sama layaknya teman yang melebihi saudara.
Kelima saudaraku di atas berasal dari daerah, suku, budaya, rasa, dan latar belakang yang berbeda-beda. Namun, hal tersebut bukanlah suatu masalah bagi kami untuk bisa menjaga, memahami, dan melindungi satu sama lain.
Bahkan di antara kami ber enam tersebut tidak ada yang asli dari Kota Lawang Sewu ini. Melainkan kami semua bersal dari berbagai daerah. Kami semua adalah adalah anak rantau yang hidup bersama. Asal daerah yaitu Palembang, Bandung, Sulawesi, Bangka Belitung, dan juga Rembang. Indah, bukan?
Namun, kami tidak merasakan ketimpangan di dalamnya. Aku pribadi merasakan bahwa mereka adalah keluargaku, abang dan mbakku, bukan lagi teman-temanku. Rasa ini tercipta dengan sendirinya, bahwa mereka adalah keluarga ideologisku.
Salah apabila banyak orang yang beranggapan bahwa hidup jauh di perantauan lantas kita akan terlantar, dan menjadi anak hilang. Anggapan itu hanya berlaku apabila kita tidak mau berinteraksi, membangun persaudaraan baik sesama umat Islam maupun non muslim sekalipun.
Alhamdulillah, aku tidak merasakan hal tersebut. Allah mempertemukan dan mengumpulkanku bersama keluarga ideologis di kota para wali ini. Moment yang pernah Aku bayangkan sebelumnya. Namun, itu terjadi nyata olehku.
Pada umumnya anak rantau itu khawatir apabila berhari raya di tanah perantauan, namun tidak untukku. Justru aku dapat menyambung dan menambah silaturahmi ke rumah saudara-saudara yang lain bersama keluarga ideologis. Bahkan, hal yang tidak pernah Saya lakukan sebelumnya yaitu mengintari jalan-jalan pengununan untuk menuju ke curuk di lereng gunung pun baru kutemukan pada saat lebaranku di tanah rantau ini.
Rasa lelah, letih, dan sedihpun tidak membayang dipikaranku. Hujan dan panaspun turut menjadi saksi bagiku bersama dengan keluarga idologis. Merantau bukan alasan untuk tidak memiliki saudara. Saudara itu dapat kita ciptakan dengan sendirinya.
Tidak perlu khawatir lebaran ditanah rantau akan tersingkir karena tidak memiliki saudara. Bukankah saudara dapat dapat diciptkan melalui silat silat al-rahim, silat al-fikr, al-fi’l?.
Wallahu a’lam bi al-showab.
Oleh: Yulia Mayasari

