Site icon Baladena.ID

Langkah untuk Bangkit dari Tirani Kuasa

Oleh: Kinanti Meichika Utami, Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo Semarang asal Cabang Yogyakarta

Intermediate Training Tahun 2022 Tingkat Nasional HMI KORKOM WALISONGO CABANG SEMARANG

HMI Back to PESANTREN

Sejak aku menginjakkan kaki di tanah rantauan dan memberanikan diri untuk melangkah ke kota pendidikan.

Kota pendidikan yang sekarang kita kenal adalah kota Yogyakarta yang dimana populasinya sangat beragam, suku, budaya dan karakter yang berbeda-beda.

Dari sini aku memulai untuk menata kehidupan, dengan mendaftarkan diri di salah satu universitas swasta.

Aku dengan segala kekurangan merasa belum puas dengan dinamika kampusku. Yang terhegemoni oleh tirani kuasa pendidikan yang seolah kehilangan arah juangnya.

Menyadari hal itu aku, mencoba mencari hal baru, sensasi baru, dinamika baru yang bisa membuat ku mengenal dunia lebih besar dan beragam.

Dari sinilah aku mengenal sebuah organisasi yang memberikan sebuah harapan dan kebebasan untuk berfikir secara bebas merdeka.

Organisasi himpunan mahasiswa Islam, adalah salah satu organisasi yang memupuk semangat dengan nada insan yang memiliki semangat keislaman dan keindonesiaan, kenapa harus HMI?

Di himpunan kita bisa berteman lebih dari saudara, berhimpun dengan kekuatan iman, ilmu dan amal, berhimpun dengan kualitas insan cita,.

Kualitas insan cita, salah satunya adalah berfikir secara kritis, objektif, berpengetahuan luas, mampu berdiri sendiri dengan pengetahuan yang di miliki, mampu mentransformasi perubahan, dan mampu menterjemahkan sesuai yang di sembunyikan.

Bagi ku, Negeri ini tidak cukup hanya di isi oleh kalangan yang elitis, harus ada suatu kalangan yang mampu mengisi kekuatan kekuasaan untuk melawan tirani kuasa.

Dengan kesadaran inilah, aku mencoba untuk melangkah, owh… ternyata berorganisasi bukan hanya dinamika serimonial semata, di himpunan bukan hanya proses latihan kader satu saja, melainkan ada tingkatannya yaitu latihan kader dua dan tiga,.

Sebagai kader yang baru berumur satu setengah tahun, ku mencoba untuk mengikuti proses tingkat kedua, ya walaupun aku banyak sekali berbagi cerita dengan senior-senior di warung kopi (kaffe).

Kaffe bukan hanya tempat tongkrongan anak muda yang ingin bercerita ngalur ngidul, di kaffe juga kita bisa bertukar pikiran.

Ada yang menarik dari cara kami mengenal himpunan, yaitu dengan pembullyan yang di lakukan oleh senior kami, bagi kami yang baru mengenal himpunan, merasa ada sesuatu yang baru.

Yaitu dengan pembullyan intelektual, membangkitkan semangat keilmuan, bangkit dari kebiasaan buruk, dan terutama pembullyan status kejombloan.

Ada suatu momen dimana aku menjadi bahan Bullyan karena kau mengenal salah satu kader yang itu memanfaatkan situasi dan kami jalan bareng beberapa saat.

Hal itu di ketahui oleh temanku, dan aku pun mendapatkan bagian untuk di jadikan bahan pembullyan itu.

Kembali kebiasaan kami di kaffe, kami terbiasa dengan metode senior yang merubah candaan, atau ghibah (gosip) dengan nada intelektual. Atau menggosipin para tokoh pemikir.

Sebut saja gosip intelektual, gosip yang paling menarik yang aku ingat sampai sekarang ini adalah gosip tentang kotak Pandora.

Yang mana dalam mitologi Yunani, seorang perempuan hidup satu-satunya dalam sebuah kota yang di kelilingi oleh laki-laki. Dalam kota tersebut seorang laki-laki tidak boleh menikah dengan gadis tersebut.

Namun seorang Pangerang merasa jatuh cinta terhadap perempuan itu, dan meminta ijin kepada dewa untuk menikahinya.

Dewa mengijinkan pernikahan itu tapi dengan satu syarat, jangan sampai kota Pandora di buka,. Akhirnya mereka menikah dan perempuan karena dia merasa penasaran dengan kotak itu yang dengan bungkus dengan berlian dan emas yang cantik, dan akhirnya kotak itu di buka hingga terjadilah bencana alam, (kiamat).

Dalam suana penasaran, kami pun bertanya siapa yang bersalah.? Senior itu pun menjawab. Di sini tidak ada yang salah atau benar. Dalam cerita ini, dalam kehidupan manusia ada harapan untuk hidup lebih baik.

Dalam cerita itu, akupun berfikir. Tenyata berhimpun bukan hanya proses latihan kader satu saja, melainkan harus melangkah ke jenjang yang lebih luas.

Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengikuti proses intermediate training HMI Koordinator Komisariat UIN Walisongo Cabang Semarang,

Dengan punuh harapan dan bangkit dari tirani kuasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version