Site icon Baladena.ID

Kwalitas Instruktur Cerminan Kwalitas Kader

Ing ngarso sung Tuladha, setidaknya itulah peran strategis Badan Pengelola Latihan “BPL” dalam lingkup Himpunan Mahasiswa Islam. Peran BPL dalam pengajaran nilai-nilai keislaman sanagat penting. Tugas BPL pada dasarnya adalah memberikan pemahaman ke-HMIan dan segala yang ada dalam HMI.

Dalam lingkungan pendidikan kader, BPL memiliki kewajiban tak terikat atau kode etik, yaitu mengajarkan nilai-nilai HMI dimana, kapan, dan bagaimana kondisi kader. Oleh karena itu muruah BPL sebagai guru dalam penanaman nilai HMI sangat diperlukan. Sebagai lembaga yang menangani pendidikan. Lembaga yang sejak pertama kali diketuai oleh Kanda Encep Hanif Ahmad diharapkan mampu mengubah paradigma kader yang awalnya a bertolak belakang dengan ideologi HMI berubah menjadi ideologi HMI sepenuhnya.

Berkaca dari hal yang sudah penulis sitir sebelumnya, BPL selaku role model dalam pendidikan kader harus meningkatkan kualitas diri. Sistem pengajaran yang ada di BPL sebenarnya sangat mendukung BPL dalam meningkatkan mutu intelektual. Cara paling mudah dalam meningkatkan mutu instruktur adalah dengan mengajarkan apa yang didapat pasca SC. Karena dengan mengajar, sebenarnya tidak hanya terjadi transfer ilmu antara instruktur dengan kader. Melainkan terjadi sebuah simbiosis mutualisme antara instruktur dengan kader. Hal ini karena dalam proses pembelajaran, disamping mengajar tanpa disadari kita telah menemukan hal-hal baru.

Pertama kali, BPL didirikan oleh kanda Encep Hanif Ahmad, BPL senantiasa berprasetya dalam dunia pembelajaran kader. Bahkan BPL memiliki nilai strategis  dalam mengubah dan menanamkan nilai-nilai  HMI.

Kualifikasi untuk menjadi instruktur tidak di nego, hanya orang-orang terpilihlah yang dapat dipilih menjadi BPL. Tentu dalam perjalanan kependidikan, instruktur dituntut untuk bisa memahami materi yang diajarkan. Tanggungjawab BPL juga meliputi kontrol terhadap cara ber-HMI kader. Layaknya sebuah bingkai kader harus ada yang membimbing dan mengarahkan semua hal ke arah nilai-nilai keislaman.

Namun agaknya BPL sekarang tidak setajam dahulu ketika BPL dalam menjadi role model. Masih banyak oknum instruktur yang secara intelektual sudah dianggap cukup untuk menjadi instruktur nyatanya abai terhadap kewajiban vertikal kepada tuhan.

Nilai-nilai yang diajarkan oleh BPL adalah nilai-nilai HMI yang tentunya  berhubungan dengan islam. Namun bagaimana jika sosok yang dijadikan role model malah nsemena-mena bahkan abai terhadap kewajibannya.

Perlu adanya gerakan pembaharuan dalam membenahi nilai-nilai yang mulai luntur di tubuh HMI itu sendiri. PA sebagai penentu arah kebijakan memiliki kuasa untuk merubah paradigma yang entah sejak kapan luntur begitu saja. Kemudian BPL sebagai eksekutor dapat menjalankan tugas dalam kontrol terhadap kader.

Mungkin bagi segelintir orang persoalan ini tidak penting untuk dibahas maupun diselesaikan akar masalahnya. Tapi apakah Lafran Pane sebagai Founding Father HMI akan senang jika melihat hal ini terjadi, padahal salah satu tujuan awal HMI beridiri adalah untuk memperbaiki kwalitas keislaman masyarakat Indonesia. Namun bagaimana jika hal itu sekarang berbanding terbalik. Kader HMI yang seharusnya membumikan Islam malah mereduksi islam dari dalam dengan tidak patuh dan abai dalam menjalan kewajiban.

BPL sebagai ruh dari pendidikan kader menegmban misi perbaikan umat. Oleh karena itu kader HMI harus berislam secara paripurna atau kader yang mapan secara intelektual.

 

 

Exit mobile version