Site icon Baladena.ID

Kualifikasi Ideal Ketum PB HMI: Sebuah Harapan

Kongres memegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi HMI (Pasal 10 ART HMI). Dilansir dari Sindonews.com, Kongres Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ke-XXXI akan diselenggarakan di Surabaya pada Maret 2021. Pembahasan regenerasi Ketua Umum PB HMI pun menjadi topik yang hangat dibicarakan karena pemilihan formatur pengurus PB HMI merupakan bagian dari  kongres.

Secara harfiyah, sebenarnya, formatur berfungsi memformat pengurus. Dengan wewenang tersebut, formatur memiliki prosentasi yang besar untuk memformatkan dirinya sebagai ketua umum. Tidak heran, apabila ada kader yang ingin menjadi ketua umum di HMI, mereka akan memperebutkan status formatur tersebut.

Sejauh ini, berdasarkan Surat Keputusan Steering Committee Kongres HMI ke-XXXI nomor 07/A/SK-SC/07/1442, ada 26 kader dari berbagai cabang yang akan memperebutkan posisi formatur PB HMI. Berbagai pamflet, video dan berita menjadi alternatif untuk mengenalkan diri para kandidat dan gagasan-gagasan yang dibawanya. Semangat! Semoga dapat menggait hati Kakanda dan Ayunda.

Mekanisme kongres yang menjunjung tinggi nilai musyawarah haruslah mendapatkan kesepakatan yang objektif. Salah satunya adalah kriteria formatur. Walaupun, sebenarnya, kriteria formatur PB HMI telah diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) HMI, penambahan kriteria ini dapat dijadikan pertimbangan untuk mengerucutkan daftar kandidat yang layak menahkodai PB HMI.

Untuk itu, secara sadar, dengan mempertimbangkan pasal 3, 4, 6, 7, 8, dan 9 Anggaran Dasar (AD) HMI, penulis berharap ketua umum PB HMI memiliki kualifikasi di bawah ini:

5000 Followers Medsos

“Setiap zaman ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada masanya.” Pernyataan ini secara tidak langsung mebuat penulis tidak ragu untuk mengatakan bahwa pemimpin yang gagap teknologi (gaptek dalam hal ini internet, media sosial) agar mundur dari jabatannya. Pemimpin saat ini haruslah pemimpin milenial. Teknologi, yang fitrahnya untuk memudahkan pekerjaan manusia, dibuhuhkan HMI sebagai organisasi mahasiswa yang telah tersebar luas di Indonesia.

Peran HMI, sebagai organisasi perjuangan, harus memperlihatakn perannya di era milenial ini. Dirangkum dari Kompas Tekno dari We are Sosial (Januari , 2021) pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta dengan penetrasi 73,7 persen. Waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet perhari rata-rata 8 jam 52 menit. Berdasarkan aplikasi yang paling banyak digunakan, secara berurutan dari yang tertinggi adalah Youtube, WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter.

5000 followers media sosial menjadi tolak ukur minimalnya. Pemimpin itu harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi. Bukti followers media sosial membuktikan bahwa ia mampu mempengaruhi banyak orang. Followersnya yang banyak juga akan membuka peluang untuk mengenalkan HMI kepada banyak orang, bukan malah ia yang mencari pengenalan melalui HMI.

Lulusan S-2

Target yang ingin dicapai selama proses perkaderan HMI adalah terbentuknya kader HMI yang memiliki kualitas insan cita. Dalam tafsir tujuan HMI, kualitas insan cita terbagi dari lima kualifikasi, yakni; insan akademis, insan pencitpa, insan pengabdi, insan yang bernafasknan Islam atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridlai Allah Swt.

Kualifikasi insan cita pertama adalah insan akademis. Problemnya, bagaimana dapat dikatakan sebagai insan akademis apabila kuliah masih molor? Status HMI. sebagai organisasi mahasiswa, seharusnya membuat kader HMI sukses dalam perkuliahan. Ketua Umum PB HMI haruslah menjadi suri tauladannya. Dengan mempertimbangkan alur struktural dari HMI Komisariat sampai ke PB HMI, maka seharusnya kader yang menjabat sebagai ketua umum PB HMI sudah mendapatkan gelar magister.

Paham dan Hafal al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam. Pemahaman al-Qur’an secara kaffah akan didapatkan apabila kita dapat menghafal al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri dapat lebih mudah dihafalkan apabila kita memiliki kemampuan ilmu alat (Nahwu-Sharaf) yang baik.  Dengan pemahaman dan hafalan al-Qur’an, kita bisa mengamalkan anjuran-anjuran di dalamnya dan mendapatkan inspirasi-inspirasi yang brilian.

Sementara di sisi lain, HMI merupakan organisasi yang berasaskan Islam. Ketua umum PB HMI merupakan rol model kader HMI. Sejatinya, ketua umum PB HMI dapat mengejawantahkan nilai-nilai yang ada dalam al-Qu’ran dalam kehidupannya. Bahkan, ketua umum PB HMI harus menciptakan qur’anic habits dalam HMI selaku organisasi yang beridiri atas semangat keislaman. Untuk itu, paham dan hafal al-Qur’an merupakan solusinya.

Kecukupan Finansial

Kongres tahun ini sempat dihebohkan dengan biaya pendaftaran bakal calon kandidat ketua umum PB HMI sebesar 10 juta. Persyaratan ini menuai pro-kontra dari kalangan HMI maupun alumni HMI. Ada yang menilai bahwa persyaratan di atas merupakan hal yang  biasa untuk menguji kesanggupan dan komitmen bakal calon dalam mencalonkan diri. Ada juga yang mempermasalahkan bahwa keputusan tersebut tidak layak dimasukkan sebagai syarat ketua umum PB HMI, organisasi yang diproyeksikan kepada perkaderan.

Penulis pribadi lebih sepakat untuk menolak persyaratan tersebut. Kalaulah ingin melihat kesanggupan bakal calon, lebih baik setiap bakal calon melaporkan laporan penghasilannya, minimal memiliki penghasilan bulanan sebesar 10. Tidak hanya itu juga, setiap kandidat harus menuliskan pernyataan tertulis bahwa ia akan mendonasikan 30 % persen penghasilannya untuk organisasi. Disinilah komitmen itu dapat dilihat.

Sifat HMI, sebagai organisasi yang bersifat independen, secara tidak langsung menuntut kadernya untuk mandiri, yakni secara intelektual dan finansial. Dengan kemandirian intelektual, kita tidak akan mudah dibodoh-bodohi. Dengan kemandirian finansial, kita tidak akan mudah disetir. Kemandirian inilah yang akan mempertahankan idealisme ketum PB HMI untuk tetap berada dalam ruh perjuangan yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunah.

Oleh: Kodrat Alamsyah, Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam

Exit mobile version