Site icon Baladena.ID

Korektor yang Terkoreksi

23 Desember 2022

Sebuah cerita singkat, catatan empiris yang ku alami sekitar dua hari ke belakang. Termasuk hari ini. Dua hari yang bukan main hebatnya. Dua hari yang cukup berkesan dalam kehidupanku, sehingga dapat membentuk beberapa paradigma baru tentang kehidupan dan cara menyikapinya di masa depan. Dua hari yang menyadarkanku, tentang aku yang sejatinya bukan apa-apa, tanpa adanya daya dan upaya untuk berusaha.

Baru saja menginjak waktu cuti sekolah. Di mana laman media sosialku, entah itu bar instastory maupun deretan status di Whatsapp yang menjulang tinggi, hampir semua terisi oleh teman-temanku yang tengah menikmati hari libur mereka di berbagai macam spot liburan. Bergaya di tengah hiruk pikuk Kota Semarang, potret kondisi bis Rembang-Bandung dalam gelap malam, sampai pada pose kaki berselesa mesra dengan butiran pasir Pantai Kuta di Bali. Asyik? Tentu saja.

Jujur, aku sedikit resah dan gundah kala melihat cerita-cerita pendek kalian yang tersaji di kanal media sosialku. Sebut saja, iri dan dengki. Andaikata kalian dapat membayangkan situasiku saat ini, terkungkung dalam ketiadaan hari libur di pondok pesantren. Bahkan agenda dan rutinitas pondok pun masih saja berjalan normal di tengah pekan santai seperti ini. Boleh jadi, kalian tak betah dan memilih untuk cabut dari asrama. Karena kalian pikir, sudah semestinya kalian pulang ke rumah dan menikmati hegemoni hari libur bukan?

Aku pun begitu. Kita manusia, mustahil kesempurnaan bagi kita. Tak luput dari bermacam penyakit hati yang acap sekali timbul dalam benak, walau setitik. Setidaknya, kita memiliki usaha untuk membungkam semua itu, syukurlah. Karena di balik segala takdir yang ditentukan-Nya, pastilah tersimpan dua sisi yang sangat berguna. Baik dan buruk. Benar, karena Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu, melainkan ada manfaat yang dapat hamba-Nya peroleh dari ciptaan tersebut. Pun dengan qada dan qadar-Nya.

***

Seperti biasa, rutinitas kami sebagai santri. Harus dibangunkan dari tidur sejak dini hari untuk mendirikan salat subuh berjamaah. Tim keamanan dan peribadatan pondok telah siaga dengan wajah berseri mereka, lantas memasuki asrama satu-persatu. Asrama kami juga akan mendapat gilirannya, rumah kepang paling pelosok, berdindingkan anyaman bambu, berpondasi jati yang cukup tebal, dengan atap tak berplafon.

Mas Faqih, salah seorang tim keamanan pondok, dengan rambut klimisnya, selalu setia membangunkan seluruh penghuni asramaku. Ajaib! Jika kami dibangunkan olehnya, sudah dipastikan tidak ada yang tetap tertidur di asrama hingga mentari datang. Kecuali beberapa santri yang beralasan sakit.

Jarak asramaku dengan tempat berjamaah terbilang dekat, bahkan terpeleset pun kita akan sampai, itu yang kudengar, ironi dari santri-santri tentang asramaku. Namun, nahasnya, jalan menuju tempat berwudhu lah yang jauh sekali jaraknya. Bahkan harus melewati gedung tempat kami melaksanakan salat berjamaah. Itu lah yang jalan ninja yang biasanya membuat penghuni asramaku begitu sering telat melakukan salat berjamaah.

Usai dengan wudhu, kakiku kembali terayun menuju Gedung Baru, sebutan untuk gedung serba guna di pondokku. Alasannya simpel, karena pondok ini belum memiliki masjid, karena masih banyak keperluan yang lebih fundamental daripada harus membangun masjid. Toh, salat berjamaah terbentuk karena ada jamaah, bukan karena ada masjid. Bukankah begitu?

Iqomah berkumandang, para jamaah yang telah menunggu dari tadi mulai berdiri. Tanda salat subuh akan segera didirikan.

“Shaf lurus dan dirapatkan,” terdengar suara Ustaz Suud dengan mikrofon yang terpakai di kepalanya. Beliau sudah siap memimpin kami dalam salat subuh berjamaah.

Tak lama kemudian, salat pun dimulai. Alhamdulillah, nikmat sekali rasanya, kala jiwa dan raga terbalut rasa takzim yang tinggi. Rasa syukur melipir pelan-pelan menuju relung hati. Dini hari ini begitu damai, meskipun ada beberapa cobaan yang harus menerpa, seperti beberapa jamaah yang satu shaf denganku terperanjat dari posisi bersedekap, ke tempat sujud karena mengantuk. Lantas, ia harus pergi ke belakang, mengambil wudhu kembali.

Rukuk demi rukuk dilakukan, sujud demi sujud dipanjatkan, hingga sampai pada penutupan, yakni salam yang diucapkan imam sangat takzim, wirid, zikir, dan dilanjutkna dengan doa bersama, sebelum Ustaz Suud memutar badannya ke arah jamaah. Ia hendak berpetuah, seperti biasa.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam beliau segera kami jawab dengan lantang.

“Anak-anakku semua, santri-murid sekalian. Saya akan membahas kembali tentang pendidikan, tepatnya salah satu faktor yang sangat memengaruhi aktivitas pendidikan, yaitu lingkungan. Planet Nufo tidak sembarangan menyikapi persoalan dalam pendidikan ini. Oleh karena itu, kami selalu berusaha membentuk Planet Nufo sebagai lingkungan yang terbaik untuk belajar maupun mengajar.

Zaman sekarang tidak ada lagi lingkungan yang pas untuk dipakai mengaji dan menghafalkan Al-Quran, kecuali pondok pesantren. Dalam konteks ini, pondok pesantren dianggap sebagai tempat yang tepat untuk menghafalkan Al-Quran secara intensif. Nah, prinsip ini juga berlaku dalam semua aspek. Jika kita ingin mengakselerasi minat dan bakat kita di bidang wirausaha, maka lingkungan kita juga harus sevisi dengan kita. Jika kita ingin meningkatkan prospek kita dalam menulis, maka kita harus berada dalam ranah literasi pula. Insha Allah, Planet Nufo akan menjadi lingkungan paling efisien bagi semua cabang pendidikan,” jelas Ustaz Suud secara rinci. Semangat terpancar dari tangannya yang beranimo.

Selepas mendengar petuah beliau, pikiranku bak terbuka lebar. Petuahnya seraya menambal rumpang dalam pikirku. Patut disyukuri, aku dapat berpikir di tempat ini, Planet Nufo. Namun terkadang, kerap saja aku lupa akan rasa syukur itu yang semestinya ku rapah dengan baik. Aku tidak memanfaatkan betul apa yang sudah tersedia di hadapan, malah cenderung menghindari dengan berjuta alasan. Sebelumnya, terima kasih.

***

Usai menyentuh pagi. Sekelibat berbeda, karena aku tidak memutuskan untuk kembali ke asrama. Mengapa? Entahlah, masih soal petuah Ustaz Suud tadi, tetiba saja langkahku membelot ke arah ruang tata usaha, tepat di sebelah ruangan kami melaksanakan salat. Mulai saat itu, aku terus mencoba menghindari godaan untuk tidur di pagi hari. Padahal, pagi itu adalah masa-masa strategis bagi otak untuk berpikir secara maksimal. Oleh karena itu, ku lampiaskan saja isi otakku ke dalam ketikan. Ya, menulis. Kadung gandrung dan candu, aku dibuatnya begitu.

Baru sedetik aku duduk di kursi komputer, menekan tombol power di CPU. Tiada angin dan hujan, banyak sekali tangan yang menyodorkan kertas ke arahku.

“Mas Raka, tolong upload ke Baladena dong!” ujar Aldi, seorang sanja kelas 7 SMP, salah satu adik kelasku.. Aku yang terkejut hanya bisa mengiyakan.

“Aku juga, Mas.”

“Aku juga dong, Mas.”

“Punya saya sekalian ya, Mas!”

Semenjak aku diamanahi Ustaz Rahman untuk memegang akun redaksi Baladena.id, entah mengapa makin banyak saja sanja yang menghampiriku hanya untuk mepublikasikan tulisan mereka. Amanah ini bak angin rajin yang menepuk cukup keras inisiatif mereka. Ternyata, mereka sangatlah produktif, hanya saja terhalang oleh prosedur pengiriman tulisan yang sebelumnya hanya diurus oleh satu orang saja, Ustaz Rahman orangnya.

Serius, ini masih pagi. Tetapi wajah antusias mereka membuatku enggan untuk menolak. Tidak apa lah, hitung-hitung dapat menambah pahala karena membuat orang senang, juga membantu orang lain, pun jikalau tulisan mereka berfaedah dan dilirik oleh pembaca sebagai pelajaran, tentu saja menjadi pahala tambahan. Alhamdulillah, semoga saja.

Aku mulai membaca satu persatu tulisan tangan mereka. Semuanya menceritakan sosok ibu yang begitu berjasa bagi kehidupan mereka. Wajar saja, baru kemarin dunia menggelorakan hari ibu, setidaknya bekas-bekas dari hari ibu juga terasa dengan tumpukan kertas yang ku genggam ini, dan ini pun menjadi salah satu tugas jurnalistik mereka. Tunggu apa lagi, saatnya menghimpun semua tulisan mereka.

“Kapan kalian menulis ini?” ujarku kepada mereka,

“Itu, Mas. Dua hari yang lalu, pada saat Mba Lia mengumumkan pemadatan intensif jurnalistik. Kan seluruh sanja diwajibkan untuk menulis cerpen bertemakan ibu,” jelas Aldi kembali, lantas aku termanggut.

“Ohh. Ya sudah, kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian lagi,” ujarku dan langsung mereka indahkan. Mereka beranjak dari pandanganku segera.

Pada awalnya, tiada yang mengira bahwa tulisan anak-anak kelas 7 SMP hingga muluk-muluk. Bahkan kadung mengira semuanya adalah tulisan spontan dan biasa-biasa saja karena tangan yang menulis hanyalah tangan-tangan bocah. Namun, setelah ku membaca satu-persatu sampai tuntas, tiba-tiba saja aku terbungkam.

“Serius? Ini tulisan anak-anak kelas 7?” ucapku dalam hati. Tidak sepenuhnya yakin.

Satu kata untuk karya-karya mereka, istimewa. Praduga spontan itu laksana diputar balik oleh keadaan, menjadi sebuah mahakarya yang indah dan puitis. Cara mereka menentukan alur, menyusun diksi, mengatur beat, serta mengemas gagasan sedemikian rupa patut diacungi jempol. Jauh dari kata murah dan bocah, bahkan terpintas sedikit iri di relung hatiku. Hei, tidak percaya? Pembaca dapat membacanya sendiri di laman lain.

Jika kalian berada di posisiku saat itu, boleh jadi kalian tak percaya dengan kemampuan terkini mereka dalam aspek literasi. Manakala mereka masih menduduki bangku sekolah menengah awal, watak dan cara bermain mereka saja persis bocah. Peristiwa pagi ini membawaku kembali kepada petuah Ustaz Suud tadi subuh. Memang benar, lingkungan adalah salah satu penentu keberhasilan suatu pendidikan. Setiap lingkungan memiliki aturan yang berbeda dan tidak semuanya klop dengan karakteristik manusia. Semuanya butuh penyesuaian.

Pikirku, Planet Nufo benar-benar menjadi solusi bagi dinamika pendidikan saat ini, terutama dari segi lingkungan yang mapan dalam mendidik seorang insan. Lihatlah, anak-anak SMP itu tidak akan menulis jika tidak ada seseorang yang mempelopori inisiasi mereka untuk menulis. Siapa lagi jika bukan ustaz dan ustazah mereka? Toh, dalam satu lingkungan yang mengusung doktrin yang sama, maka lingkup pertemanan yang mereka singgahi juga tak jauh dari doktrin yang sama pula. Di sana, kemahiran dikatakan muncul secara eksternal. Termasuk dalam aspek literasi.

Lama-lama mereka membuatku malu. Begitu cepat mereka melesat, sedang aku masih terkungkung dalam nafsu hingga kian melambat. Ide-ide yang senantiasa mengalir, kini entah mengapa selalu saja tersendat. Iya, aku tersesat, jauh dari syafaat dan pertolongan. Pada akhirnya, wejangan subuh itu membangkitkanku dari keterpurukan. Tak malas aku bangun, berani aku berdikari, mencoba untuk memetakan kembali, apa sejatinya aku di planet ini?

Adik-adikku kian melanglang di awang-awang, tak terbantahkan boks dan ruang, semuanya bebas dan senang, sembari melipirkan ekspresi menang. Aku yang paling tua, kian menua, namun haruskah terus ku seperti ini saja? Tiada yang meminta, namun apa daya. Ini persoalanku dengan sesuatu yang disebut dengan nafsu, kerap saja merundungku, menyiksaku, hingga aku tak serius dengan apapun itu. Aku harap, di dalam takbir aku kembali bersedekap, kepada kiblat aku menghadap, di dalam sujud aku meratap. Inginkan sigap, lebih dari sekadar hinggap, dan lenyap.

Aku seperti ini, bukan berarti aku tak senang. Biasa saja, namun tidak begitu saja. Silahkan mereka maju, bahkan melampaui angkasa. Tenang saja, aku tak hanya menunggu sembari menarik pegas hingga sama rata. Ya, tujuan kita sama-sama di sana bukan? Kau yang dahulu, kelak akan ku gugu. Maka dari itu, samakan langkah, serukan kata juang. Aku kalah, di awal saja. Namun selepasnya, jangan harap malu mampir mengucap permisi dari kita, untukku.

Kembali tersadar, lekas aku ketik berlembar-lembar cerita ibu itu ke dalam mesin ini. Berharap sebelum pukul setengah delapan, semuanya sudah dapat terlibas tuntas di kanal Baladena hanya dengan jemariku. Semoga saja begitu.

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Exit mobile version