Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) merupakan organisasi yang didirikan pada tanggal 05 Maret 1982 di Jakarta. Perjalanan organisasi ini begitu panjang. Perasaan sedih, tawa, haru, mereka rasakan untuk memperjuangkan PERMAHI sebagai organisasi yang besar. Saat ini, PERMAHI memiliki lebih dari 30 cabang se-Indonesia.
Kongres PERMAHI diadakan setiap dua tahun sekali. Selain untuk memilih ketua umum periode selanjutnya, forum tersebut membahas AD/ART, petunjuk teknis, dan rekomendasi nasional. Di dalam Kongres ke IX kemarin, mantan ketua DPC PERMAHI Jakarta mengusulkan GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi) untuk memperjelas orientasi organisasi. Hal tersebut merupakan terobosan baru untuk mendongkrak kemajuan PERMAHI sendiri.
Pada Kongres ke-IX Permahi di Ambon, menuai banyak konflik. Perdebatan sering terjadi di dalam forum yang bisa disebut dinamika organisasi. Penulis menyoroti beberapa hal yang harus di evaluasi dan kedepannya perlu perbaikan.
Tidak Adanya Kejelasan Calon
Ketua adalah simbol secara non formal di dalam organisasi. Kongres Ambon kemarin tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat delegasi dari masing-masing DPC yang belum mengetahui kejelasan calon ketua umum DPN PERMAHI yang seharusnya diperkenalkan. Mereka hanya menggunakan pamflet yang di sebar dalam grup yang akhirnya tertutup chattingan lain. Seharusnya, jika terdapat orang yang menyalonkan diri sebagai ketua umum DPN PERMAHI, panitia menyediakan formulir dan persyaratan pendaftaran serta calonnya harus percaya diri.
Formulir pendaftaran calon dan persyaratan ini merupakan hal yang krusial dan tidak dapat dianggap sepele. Menurut penulis, ini merupakan akar dari permasalahan di Kongres karena tidak adanya kejelasan mengenai seseorang yang maju sebagai ketua DPN.
Tidak Fokus Terhadap Kemajuan
Kongres merupakan forum tertinggi dalam organisasi yang seharusnya menjawab persoalan organisasi atau membahas hal krusial dalam organisasi, semisal AD/ART, petunjuk teknis, dan lain sebagainya yang dapat menjadi pedoman kepengurusan DPN ataupun DPC permahi dua tahun kedepan. Pembahasan tersebut sebetulnya membutuhkan waktu yang lama agar lebih baik.
Rupanya kongres kemarin di Ambon belum terlihat jelas keseriusan dalam membahas hal yang krusial. Mungkin saja, karena fokus terhadap calon yang akan di bawa di kongres untuk menjadi ketua umum.
Penulis kemarin berangkat ke Ambon bertujuan untuk merekomendasikan pedoman training PERMAHI yang di bahas dalam pembahasan komisi III dengan ketua komisi Yosi dari Palembang. Penulis menyoroti pada kurikulum MAPERCA agar disamakan antar DPC seluruh Indonesia. Selain kurikulum, hal lain yang direkomendasikan di kongres perlu adanya implementasi demi PERMAHI yang lebih baik.
Mementingkan Egosentris
Seorang pemimpin harus selesai dengan urusan pribadinya karena mereka adalah milik umat atau bersama. Delegasi yang di kirim ke kongres Ambon merupakan pemimpin yang dipercaya dari cabangnya masing-masing.
Persatuan dalam PERMAHI terjadi dua tahun lalu pada waktu kongres VIII di Semarang. Islah tersebut merupakan nafas segar bagi masing-masing DPC se-Indonesia. Kongres tersebut dapat di kenang sepanjang sejarah, begitupula kongres ke-IX di Ambon yang menimbulkan perpecahan.
Adanya egosentris yang terjadi antar golongan atau personal, membuat PERMAHI mengalami perpecahan kembali akibat kepentingan yang dibawa masing-masing kubu. Egosentris yang berlebihan memiliki dampak yang berbahaya sehingga menghambat kemajuan PERMAHI. Hal ini perlu dihindarkan agar terjadi keindahan dan keharmonisan dalam internal PERMAHI.
Adanya Intervensi yang Terlalu Dalam
Intervensi dalam kongres PERMAHI ke-IX tidak dapat dihindari karena banyaknya kepentingan, entah dari internal atau eksternal. Intervensi yang terlalu dalam mengakibatkan independensi PERMAHI mengalami degradasi sehingga kemajuan akan terhambat.
Sebagai organisasi mahasiswa hukum, seharusnya masing-masing DPC yang hadir memiliki prinsip untuk berdiri sendiri dan berjuang berdasarkan nurani. Jika Intervensi yang terlalu dalam terus terjadi dalam tubuh PERMAHI, maka keterlambatan kemajuan akan terjadi atau kemunduran di depan mata.
Penulis meyakini bahwa di dalam Kongres Ambon ke-IX kemarin, para delegasi mengalami gesekan antara akal dan hati karena konflik kepentingan yang ada didalamnya. Entah itu dari kubu siapapun, seharusnya kongres fokus terhadap kemajuan PERMAHI. Maka dari itu, perpecahan yang terjadi kemarin diakibatkan oleh hal yang penulis tulis di atas sebagai bahan evaluasi.
Maka dari itu, yang dibutuhkan hanya islah untuk kemajuan bersama DPC se-Indonesia agar tubuh PERMAHI utuh dengan kejayaannya. Solusi tersebut paling cepat di eksekusi sebelum pelantikan DPN PERMAHI. Diantara beberapa pihak dibutukan peleburan atau membuat kesepakatan untuk kemashlahatan bersama. Islah bisa melalui tokoh IKA PERMAHI atau Mantum yang dipercayai bersama dapat mempersatukan PERMAHI. SALAM PERMAHI!
Oleh: Muhammad Fachrul Hudallah, Ketua Biro Penerangan dan Penyuluhan Hukum Permahi Cabang Semarang

