Korps HMI-Wati atau biasa disebut dengan Kohati adalah badan khusus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memiliki tugas membina, mengembangkan, dan meningkatkan potensi para kader HMI-Wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan. Kohati didirikan di Solo pada tanggal 17 september 1966 M bertepatan dengan 2 Jumadil Akhir 1386 H. Organisasi ini merupakan organisasi yang didirikan khusus untuk HMI-Wati. Dalam eksistensinya, Kohati memiliki sifat semi otonom, artinya jika berada dalam jajaran keorganisasian HMI ia dikenal sebagai “Bidang/Unit Pemberdayaan Perempuan” sedangkan jika secara eksternal ia dikenal dengan istilah “Kohati”.
Sebagai lembaga semi otonom, Kohati harus berperan aktif dalam mengembangkan sumber daya organisasi. Baik dalam jajaran keorganisasian HMI maupun dalam organisasi Kohati itu sendiri. Sebagai organisasi keperempuanan, kohati harus berada di garda terdepan terkait isu-isu perempuan. Kohati harus tetap tangguh di era gempuran globalisasi yang menghadang. Maka dari itu, sebagai kader Kohati, kita dituntut menjadi perempuan yang berperan bukan baperan, percaya diri bukan gengsi, berpotensi bukan hanya mempercantik diri, pandai kritis bukan menangis. Seorang perempuan hanya mengandalkan wajah yang cantik pun tidak bisa namun jika mampu berperan dengan baik dalam posisi apapun, hal-hal cantik dan baik akan mengikuti dengan sendirinya. Baperan hanya milik orang yang lemah, dan kurang percaya diri. Menggunakan perasaan itu perlu, namun pada tempat dan waktu yang tepat. Buktikan bahwa perkataan perempuan lemah itu tidak benar. Junjung harga diri perempuan sebagaimana telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini.
Sebagai HMI-Wati kita harus unggul dalam segi intelektual, finansial dan moral. Hidup di zaman modern bukan hanya untuk tren, tetapi untuk berwawasan dan kemajuan peradaban. Mandiri merupakan salah satu sikap yang diprioritaskan dalam pola pembinaan HMI-Wati. Suatu sikap untuk tidak selalu menggantungkan diri pada lelaki. Sebenarnya sebagai HMI-Wati kita bisa melakukan banyak peran dalam analisis kesejarahan, bermasyarakat atau kehidupan sosial dan juga perpolitikan. Namun, adanya budaya patiarki yang mengakar di pikiran masyarakat Indonesia dapat mempengaruhi arah gerak perempuan. Budaya patiarki ini seharusnya di hapuskan karena sesungguhnya kedudukan antara laki-laki dan perempuan itu setara. Seperti yang telah dijelaskan dalan surat an-nisa ayat 124:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Dan barang siapa mengerjakan amal saleh, baik lelaki atau perempuan, sedang dia beriman, mereka akan masuk surga dan mereka pula tidak akan dianiayai (atau dikurangkan balasannya) sedikit pun.” (QS sn-Nisa [4]: 124).
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa balasan dalam mengerjakan amal sholeh bagi laki-laki maupun perempuan, sedang dia beriman itu sama. Hal ini menandakan bahwa memang antara laki-laki dan perempuan itu setara.
Sejatinya perempuan memiliki peran ganda yaitu, dalam dunia domestik dan dunia publik. Jadi, perempuan tidak hanya berkiprah dalam keluarga saja akan tetapi ikut berperan aktif dalam pembangunan masayrakat dan negara. HMI Wati dengan kualitas insan cita harus mampu mewujudkan cita cita mulia. Berperan untuk mencerdaskan bangsa dan adil dalam perdamaian dunia. Dalam pusaran arus zaman, HMI Wati harus jadi patron setiap perempuan. Dan tak bosan kita katakan, di tengah derasnya kemajuan zaman, HMI wati harus menjadi front pembela perempuan. Smart phone yang tak lepas dari genggaman, jangan sampai menjadi killing time, sehingga lupa untuk shalat malam. Smart phone jangan hanya dijadikan sebagai hiburan, tapi harus dijadikan sebagai alat memudahkan mengakses pengetahuan. Smart phone jangan dijadikan alat untuk pamer kecantikan, tapi jadikanlah sebagai alat menyebarkan nilai-nilai kebaikan untuk kemaslahatan.
Kohati itu berperan bukan baperan. Lalu bagaimana jika ada kader Kohati yang baperan? Mengalihkan rasa baper dapat dilakukan dengan mengenali emosi. Emosi tidak hanya terkait dengan marah, namun ada bahagia dan sedih. Baper sering tertanam ke dalam pemikiran perempuan. Karena perempuan didominasi dengan hati dan perasaan. Perasaan harus diolah dan dikontrol. Ketahui dahulu karakteristik diri untuk mengontrol perasaan. Selanjutnya, mengarahkan hati dan pikiran pada hal-hal yang positif. Inilah solusi yang mungkin dapat dilakukan agar tidak baperan. Hilangkanlah baperan dan teruslah berperan karena yang dibutuhkan negara Indonesia adalah tindakan, tidak hanya perasaan.
Oleh: Muinnatu Lutfiah, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI Komisariat Hasyim Asy’ari Walisongo Semarang)

