Site icon Baladena.ID

Kisah Shafura: Wanita, Rasa Malu dan Cinta

Wanita merupakan makhluk yang istimewa. Keistimewaan wanita tersebut terletak dalam berbagai hal yang ada pada dirinya. Baik dari kodrat, kepribadian, tingkah laku, maupun sifat serta wataknya. Wanita memiliki beberapa kodrat khusus yang tentunya tidak dimiliki oleh selain kaumnya. Diantaranya mengandung, melahirkan, dan menyusui yang tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh bangsa wanita itu sendiri. Bentuk keistimewaan lain yang dimiliki wanita adalah sifat dan wataknya yang sangat unik. Mereka memiliki cara bertindak dan bersikap yang berbeda. Tidak seperti lelaki yang selalu mengedepankan akal, wanita lebih condong dan gemar memakai perasaannya dalam mengambil suatu tindakan ataupun keputusan. Hal inilah juga yang menjadikan orang lain sering salah faham dan sulit memahami apa yang dimaksudkan ataupun diinginkan oleh wanita.

Selain itu, Tuhan menciptakan sosok hebat terlahir di rahim seorang wanita dan membentuk pribadi hebat dari didikannya. Tuhan juga menyertakan perasaan yang kuat sekaligus sangat rapuh pada diri wanita. Tuhan telah mengistimewakan wanita, sayangnya banyak wanita yang tak menyadari dirinya sangat berharga.

Namun, ada beberapa pandangan negatif yang terjadi di kalangan masyarakat tentang kaum perempuan. Salah satunya mengenai rasa cinta yang dimiliki oleh mereka. Bukan mengenai rasa cintanya yang salah. Namun, tindakan mereka dalam mengungkapkan perasaan tersebut yang dinnilai tidak pantas. Masyarakat menilai seorang wanita yang berani menyatakan cintanya terlebih dahulu, berarti ia tidak memiliki malu. Padahal rasa malu itulah yang menjadikan wanita memiliki kedudukan yang mulia. Sehingga, saat fitrah berupa rasa cinta itu berusaha mereka ungkapkan pada sosok yang dikaguminya, akan menimbulkan pandangan negatif, bahkan menjatuhkan harga diri wanita itu sendiri.

Wanita hanya bertugas menunggu lelaki yang datang menyatakan perasaanya dan berhak untuk menerima atau menolaknya. Padahal di dalam al Quran terdapat beberapa kisah wanita yang berani menungkapkan perasaannya terlebih dahulu, salah satunya adalah kisah Shafura.

Shafura merupakan anak Nabi Syuaib yang diam-diam mengagumi Nabi Musa. Perjumpaan Shafura dengan Nabi Musa ini bermula saat ia dan sang kakak, Layya menggembala ternak mereka. Namun kedua wanita tersebut tidak kunjung memebawa ternaknya menuju sumber air, karena menunggu sumber air sepi dari gerombolan pengembala pria. Lalu datanglah Nabi Musa yang kala itu sedang dalam perjalanan hijrah menuju negeri mesir. Melihat kedua wanita pengembala yang hanya menambatkan ternaknya tersebut, Nabi musa merasa heran, kemudian bertanya kepada keduanya.

Nabi Musa pun kemudian menolong kedua wanita itu dengan mengambil ternak mereka dan membawanya ke sumber air. Dengannya, ternak-ternak itu pun bisa minum sepuasnya. Setelah itu, Nabi Musa mengarahkan ternak agar kembali digiring dua wanita, Shafura dan Layya. Tanpa bicara, Nabi Musa kemudian pergi dan mencari tempat teduh untuk beristirahat.

Melihat kebaikan Nabi Musa tersebut, Sahfura merasa tersentuh dan ada rasa kagum yang menyelimuti dirinya. Saat telah sampai di rumah, dengan semangat ia menceritakan kejadian tersebut kepada ayahnya, Nabi Syuaib. Shafura meminta Sang Ayah agar berkenan menjadikan lelaki tersebut sebagai pekerja dirumahnya sebagai ganti atas kebaikan yang telah ia lakukan.

Mendengar cerita putrinya tersebut, Nabi Syuaib setuju untuk mempekerjakan Musa di rumahnya. Ia kemudian meminta Shafura untuk memanggil Nabi Musa kehadapannya. Shafura bergegas mencari pria yang telah menggetarkan hatinya tersebut. Ketika telah bertemu Nabi Musa, ia berjalan malu-malu dan menutup wajahnya denga jubah yang sedang ia pakai.

Saat di hadapan Nabi Musa, ia mengungkapkan maksud kedatangannya. Nabi Musa kemudian bersedia untuk bertemu dangan ayah Shafura. Shafura berjalan terlebih dahulu agar Musa berjalan jauh di belakangnya. Namun kemudian Nabi Musa takut terfitnah jika melihat wanita di hadapannya. Sang nabi lantas berkata, “Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya, lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa mengambil arah dengannya.”

Saat sampai di rumah Nabi Syuaib, Nabi Musa diberi jamuan berupa makanan dan minumam yang lezat. Awalnya Nabi Musa menolak untuk mendapat jamuan tersebut. Karena ia tak mengharap imbalan apapun dari kebaikan yang telah ia lakukan. Ia hanya ingin menolong wanita yang ia rasa sedang membutuhkan bantuan.

Nabi Syuaib kagum dengan sosok pemuda dihadapannya. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah suatu upah, melainkan sebuah tradisi kelurga mereka untuk memuliakan tamu berkunjung ke rumah mereka. Setelah bercakap-cakap, Nabi Syuaib berkata pada Nabi Musa “Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatimu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al Qashash: 27)

Kisah Shafura tersebut sudah cukup menjadi buktu bahwa wabita juga berhak untuk mengungkapkan perasaannya terlebi dahulu. Namun tidak secara vulgar ataupun blak-blakan. Proses perempuan menyatakan perasaannya harus dilakukan dengan cara yang anggun dan terhormat, sehingga tidak akan menjatuhkan kemuliaan seorang wanita. Seperti dengan menggunakan siasat tertentu atau juga dengan meminta bantuan orang lain sebagai perantaranya.

 

Exit mobile version