Site icon Baladena.ID

Ketika Tanaman Bersua

Aku memutuskan untuk keluar agenda bahasa lebih awal. Semarang memang terkenal panas, tapi pagi ini awan putih sedikit sejuk. Hawa seperti ini yang menggerakkan keluar aula, demi menghirup udara pagi yang segar.

Samar-samar tapi pasti, aku melihat seorang teman seangkatan tengah asik memijat-mijat gundukan tanah yang agak basah. Di samping kanan tubuh temanku, ada beberapa tumbuhan yang siap untuk melanjutkan mimpi di tanah luas. Ada bayam, cabe, terong dan tunas tebu.

“Rajin sekali dia, ” pikirku.

Aku yakin, membutuhkan waktu lama untuk dia cicipi buah hasil tanaman yang ia tanam tersebut.  Aku tahu pasti, tanaman cabe dan terong baru berbuah setelah 4-5 bulan, bayam 1-1,5 bulan dan tebu kurang lebih 1 tahun lamanya. Namun, mana mungkin tanaman tersebut dapat tumbuh subur di Kota Semarang, sementara saat ini cuaca tak menentu. Jika tak turun hujan, udara dan tanah dapat membunuh kulit tumbuhan yang baru mulai tanam. Aneh sekali.

Pada dasarnya aku ini seorang pemalas. Usai meneguk beberapa timba udara segar, aku memutuskan untuk kembali tidur. Belum lama mata ini terpejam, tiba-tiba badanku terasa sangat panas. Karena tak enak, aku pun beranjak turun tangga dan berjalan keluar dari aula pertama. Aku kaget, tanaman yang ditanam temanku 5 bulan yang lalu, telah tumbuh begitu segarnya. Daun yang terhias begitu hijau tak ada yang rusak sebab ulat, atau kering terbunuh cuaca. Semua tampak segar. Tak kusangka 5 bulan lamanya aku telah tertidur di kamar atas.

Pagi ini, aku baru terbangun dari tidur yang amat panjang. Aku kagum dengan kebun angkatan. Sekarang tampak lebih lebat dan segar. Tidak seperti 7 bulan lalu, yang masih tampak gersang dan penuh tumbuhan liar. Lahan kebun yang dahulu ku anggap sebelah mata dan dijadikan tempat sampah, kini telah menghidupkan oksigen udara bersih yang tiada tara. Tak ada lagi pernyataan teman-teman, mengenai Semarang gersang, panas dan susah untuk bercocok tanam. Sungguh perubahan yang mengagumkan.

Teman-teman iri, dengan kebun angkatan yang subur dan siap panen. Mereka mulai mengikuti kegiatan tanam menanam dengan antusias dan semangat membara. Tidurku yang lama, telah ku tepiskan menjauh dari mindset malas. Diriku mulai belajar menanam dan menjaga. 

Tanaman yang subur dan lebat, mengajarkan berbagai rasa emosional yang tak kupahami sebelumnya. Rasa sabar, tekun dan perasaan lain, telah menggema dalam pikiran dan mendorong raga untuk segera bergerak. Sabar, untuk selalu menyiram dengan rela. Tekun, mencabut rumput liar yang tumbuh subur disisi tanaman. Dari sini ku yakin. Bahwa, kita dapat belajar dari mana saja dan kapan saja. Tak peduli siapa dan apa yang akan menjadi objek untuk belajar. Allah dengan kuasanya, telah menerangkan pentingnya merawat tanaman yang kelak akan bermanfaat untuk alam. Seperti dalam surat An-Nahl, ayat 10-11:

 

هُوَ الَّذِي أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ (10) يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (11) }

Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian meng­gembalakan ternak kalian. Dia menumbuhkan bagi kalian dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

 

Potongan ayat yang belum kupahami kelanjutanya, telah memahamkan pikirku tentang hukum alam yang berlaku. Seperti karma, tanaman juga memilikinya. Jika kita tidak memelihara alam dengan takzim, maka sebaliknya. Alam akan murka dengan kekuatan nya. Tanaman tidak najis untuk dipegang, dia hanya kotor dan akan suci dengan bilasan air bersih. Ku ucap terima kasih pada tanaman yang berjasa besar mengusir rasa malas dalam mindset pikir.

 

Exit mobile version