Penulis: Dr. Mohamad Khamim, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal)
Umat Islam kembali memasuki hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban. Umat Islam pun banyak yang qurban dalam rangka memenuhi perintah agama. Lalu apa yang harus dilakukan oleh umat Islam pasca Qurban? Jawabannya pasti beragam, namun yang terpenting sesuai Qurban, maka umat Islam harus menindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata. Satu hal yang senantiasa harus diingat oleh kaum muslimin setiap kali menyembelih hewan qurban, yakni menteladani sikap dan keteladanan keluarga Nabi Ibrahim. Dengan demikian bukan darah hewan yang mengalir, melainkan ketaatan dan keikhlasan, serta kepatuhan terhadap setiap perintah yang ditentukan oleh Allah.
Menyembelih hewan hanyalah sebuah simbol dari ketaatan yang dimaksud. Darah hewan hanyalah sebuah simbol dari ketaatan yang dimaksud. Darah hewan yang dialirkan itu tidak ada artinya sama sekali bila tidak diikuti dengan semangat untuk menteladani Nabi Ibrahim yang dalam keseharian, senantiasa tunduk patuh pada ajaran Allah. Pengorbanan itu sendiri menjadi demikian penting, bahkan teramat penting. Kita lihat bagaimana peluang kemerdekaan itu dahulu dengan rela hati tanpa mengharapkan upa apa pun berjuang demi Indonesia merdeka, mereka menjajah dan menginjak harkat dan martabat manusia Indonesia.
Dalam perjuangannya, itu banyak di antara pejuang kita yang menjadi korban kebengisan bangsa penjajah. Para pejuang itu menemui ajal. Banyak di antara keluarga pejuang itu akhirnya menjadi janda, dan anak-anaknya menjadi yatim. Namun pengorbanan yang seperti itu acapkali dilupakan oleh kita yang hidup di alam merdeka. Kalau dahulu kita memperjuangkan nasib bangsa dari berbagai belenggu dan harkat kemanusiaan kita, kini pun perjuangan seperti itu harus terus belanjut. Bangsa Indonesia yang kini menikmati kemerdekaan, harus senantiasa ingat bahwa misi itu belum berakhir. Karena ternyata masih menempatkan manusia lain sebagai bawahan, sebagai abdi. Masih banyak insan-insan di bumi ini yang dirampas hak-hak kemanusiaannya.
Masih banyak orang-orang yang tidak bisa makan, dan hidup dalam kemiskinan, karena mengalami proses pemiskinan. Masih banyak di antara kita yang menempatkan kita selalu di atas orang lain. Dengan uang yang kita punyai, dengan kekuasaan yang kita miliki, kita sering lalai, dan pada akhirnya menjadi penjajah, dan menginjak harkat dan martabat orang lain.
Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita untuk lepas dari belenggu-belenggu. Nabi Ibrahim yang pernah mencari ‘Tuhan’ dalam penggambaran batinnya, pernah mengamati bulan, matahari, pohon, patung, raja dan segalanya. Hingga pada titik pengembaraan yang terakhir ia menemukan bahwa Tuhan yang memang wajib disembah dan ditaati adalah Allah. Manusia yang sudah menemukan, Tuhan adalah manusia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu menuhankan segala yang ada pada dirinya dan pada lingkungannya. Dengan demikian orang yang menemukan Tuhannya adalah manusia yang melihat manusia lain adalah sama dan sederajat. Manusia yang hanya tunduk dan patuh pada kekuasaan Tuhan. Tunduk dan taqarrub hanya kepada Allah semata. Sementara tuhan-tuhan yang lain adalah fana yang setiap saat justru akan pudar dan hilang diambil oleh Tuhan, Allah Swt.
Manusia yang beragama dan yang mengaku beriman sebenarnya tahu harkat dan martabatnya di sisi Tuhannya. Namun ketahuan itu tidak pernah ditindaklanjuti dengan semangat untuk tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Manussia yang demikian itu sebenarnya hanyalah ‘manusia-manusia’, bukan manusia yang sebenarnya yang dikehendaki oleh Sang Maha Pencipta, Allah Swt. Pasca Qurban inilah manusia kembali harus mengaca pada sosok Ibrahim. Kembali pada fitrahnya, sebagai manusia, yang harus tunduk dan patuh. Selama itu ketentuan dari Allah tak ada pilihan lain, selain dengar dan laksanakan.
*Dikutip dari berbagai sumber

