Al-Qur’an sumber utama ajaran Islam. Ilmu atau pengetahuan yang ada di dalamnya bukan hanya tentang kejadian dan masalah serta solusinya di masa lalu, tetapi juga yang ada di masa kini dan masa depan. Karena itu, hafal al-Qur’an sesungguhnya adalah di antara cara paling penting untuk mengetahui secara utuh ajaran Allah itu agar bisa menjadi panduan untuk menjalani kehidupan yang penuh dinamika.
Untuk mengetahui kenapa al-Qur’an mesti dihafalkan, baladena.id melakukan wawancara eksklusif dengan Guru Utama Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang yang juga Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, Dr. Mohammad Nasih, M.Si.. Berikut pertikan wawancara Baladena.id dosen ilmu politik yang akrab disapa oleh para santrinya dengan Abana:
Baladena: “Sekarang ini makin banyak orang ingin hafal al-Qur’an. Bahkan banyak orang tua yang memasukkan anak-anak mereka ke rumah tahfidh. Sebenarnya apa nilai lebih hafal al-Qur’an selain pahala-pahala yang dijanjikan?”
Abana: “Rerata yang ingin menghafal al-Qur’an karena pahala ya? Atau ingin memakaikan mahkota kepada kedua orang tua nanti di akhirat. Itu tidak salah. Tapi pahala dan mahkota yang dijanjikan oleh Rasulullah itu sesungguhnya adalah ungkapan motivasi tingkat tinggi agar kita memiliki semangat menyala-nyala untuk menguasai al-Qur’an, di antaranya dengan menghafalkannya. Bahkan saya menganggap bahwa menghafal al-Qur’an sebagai prasyarat mutlak untuk bisa memahami al-Qur’an secara utuh. Sebab, sangat banyak ayat yang memiliki intekoneksi, sehingga tanpa menginterkoneksikannya bisa menyebabkan kekeliruan pemahaman. Kesadaran tentang adanya interkoneksi itu akan mudah muncul karena keseluruhan ayat al-Qur’an ada di dalam ingatan.”
Baladena: “Jadi, apa yang didapatkan dengan menghafalkan al-Qur’an?”
Abana: “Pertama, penghafal akan memiliki perspektif global untuk memandang dan menjalani kehidupan. Ini penting sekali. Dunia sekarang kan mengarah kepada spesialiasi. Dan spesialisasi ini akan semakin ekstrem. Sudah banyak pemikir yang memperingatkan potensi bahaya spesialisasi ini. Yang terakhir, saya dengar Dato’ Anwar Ibarahim, PM Malaysia, ketika pidato di Jakarta, juga menyampaikannya, bahwa spesialisasi yang tak terkendali bisa mengancam kemanusiaan. Untuk mencegah ini, sebelum memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang terspesialisasi, bekal penting adalah pengetahuan dasar umum yang melihat dunia ini secara utuh. Dan al-Qur’an memberikan itu. Ibarat mata kuliah, al-Qur’an mestinya menjadi MKDU bagi kita semua.”
Baladena: “Bisa diberikan contoh konkret?”
Abana: “Sederhana sekali, pertama-tama, al-Qur’an memberikan pentingnya hubungan yang benar antara manusia dengan Allah, antar sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta. Hubungan dengan Allah kemudian diturunkan menjadi berbagai macam ritual atau ibadah yang semuanya harus berbasis ilmu. Ilmu itu logos, logos ya firman. Hubungan dengan sesama manusia diatur mulai dari hubungan dengan yang berlainan agama, berbeda jenis kelamin, pernikahan, sampai urusan ekonomi, dan juga politik. Hubungan dengan alam semesta juga ada. Semua itu melahirkan ilmu-ilmu yang setiap muslim harus mengetahuinya dengan baik, sehingga bisa menjalani hidup dengan baik juga, sesuai dengan keinginan Allah. Kalau orang tiba-tiba menjadi spesialis, tetapi tidak memiliki pengetahuan dasar umum, maka hidupnya akan individualistis dan cenderung tidak memiliki kepedulian sosial. Padahal, kita ini makhluk bermasyarakat. Dalam konteks ini, penghafal al-Qur’an, tentu saja yang mengerti maknanya, bisa merenungkannya. Dengan melakukan perenungan yang mendalam, maka dia akan mampu menghubungkan antara satu simpul pengetahuan dengan simpul pengetahuan yang lain, sehingga kesemuanya membentuk semacam jaring pengetahuan yang luas. Makanya, saya mendengungkan terus tujuh kewajiban kita kepada al-Qur’an yang saya ibaratkan sebagai anak tangga dari paling bawah sampai paling atas, yaitu: membaca, mengartikan, menghafalakan, merenungkan, mengerjakan, mengajarkan, dan memperjuangkannya. Jadi yang kita bicarakan di sini adalah penghafal al-Qur’an yang mengerti artinya, bukan yang tidak mengerti artinya.”
Baladena: “Lalu yang kedua apa, Bah?”
Abana: “ Yang kedua sesungguhnya merupakan implikasi dari perenungan yang dilakukan secara terus menerus. Ini akan menghasilkan pengetahuan yang selalu meningkat. Perintah untuk melakukan tafakkur atau berpikir tentang alam semesta, yang di antaranya disebut oleh al-Qur’an penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, sebagaimana disebutkan dalam Ali Imran: 190, kemudian menghasilkan ilmu-ilmu baru. Ini bisa mendorong kepada spesialisasi. Kalau dalam konteks ilmu bumi bisa menghasilkan geologi. Kalau tentang siang dan malam bisa menghasilkan ilmu astronomi atau setidaknya falak. Isyarat al-Qur’an yang terdapat dalam al-Mu’minun: 12-14 bisa menginspirasi dan memotivasi kita untuk kian mendalami embriologi dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan itu. Tentu saja itu hanya beberapa contoh saja. Masih banyak sekali ayat-ayat dalam al-Qur’an yang kalau kita pahami secara lebih mendalam, akan menginspirasi dan memotivasi kita untuk tidak pernah berhenti belajar. Akan selalu muncul rasa penasaran. Apalagi yang dibicarakan al-Qur’an tidak hanya alam semesta yang kasat mata ini, tetapi juga yang gaib, termasuk juga akhirat.”
Baladena: “Masih ada lagi manfaat lain menghafal, Bah?”
Abana: “Tentu saja. Satu lagi yang sangat saya rasakan adalah menahan degradasi ingatan. Menghafalkan al-Qur’an bukan proses sekali jadi, melainkan proses yang harus terus dilakukan seumur hidup. Penghafal al-Qur’an dituntut untuk selalu muraja’ah atau mengulang bacaan setiap hari, bahkan setiap saat. Dengan demikian, ingatan kepada ayat-ayat al-Qur’an akan terus bagus. Berdasarkan banyak penelitian, membaca dianggap sebagai salah satu sarana untuk melatih otak agar tidak mengalami kepikunan. Kalau hanya sekedar membaca saja sudah berpengaruh positif pada daya ingat, apalagi bacaan yang memang orientasinya adalah menghafalkan dan merenungkannya. Berarti latihannya dua kali lebih keras.”
Baladena: “Wah, ternyata memang manfaatnya banyak ya, Bah. Saya mau tanya yang agak teknis, tentang usia berapa yang paling bagus untuk menghafalkan al-Qur’an?”
Abana: “Saya beri catatan dulu sebelumnya. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan orang mudah menghafalkan al-Qur’an. Sebaliknya, ada juga faktor yang menghambat. Nah, usia yang bagus, karena otak masih fresh, dan lebih dari itu, belum banyak urusan yang mengganggu istiqamah, adalah usia SMP dan SMU. Saya sering menyebutnya sebagai usia paling strategis.”
Baladena: “Ada apa dengan usia dalam rentang ini, sehingga menjadi waktu paling strategis?”
Abana: “Yang saya katakana ini dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya tentu saja tidak menggunakan bahasa ibu bahasa Arab. Nah, saya punya temuan bahwa menghafal tanpa mengerti artinya membutuhkan usaha sampai tujuh kali lipat. Karena itu, di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang dan juga Pesantren Planet NUFO Rembang, salah satu prasyarat untuk menghafalkan al-Qur’an harus mengerti artinya. Nah, anak-anak usia SMP sudah mudah diajari untuk mengartikan. Logika mereka sudah mulai lebih hidup. Nah, pada usia ini, pada umumnya, mereka belum memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hidup mereka, sekali lagi pada umumnya, masih ditanggung oleh orang tua atau wali mereka. Dengan begitu, mereka bisa fokus pada aktivitas menghafalkan al-Qur’an. Soal tenaga, jangan ditanya. Ini adalah masa mereka itu kuat-kuatnya. Kalau tenaga yang berlebih itu digunakan untuk menghafalkan al-Qur’an, sangat tepat. Jangan sampai tenaga berlebih itu disalurkan untuk yang tidak jelas manfaatnya untuk masa depan, sunggung sangat sayang. Karena itu, orang tua dan para pendidik harus berkolaborasi untuk membuat anak-anak belia muslim memiliki ketertarikan kuat untuk menghafalkan al-Qur’an. Saya juga mau membiayai mereka yang tidak mampu, asal memenuhi syarat dan kualifikasi yang saya tentukan. Jadi anak angkat saya boleh. Sebanyak-banyaknya. In syaa’a Allah.”

