Site icon Baladena.ID

Kemenangan Umat Islam dalam Perang Badar: Jumlah tidak Menjauhkan Kebenaran

Perang Badar merupakan  perang pertama kali yang dijalani oleh umat Islam. Perang ini, disebut juga sebagai perang aqidah yang memberikan akhir  kemenangan besar bagi kaum muslim.

Sebelum perang Badar terjadi, Kaum Muslim dan kaum  Kafir Makkah sebetulnya sempat terlibat beberapa kali konflik dengan senjata rasio kecil. Ketegangan antara kelompok kaum Kafir   Makkah dan Kaum Muslim Madinah ini terjadi lantaran Serangan yang dilakukan oleh kelompok Kaum muslim Madinah yang melakukan penyerangan terhadap  kafilah dagang kaum kafir Makkah.

Kaum muslim Madinah beranggapan  bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sah-sah saja, karena kaum kafir Quraisy telah mengusir kaum muslim dari tempat kediamanannya hingga melakukan penjarahan terhadap barang-barang berharga mereka.

Hingga pada akhir tahun 623 M, aksi saling melakukan penyerangan terhadap para pedagang Makkah ini kerap kali dilakukan. Dan klimaksnya, berlangsung hingga   menjelang pertempuran Badar.  Ketika itu, Kaum muslim Madinah  mendengar berita mengenai rencana kedatangan kafilah dagang kaum kafir Quraisy dari Negeri Syam, yang berada dibawah naungan Abu Sufyan.

Mereka mendapat dengar berita tersebut, salah seorang Sahabat Rasululah  Saw yakni Hamzah memohon izin kepada Nabi untuk membuat balas atas  perlakuan Kaum kafir Quraisy selama ini terhadap Kaum Muslim Madinah. Dalam konteks itu pula, maka turunlah Q.S. al-Hajj: 39-40  yang berbunyi

“Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhna mereka di dzalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu, 40. (Yaitu)orang-orang yang diusir dari kampung halamanya tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, ‘’Tuhan kami adalah Allah’’ Seandainya Allah  tidak menolak (keganasan) sebagian manusia , tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha kuat, Maha Perkasa.’’ (Q.S. al-Hajj: 39-40)

Dengan jumlah pasukan yang terdiri atas 313 orang dan dengan 2 ekor unta, Berangkatlah Kaum  Muslim Madinah ke suatu tempat yang bernama Shafra (di luar Kota Madinah). Dan Ikhtiar berupa penghadangan ini  didengar curi oleh pemimpin Kafilah dagang, yakni Abu Sufyan. Mendengar itu dia langsung bergegas mengambil arah pulang menuju ke Makkah melalui jalur tepi Laut.

Sementara itu, Kaum Quraisy Makkah yang mendengar kabar bahwa Kafilah Dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan tengah dihadang pasukan Kaum Muslim Madinah langsung mengirimkan bantuan dengan megirimkan 1000 orang pasukan yang dipimpin oleh Abu Jahal.

Mendengar perihal bahwa sudah sampainya kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan di Makkah, dan dikirimkannnya pasukan Kaum Quraisy untuk melawan balik penghadangan tersebut tidak lantas membuat Rasululllah berbalik arah.

Justru hal demikian semakin membuat Rasulullah dan Kaum Muslim  betekad kuat menghadapi pasukkan yang dipimpin oleh Abu Jahal. Pendirian dan kerja keras  inilah yang membuat kemengan atas izin Allah.

Semua cara akan dilakukan untuk menghancurkan Umat Islam. Di mulai dengan kekerasan fisik hingga psikis. Perang Badar  menjadi contoh Bahwa Jumlah tidak akan menjauhkan pada kebenaran. Begitupun asumsi mengenai Bumi bulat, mendatar, lonjong tidak akan ada kaitannya dengan kualitas orang yang mengatakan. Sebuah Jamaah akan akan mengalami tujuannya jika terorganisir dengan baik.

Begitupun Allah, Rasul, dan orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (at-Taubah:105) dan Allah akan menolongmu. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk dan keistiqamahan dalam memperjuangkan agama Allah. Wallahu a’lamu bi al-shawaab

Oleh : Naila Rifqiyani Muhasshonah, Mahasantri Monash Institute Semarang

 

Exit mobile version