Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar Mata Kuliah “Negara, Politik, dan Perempuan” di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang
Pandemi covid-19 “memaksa” saya untuk stay at home. Aktivitas benar-benar saya batasi secara ekstrem, hanya di Rumah Perkaderan Monash Institute (MI) Semarang yang sesungguhnya adalah pesantren tahfidh plus dan Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO (PN) di Mlagen Rembang. Ke Jakarta hanya sekali dua kali saja, karena aktivitas kuliah diselenggarakan secara daring. MI dan PN, keduanya saya jadikan rumah kedua saya. Ke MI yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari rumah untuk shalat lima waktu dan mengajar bersama mengajak semua anak saya dengan mobil, tidak boleh dengan motor lagi. Ke PN yang berjarak 144 KM dan biasanya perlu waktu tempuh 3-3,5 jam, lebih sering dengan mengajak tiga anak pertama saya, terutama agar bisa membunuh waktu tempuh itu dengan mengajar ketiganya, utamanya dua yang pertama. Berada di rumah dalam setahun terakhir ini membuat saya makin mengerti bahwa mengurus anak bukanlah pekerjaan yang ringan. Kalau diberi pilihan antara mengurus 4 anak (Hokma 10 tahun, Hekma 8 tahun, Molka 3,5 tahun, dan Dawla 1,5 tahun), terlebih 2 anak yang masih di bawah 7 tahun, saya lebih memilih mengurus 200 atau bahkan 400 orang mahasiswa. Bahkan walaupun tanpa dibayar. Sampai di sini, saya jadi mengerti betapa penting peran bapak dan ibu dalam rumah tangga.
Tulisan ini saya mulai, pada pukul 00.20, saat saya tak lagi sanggup membuat Dawla tidak lagi menangis. Sejak shalat ahsr, sebelum berangkat untuk visite pasien, istri saya sudah berpesan agar anak-anak bersama saya, karena dia merasa mengalami radang tenggorokan. Dia harus mengisolasi diri di salah satu kamar rumah kami, agar untuk sementara tidak melakukan kontak dengan anak-anaknya, agar tidak tertular. Ahad memang hari paling berat bagi saya. Sebab, istri saya mewajibkan saya total dengan aktivitas rumah, terutama membantu mengurus empat anak, yang saat tidak tidur, tidak pernah diam. Dua yang pertama sudah membutuhkan pengarahan super ketat. Sedangkan dua yang terakhir, masih membutuhkan pengawasan super ketat, karena saat terjadi konflik akibat perebutan mainan, bisa terjadi baku hantam yang bisa membahayakan fisik mereka. Itu karena setiap Ahad, kedua assisten rumah tangga kami pulang untuk urusan rumah mereka masing-masing.
Aktivitas sehari-hari, bersama keempat anak heboh kami, membuat saya makin menyadari betapa penting peran kedua orang tua. Tidak cukup hanya dengan ibu saja, apalagi hanya dengan bapak saja. Tetapi dalam keadaan darurat, ibu bisa menjalankan peran bapak, tetapi tidak sebaliknya. Di sinilah ada karunia Allah kepada perempuan yang tidak diberikan kepada laki-laki.
Anak-anak kami seolah telah memiliki pola aktivitas. Dimulai pada usia belasan bulan sampai 7 tahun, saat menjelang shubuh sampai pukul 07.00 bersama saya. Jika bangun tidur tidak ada saya, maka mereka akan mencari saya dengan tangisan. Sebab, saya sudah membiasakan mereka ikut shalat shubuh berjama’ah lalu kajian di MI. Demikian juga saat menjelang maghrib sampai setelah Isya’. Itu saya berlakukan apabila anak sudah bisa duduk, kira-kira usia 7 bulan. Rumah kami hanya beberapa puluh meter saja dari masjid di Ngaliyan, Semarang. Setiap waktu shalat, suara adzan dari masjid, tentu sangat jelas terdengar. Nah, itu jadi tanda bagi anak-anak saya. Dua yang paling kecil sudah akan langsung mengikuti saya, karena khawatir ditinggal berangkat ke MI. Mungkin bagi mereka, ke MI adalah jalan-jalan dan rekreasi, melihat suasana lain. Berjumpa dengan banyak orang dalam kawasan isolasi besar yang menyenangkan.
Walaupun saat shubuh dan maghrib mutlak harus bersama saya, tetapi setelah menjelang tidur, ternyata terjadi perubahan drastis. Daya magnetis itu berpindah secara tiba-tiba. Ibu merekalah yang memiliki daya tarik sangat kuat. Daya tarik saya hilang, nyaris total. Tidur harus berada di bawah ketiak ibu. Bahkan Molka pernah mengalami harus berpegangan pada tali kutang ibunya. Tentu saja, ini juga disebabkan oleh kebiasaan sejak bayi, berupa menyusu pada ibu. Dan di sinilah kekuatan seorang ibu. Ya, karena dia memiliki “senjata” yang tidak dimiliki oleh seorang lelaki di mana pun di dunia ini. Dan itu harus diberikan, jika ingin anak mengalami tumbuh kembang optimal.
Namun, oleh sebagian orang, peran perempuan sering dianggap enteng. Penghargaan kepada perempuan masih belum sampai pada yang seharusnya. Seorang perempuan yang hanya mengurus anak, seolah dianggap pekerjaan enteng. Padahal mengurus anak itulah pekerjaan paling berat, bahkan menjadi faktor yang membuat para perempuan yang melakoninya bisa mengalami proses penuaan lebih cepat dibandingkan laki-laki. Sebab, saat mengurus anak, tak terhitung berapa kali harus bangun di tengah malam. Perempuan kehilangan kesempatan untuk tidur pulas dan berkualitas. Gerakan atau suara pelan anak, bisa membuatnya bangun untuk memberikan kebutuhan anak, karena ibu memiliki keterlibatan dengan anaknya secara langsung. Sementara lelekai, bisa tetap tidur pulas saat tangisan bayi membahana. Padahal, lelaki dianggap lebih kuat tenaga.
Penyebab utama minimnya penghargaan kepada peran perempuan dalam mengurus anak adalah paradigma materialis dalam masyarakat. Laki-laki keluar rumah untuk melakukan sesuatu yang menghasilkan uang. Dan karena menghasilkan uang itulah, maka yang dilakukan oleh lelaki disebut dengan kerja. Sementara, perempuan, karena melakukan sesuatu yang berkaitan dengan anak-anak dan urusan domestik lainnya, seberat apa pun tanggungannya, tidak menghasilkan uang, maka hanya dianggap sebagai aktivitas dan rutinitas. Bahkan minim apresiasi karena jarang lelaki memiliki keterlibatan langsung dan total dalam mengurus anak-anak yang sejatinya sungguh sangat berat. Bahkan membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus.
Dalam konteks inilah, sabda Nabi Muhammad bahwa perempuan adalah tiang negara, benar-benar relevan. Kaitannya tentu saja dengan fungsi dan peran ibu sebagai madrasah yang tidak hanya pertama, tetapi juga utama (madrasat al-uulaa/awlaa). Hanya ibu yang berkualitaslah yang mampu menjalankan fungsi dan peran sebagai madrasah yang pertama dan utama. Sebab, sejak anak masih dalam kandungan, ibu bisa memberikan pendidikan kepada anaknya, di mana pun dan kapan pun. Sementara lelaki, hanya bisa melakukannya pada saat-saat dan di tempat tertentu saja.
Saat menyusui adalah saat paling strategis bagi seorang ibu mengajar dan mendidik anak. Bacaan-bacaan penting dimulai dari doa sebelum tidur, hingga bacaan wajib untuk shalat, bisa selesai dengan baik hanya dengan memanfaatkan waktu anak-anak bergelantung pada tali kutang ibu. Jika saat strategis itu benar-benar bisa dioptimalkan untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan, juga menanamkan nilai-nilai dasar minimal, maka sumber daya manusia kita pastilah akan sangat berkualitas. Masalahnya, tentu saja hanya perempuan berkualitas saja yang mampu melakukannya.
Karena itulah, sebelum menikah, diperlukan wawasan, pengetahuan, dan juga ketrampilan yang cukup tentang strategi mengurus anak dengan baik dan optimal. Sebab, ini akan berpengaruh secara langsung dan signifikan kepada kualitas SDM masa depan. Jika baik, maka bonus demografi akan jadi berkah. Jika tidak, maka akan jadi beban alias musibah. Kita bisa memilih yang mana, dimulai dengan memilih pasangan kita. Wallahu a’lam bi al-shawab.

