Oleh: Faizatul Kamilah, Mahasantri Monasmuda Institute angkatan 2022
Di zaman serba berbasis digital dimana Good looking yang menjadi raja dunia dalam segala hal mendapatkan kemudahan dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Sedangkan yang biasa-biasa saja dan berbadan tidak proporsi ini dipandang sebelah mata yang menyebabkan tingkat keminderan semakin tinggi. Sehingga menjadi salah satu sebab gangguan kesehatan mental. Yang kurus akan bersikeras menaikkan berat badan untuk mencapai ideal. Dan yang gemuk akan bersikeras untuk menurunkan berat badan mencapai ideal tubuhnya. Dari situ ada dua pola yang umum digunakan yakni diet vegetarian dan non vegetarian. Secara kandungan gizi nabati dan hewani sangat berbeda. lalu bagaimana perbandingan kecerdasan si Vegan Vs Non Vegan?
Membahasa si vegan atau nabatiwan.
Nabatiwan atau vegetarian adalah seseornag yang mengonsumsi segala jenis bahan pangan yang bersumber dari tumbuhan namun masih bisa kemungkinan mengonsumsi jenis unggas, daging, biota laut, susu dan telur serta olahan turunannya.
Nah dari pengertian saja sudah kebayang kan kandungan nutrisi dari apa yang dimakan seorang vegetarian sama non vegan ini sengat berbeda dari segi kandungan Asam amino esensial lebih banyak pada protein hewani ketimbang nabati. Asam amino ini sangat berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan otak, kemudian kandungan yang sangat berperan dalam perkembangan otak dan memori adalah Omega 3, Vitamin B kompleks terutama yang sangat berperan dalam perkembangan otak adalah B9 (asam folat), B6 (piridoksin), dan B12 (kobalamin). Fe, Yodium, Zn, Vitamin E, Sialic Acid dan Sphingomyelin.
Itulah nutrisi yang sangat berperan dalam perkembangan otak dan memori. Vegetarian ini ada eanam jenis yang pertama disebut dengan Lacto-ovo vegan yaitu Orang yangi masih bisa atau mau mengonsumsi susu dan telur serta turunan olahan dari telur dan susu, yang kedua disebut dengan Lacto-vegan yaitu seseorang yang mengonsumsi susu dan olahan turunannya di samping hanya mengonsumsi jenis tumbuhan, yang ketiga disebut dengan Ovo vegan yakni pola makan yang mengonsumsi telur dan olahan turunannya selain mengonsumsi jenis pangan tumbuhan, sebutan keempat yakni Semi vegan adalah individu yang mengonsumsi ikan, telur, dan susu di samping hanya mengonsumsi pangan tumbuhan, jenis kelima adalah Flexitarians dimana orang pada Jenis ini yang paling ideal dan sehat, karena mengombinasikan pangan nabati dengan hewani namun porsinya masih tetap lebih banyak nabati, terakhir yang keenam disebut Pesco vegan yaitu seseorang dengan pola menu pangan ikan dan biota laut lainnya disamping mengonsusmsi pangan nabati serta masih mau mengonsumsi telur dan susu.
vegetarian ini sebenarnya banyak manfaat dalam terhindar dari berbagai penyakit degeneratif dan kardiovaskular. karena terhindar dari penyakit tersebut tadi maka bisa menambah umur. kebanyakan orang meninggal karena penyakit degeneratif seperti gagal jantung, stroke, asma, diabetes, paru-paru dan lain sebagainya. namun sivegan ini rendah asupan asam amino esensial, zat besi karena pada nabati ini berbentuk Non Hem dan pada hewani berbentuk Hem. Tubuh hanya bisa mengolah dan menyerap zat besi dalam bentuk Hem. sehingga individu jenis vegan ini beresiko anemia. vegan juga akan mengalami defisiensi kalsium karena produk hewani lebih kaya kandungan kalsium dibandingkan nabati, dan defisiensi omega 3 karena hewani lebih tinggi kandungan omega 3 dan zat gizi ini penting sekali bagi pertumbuhan dan perkembangan otak.
Selanjutnya mengenai non-vegetarian atau dalam ilmu gizi dan biologi disebut Omnivora yaitu pemakan segalanya. Jika begitu terkadang dan terkesan Non-Vegetarian adalah orang yang rakus. Namun bisa lebih ditata pola makannya dengan menerapkan gizi seimbang. Maka Non-vegetarian jauh lebih baik dibandingkan Vegetarian karena Non-vegetarian lebih bervariasi dalam hal pangan dan nutrisi. Namun kebanyakan hewani mengandung tinggi kolesterol yang menjadi salah satu sebab munculnya penyakit-penyakit kardiovaskular dan degeneratif.
Hidup paling sehat adalah individu yang menerapkan pola felxitarians karena dengan pola kombinasi aneka ragam pangan tanpa terfokus pada nabati tentu lebih teratur pola makannya tidak seperti non vegetarian atau sebut saja omnivora yang menjadi pemakan segalanya dan belum tentu mengatur kebutuhan gizinya agar tidak beresiko penyakit kardiovaskular dan degeneratif.
Metabolisme setiap individu ini kebanyakan berbeda-beda mungkin ada beberapa yang sama. saya sering mendapat pertanyaan yang saya sendiri pun bingung dengan tubuh saya. kenapa yah saya ko makan banyak tapi tidak gemuk-gemuk atau setidaknya berat badan bertambah? padahal dari pagi sampai malam saya tidak berhenti makan. kenapa ko saya makannya sedikit dan tidak ngemil juga namun berat badan saya tidak turun? saya tidak suka sayur sama sekali gimana yh biar bisa suka makan sayur? dan ada pula orang yang tidak suka biota laut karena bau amisnya namun sejauh ini belum ada yang bertanya bagaimana biar bisa dan suka makan ikan?
Metabolisme ini ada dua jenis yang pertama jenis metabolisme cepat yaitu pembakaran kalori atau penggunaan kalori atau pemecahan kalori menjadi energi secara cepat sehingga tidak menumpuk menjadi simpanan lemak. kedua adalah metabolisme lambat yah pengertiannya kebalikan dari sicepat yaitu proses pembakaran kalori atau pemecahan kalori menjadi energi yang lambat sehingga kemungkinan disimpan dalam bentuk lemak di jaringan adiposa. Selain faktor metabolisme juga faktor kelainan riwayat penyakit tertentu seperti penyakit gastritis, usus buntu, yah intinya kelainan pada sistem pencernaan yang menghambat dan mengganggu proses metabolisme makanan. selanjutnya bisa dari faktor genetik dan asupan makanan yang dimakan ini kurang sehat contohnya makanan yang tinggi kalori namun rendah serat, mineral dan vitamin contoh konkritnya makanan fastfood.
Untuk yang sulit menunrunkan Berat Badan solusinya konsisten dalam olahraga minimal dalam satu minggu 3 kali olah raga. kemudian tetap mengontrol pola makan yang seimbang dan menghitung kebutuhan energi perhari. lakukan ini seumur hidup, jika hanya ketika berat badan sudah turun kemudian kembali lagi pada kebiasaan yang lampau maka tubuh akan kembali seperti pada masa lampau.
Kemudian yang tidak suka sayur ini sepandai-pandainya dan sekreatifnya kita dalam menyajikan makanan. agar rupa tekstur dan rasa ini menggugah selera dan memicu Kelenjar Hipotalamus mengeluarkan hormon gherelin. Dengan teknik fortifikasi yang artinya penambahan zat-zat yang ada pada sayur yang tidak disukai ini diolah dengan makanan favorit yang kita suka namun dalam bentuk seperti ekstrak, dan jika masih sangat susah solusi akhir adalah konsumsi suplemen agar tidak terjadi defisiensi zat mikro. Bisa dengan teknik pengolahan dan penyajian yang kreatif, memang semakin sederhana teknik pengolahan semakin aman kandungan gizi dalam pangan namun semakin menurun minat selera makannya. karena zat gizi ini sangat rentan dan mudah menurun atau hilang kadarnya dalam bahan pangan, penyimpanan yang lama pun mengurangi kandungan zat gizi di dalamnya.

