Raden Ajeng (RA) Kartini merupakan satu tokoh yang akan selalu diingat oleh setiap para aktivis perempuan Indonesia atas wacana gerakan emansipasi yang dilakukannya dalam setiap pergerakan. Sebuah untaian spirit “habis gelap terbitlah terang” memberikan tafsiran filosofis-historis akan akar peradaban kehidupan antar-gender modern saat ini. Pikiran sederhana dari RA Kartini yang mestinya dipahami secara kompleksitas, namun dominan hari ini justru inspirasi perjuangan tersebut menghadirkan diskursus publik antar-gender hari ini yang cenderung tidak memberikan solusi strategis tentang masa depan peradaban.
Membicarakan tentang perempuan tentu akan bersinggungan dengan dialog multi-dimensional dan banyak perspektif. Sudah banyak sekali diskursus publik yang berbicara topik ini dari berbagai perspektif, seperti sosial, politik, biologis, psikologis, sosiologis, budaya, ekonomi, bahkan hingga perspektif agama. Maka dari itu, dari penggalan kata ‘habis gelap’, RA Kartini berupaya menjelaskan secara eksplisit tentang kelamnya kehidupan perempuan pada masa dahulu. Bukti bahwasannya dahulu perempuan hanya menjadi obyek cerita, ketertidasan dari budaya patriarki, korban dari tindakan missogini, bahkan tidak diperhitungkan dalam ranah publik sehingga sulit mengecap dan mendapatkan pendidikan menjadi basis spirit bagi RA Kartini untuk menghabiskan zaman kegelapan bagi perempuan tersebut dalam setiap pergerakannya.
Kita juga mengetahui, penggalan kata ‘terbitlah terang’ merupakan keberhasilan aktivisme perempuan dalam membalikkan takdir 180 derjat dengan menghapuskan segala bentuk ketertindasan terhadap perempuan. RA Kartini yang hidup pada abad ke-19 kita apresiasi berhasil membentuk peradaban baru bagi perempuan di Indonesia yang hidup di era modern ini. Pemikiran visioner itulah yang akan penulis coba uraikan dalam tulisan ini, yaitu pikiran akan masa depan yang lebih baik bagi perempuan, dan Indonesia tentunya.
Dalam realitasnya, kita bisa melihat hari ini banyak dialog publik yang dilaksanakan tanpa ada penyelesaian berupa kesimpulan dan solusi strategis. Saling adu kecerdasan dan kepiawaian dari laki-laki maupun perempuan bukannya memberikan ide segar untuk sebuah wacana peradaban baru yang solutif, melainkan semakin meningkatkan sentimen dan egosentris antar-gender. Akhirnya, visi “habis gelap terbitlah terang” tersebut yang sudah dimenangkan lantas sukar untuk dipertahankan. Bahkan, bisa kita tarik sebuah hipotesa hari ini dengan membentuk kembali untaian kata revisi “sudah terang kembali terancam gelap”.
Penulis mencoba untuk menguraikan persoalan ini dengan menawarkan konsep filosofis eksistensi melati dalam kehidupan. Melati bukan hanya satu jenis bunga layaknya banyaknya bunga yang hadir dalam ekosistem alam hari ini. Kehadiran melati sebagai bunga melambangkan kasih sayang, keindahan, kesucian, kesederhanaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Mengapa penulis bisa mengatakan demikian? Melalui indra yang dimiliki, kita bisa memperhatikan bunga melati yang kendati hidup di semak-semak bahkan belukar, namun tetap mampu menghipnotis setiap pasang mata yang memandang karena keindahannya, dan memanjakan setiap hidung yang ingin menciumi harum semerbaknya. Bahkan, dalam berbagai acara seperti pernikahan pun, melati juga mampu memberikan daya tarik ketika dipasangkan pada mempelai perempuan.
Maka dari itu, penginterpretasian melati tersebut ingin penulis jelaskan akan hakikat perempuan tentunya. Agar tidak menjadikan bahan perdebatan karena diinterpretasikan dalam perspektif seksualitas, penulis ingin menggarisbawahi bahwa filosofis melati tersebut bukan hadir dalam konteks perempuan secara raga, melainkan perempuan secara jiwa. Jika dilanjutkan penjelasannya, kendatipun perempuan tersebut sedang diposisikan di belakang, di tengah, disamping, maupun di depan, maka kehadirannya dalam komunitas tersebut tetap mampu mempengaruhi setiap individu yang berada dalam komunitas itu, tanpa memperdulikan posisi dan struktur jabatannya.
Lalu, kehadiran bunga melati saat ini yang sudah menjadi bunga hias di setiap rumah, memberikan spirit nilai juga bagi setiap perempuan. Kita bisa mengaitkan realitas tersebut dengan penggalan kalimat yang diucapkan RA Kartini, “terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna akan datang kepadamu.” Maka dari itu, kebesaran jiwa dan kerendahan hati mesti menjadi karakter kunci bagi setiap perempuan agar misi besar kehidupan yang berperadaban di masa depan bisa terwujud. Maka dari itulah, penulis kembali menekankan bahwa tulisan ini tidak mengkorelasikan RA Kartini dan Melati dalam konteks perempuan secara raga, melainkan secara jiwanya.
Maka dari itu, diskursus tentang perempuan ini sangatlah harus dijelaskan berdasarkan referensi filosofis-historis. Apalagi jika dibicarakan pada momen peringatan Hari Kartini, tentu nilai-nilai yang menjadi basis nilai perjuangan RA Kartini adalah sumber dari segala perjuangan yang juga harus diimplementasikan oleh para perempuan. Bahkan, RA Kartini yang juga pernah mengatakan “perempuan harus diberikan pendidikan, bukan untuk menjadi saingan laki-laki, tapi karena perempuan akan menjadi ibu, yaitu pendidik manusia yang pertama” mesti dipahami secara detil agar bisa ditransformasikan menjadi sebuah gerakan bernilai tanpa menghadirkan konflik horizontal antar-gender.
Kita sebenarnya mengetahui bahwa konflik horizontal hadir karena kecerdasan dan kekuatan dari setiap kebenaran (prinsip) tersendiri yang dipegang oleh setiap pihak yang terjaring kedalamnya. Maka dari itulah, penulis menitikberatkan perbaikan kedepan mesti dimulai dengan memperkuat ilmu jiwa dari setiap perempuan maupun laki-laki. Karena, dalam makna sejarah kehidupan pun kita melihat bahwa yang diperjuangkan oleh setiap pejuang bukan hanya kemenangan pribadi ataupun kelompok, melainkan adalah kemenangan masa depan peradaban yang lebih baik, agar dikemudian hari segala bentuk kelam tidak dirasakan oleh generasi penerus.
Akhirnya, pada momen Hari Kartini ini, penulis mengajak semua perempuan Indonesia untuk saling berjabat tangan bersama-sama agar jiwa-jiwa melati tetap mengharumi kehidupan dan peradaban Indonesia. Harumnya itulah nantinya yang akan dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Mari bersama-sama saling bahu-membahu agar jiwa-jiwa melati tersebut tetap memberikan kesan keindahan pada masa depan kehidupan dan peradaban Indonesia. Keindahan itulah juga yang nanti akan dinikmati oleh generasi penerus Indonesia. Mari kita upayakan bersama-sama harapan ini. Semoga harapanku, harapanmu, dan harapan kita semua sama untuk masa depan peradaban.
Oleh: Ghita Ramadhayanti, Ketua Umum KOHATI Badko Sumatera Barat

