Detak jantungku kian cepat. Setelah mengetahui kabar dari Bagian Informasi sekolah, kalau aku lulus di salah satu Universitas ternama di Jepang.
“Ya Allah, apapun itu pasti rencana-Mu yang terbaik”, Ku tenangkan diriku sendiri.
“Alhamdulillah..!” jeritku dalam hati sembari sujud syukur.
Muhammad Farzan, namaku terpampang di depan sekolah dengan ucapan selamat atas diterimanya beasiswa di Jepang. Nagoya University — Economy adalah impianku sejak lama. Setelah berhasil menenangkan diri kuputuskan menghubungi sahabat ku.
“Halo, Asalamualaikum, Anggi”
Anggi membalas dengan ramah seperti biasa
“Nggi, Alhamdulillah aku keterima”
Aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan ku padanya. Kuluapkan semuanya. Anggi adalah sahabat terbaikku.
Esok hari, Akupun duduk di bangku taman sekolah bersama Anggi dan perempuan yang banyak memberikan pelajaran kepadaku — Fatimah.
“Calon Ibu dokter gimana perasaannya?” godaku pada Anggi yang lolos jurusan Pendidikan Dokter.
“Calon orang Jepang juga gimana perasaannya? Kalo udah sukses disana, jangan lupain kita di negara tercintamu ini ya”, giliran Fatimah menggoda ku.
“lya beres, Bu Dok. Bye the way, ada dua calon dokter di sini, kalo gini aku kalah dong”, ledekku.
Fatimah juga diterima Kedokteran di salah satu Universitas terbaik di Jakarta (Universitas Indonesia). Suasana taman sekolah yang cerah. Namun teduh seakan turut bersuka Cita atas hasil awal dari masa depan yang kami perjuangkan seksama ini. In Syaa Allah.
Perempuan sederhana yang berpendirian teguh dan cerdas. Sifat ramahnya membuat ia memiliki banyak teman dekat, termasuk aku. Ia memiliki pemahaman hidup yang sederhana, selalu bekerja keras, pandai bersyukur dan saling membantu. ltulah alasan mengapa Fatimah ingin menjadi seorang Dokter. la ingin menolong rakyat yang terabaikan haknya. Tetapi tidak ingin menjadi politisi. Baginya, hidup sederhana dan dapat menolong sesama itu membahagiakan.
‘Semua berasal dari dasar hatimu, bukan seperti hadiah atau gelar yang berasal dari luar hatimu. Saat semua hilang, maka kebahagiaan itu juga akan hilang dengan mudahnya’. Itu salah satu petuah yang ku ingat dari Fatimah.
“Kamu kapan berangkat, Zan?” tanya Fatimah.
“Insya Allah kalau tidak ada halangan akhir September berangkat, doakan aku ya.”
“Wani piro? Bawain bunga sakura ya kalo pulang kampung” cetus Fatimah
“Eh Imah, kamu masih jomblo? Maksudku sendirian?.”
Pertanyaan Anggi tiba-tiba menghamburkan suasana ketika Fatimah sedang asyik bercanda denganku.
“Masih Dong.”
“Kamu dari dulu sendiri terus, tidak pernah tertarik sama laki-laki apa?”
Pertanyaan Anggi menyadarkanku. Kalau Fatimah tidak pernah memiliki pacar, belum pernah lebih tepatnya.
“Memang kalo tertarik/suka harus diperlihatkan ya?” Fatimah balik bertanya
“Ya.. Engga juga sih, habisnya banyak yang bilang kalau kamu Engga..”
“Engga apa, Nggi? Ga normal? Atau ga waras? Hahaha, biasa pasti pada tanya gitu,”
“Tapi, emang beneran kamu gak pernah tertarik sama perempuan, Mah?” pertanyaan dariku meluncur begitu saja.
“Hmm, ada satu laki-laki yang bisa buat aku tertarik” mata Fatimah menerawang jauh
“Tapi aku tidak mau memperlihatkannya atau bahkan sampai memamerkannya. Diam dan bersabar mungkin lebih baik sembari memperbaiki diri, sampai pada waktu yang tepat dan semua sesuai dengan petunjuk Agama.”
“Oh..jadi kamu bisa tertarik juga ya?.” Jawab Anggi dengan nada meledek sambil menganggukan kepala.
“Ya seperti itu. Berdoalah agar selalu diberikan yang terbaik. Jadi, aku berdoa untuk mendapat yang terbaik, entah dia ataupun orang lain. Saat ini aku ingin berjuang terlebih dahulu. Biarkan Dia berjuang juga demi mengejar mimpinya”.
Percakapan kami ditutup dengan membicarakan Fatimah yang tidak normal. Anggi dan Fatimah merupakan orang yang berperan penting dalam hidupku.
Septemberpun tiba, bulan keberangkatanku, Aku turun dari mobil Kakekku dan mengambil koper beserta barang-barang di bagasi mobil. Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada keluargaku. Aku melihat air mata Nenek bercucuran, entah karena bersedih ditinggal anaknya/ bahagia karena keinginan cucunya tercapai.
Berat rasanya kaki ini melangkah berjalan masuk ke bandara. Mengingat peristiwa tiga tahun lalu, yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku dan hampir merenggut semangat hidupku. Ayah, Ibu akan ku tepati janjiku untuk menjadi laki-laki tegar dan tangguh.
Perjalanan sepuluh jam berakhir di Naira Airport. Aku telah sampai di Jepang, negara yang akan menjadi awal perjuanganku menggapai mimpi. Aku berjalan keluar bandara. Pemandangan kota yang bersih dan matahari yang cerah menyambutku. Ku hirup udara dalam-dalam. Masih belum percaya akan keberadaan ku di negara impian.
“Ini musim panas!” bisikku dalam hati.
Ya Allah, terima kasih atas semua karunia-MU, dan kesempatan yang kau berikan kepadaku. Tak akan ku sia-siakan.
Sebelum menuju apartemen, kusempatkan untuk berkeliling di Tokyo. Di Shinjuku, aku tidak membeli pakaian atau sejenisnya, sasaranku adalah kuliner. Aku menyicipi kaki gori atau es serut di cafe. Karena hari sedang panas, aku membeli makanan serba dingin seperti somen dan soba dingin, dan es krim beraneka ragam. Setelah puas berburu makanan, aku melanjutkan untuk menuju apartemenku dan beristirahat.
Apartemenku berada tidak jauh dari Universitas Nagoya, 10 menit jika menggunakan sepeda. Dan aku merasa senang karena di dekat apartemenku terdapat masjid dan restoran halal. Kehidupan awal kuliahku tidak begitu lancar, karena aku belum terlalu mahir berbahasa Jepang, Namun, setelah dua bulan aku mulai beradaptasi dengan baik.
Aku sangat senang dengan budaya orang Jepang yang disiplin. Di Jepang aku memiliki teman dekat, Shino namanya. Gadis yang memiliki paras layaknya orang Jepang, putih dan tinggi semampai. gadis yang ramah. Sering ia berkunjung ke apartemenku. Shino pernah menyuruhku untuk membaca Al-Quran karena ia ingin mendengar langsung seorang muslim yang membaca Al-Quran.
Dan Shino tertarik untuk mempelajari Al-Quran. Ia bercerita tentang pandangan orang Jepang (dulu dengan sekarang berbeda atas Islam). Shino pernah menjadi Islamophobia. Namun lambat laun ia menemukan fakta bahwa Islam tidak sama seperti yang ia takutkan selama ini. Menurutnya, Islam adalah agama yang damai dan sangat menjaga wanita. Aku sangat senang mendengarkan ceritanya tentang pandangan orang Jepang terhadap agama Islam. Aku berharap semoga diberikan kesempatan untuk menuntunnya masuk Islam.
“Apakah ini hasil laporan keuanganmu, Zan? Bahkan sudah empat semester kamu tidak berubah ya, belum Balance,” oceh Renald.
Mahasiswa dari jerman ini memang hobi untuk menghinaku. Entah apa yang membuat ia senang menghina hasil kerja kerasku. Aku hanya tersenyum atas cemoohannya, tak mau berkomentar atau membalas. Aku ingat pesan dari Ayahku, yang menghina belum tentu lebih baik dari yang dihina. Mereka menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain.
Saat seperti ini, aku rindu dengan Anggi dan Fatimah. Sedang apa mereka berdua. Kami jarang berkomunikasi. Terakhir sebulan yang lalu Anggi bercerita banyak hal tentang kuliahnya. Dan Fatimah juga bercerita tentang kehidupan kuliahnya. Aku selalu mengingat pesanbdia untukku. Jadilah dirimu apa adanya, dan jika mendapat cobaan berdoalah untuk dikuatkan bukan dimudahkah.
“Semoga kamu mendapatkan yang terbaik, dan seseorang yang terbaik” ucapan perpisahan yang disampaikan lewat pesan singkat sebelum aku berangkat ke Jepang.
Aku selalu berdoa agar diberi yang terbaik, dan aku percaya akan rencana-Mu ya Allah. Saat tiba di Jepang, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan (pacaran). Aku ingin bersabar dalam diam dan memperbaiki diri seperti yang dilakukan Fatimah, menggeruh. Fatimah selalu mendorong ku untuk menjadi lebih baik.
Setelahh melalui perjuang keras, akhirnya aku lulus dengan predikat Cumlaude. Aku langsung ditawari untuk bergabung dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Aku pun mengawali karirku di perusahaan tersebut bersama dengan Shino yang menjadi partnerku. Ia menjadi muallaf setelah ia mempelajari Al-Quran. Dan yakin bahwa Islam dapat menuntunnnya.
“Zan, apakah kamu sedang menunggu seseorang?” tanya Shino kepadaku.
“Ya aku sedang menunggu perempuan yang aku sukai. Dia yang selalu aku tunggu, walaupun aku tidak tahu dia sedang mencari siapa.”
Sudah delapan tahun aku tidak bertemu dengannya. Seharusnya aku senang. Namun, Fatimah menemuiku karena dia ingin menceritakan laki-laki spesial yang pernah diceritakan dulu. Entah mengapa hariku gelisah, ‘Ya Allah semua perasaan Itu datang dariMU dan semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMU, jika memang bukan dia orangnya, teguhkan aku ya Allah agar perasaan ini tidak membuat aku berkhianat atas nikmat-Mu.
Kami berencana untuk melihat festival salju yang memancarkan ukiran-ukiran es, termasuk pahatan bangunan seperti Tokyo Tower. Aku duduk di bangku taman mengamati warna-warna Indah yang muncul dari pembiasan es. Sungguh menakjubkan. Ku rapatkan jaket tebalku karena udara sangat dingin.
“Assalamualaikum, Farzan”, suara itu membuat jantungku berdebar. Kuangkat kepalaku dan melihat seorang perempuan tersenyum kepadaku. Pemilik senyum itu membuat aku untuk tetap bertahan di kehidupan yang keras ini. Sekarang Dia berdiri di depanku. Membawa sepucuk surat undangan. Oh tidak, aku tidak siap untuk ini, terluka dan jatuh.
Udara dingin yang menusuk di musim dingin menjadİ saksi akhir dari kisahku yang menggeruh. Aku membalas salam dengan senyum yang aku paksakan.
“Kamu makin dewasa, berubah banyak. tapi aku tetap bisa mengenalimu.” Sapa Fatimah dengan hangat. Kami pun bertanya kabar dan bercerita satu sama lain.
“Kamu sudah menemukan orang yang terbaik untukmu, Zan?” Aku hanya tersenyum dan menggeleng.
“Apakah Itu surat undangan pernikahanmu, Fatimah?” tanyaku sembari menyembunyikan ekspresi kesedihanku
“Zan, ini surat undangan pernikahan buat kamu, Bukalah”. Dengan ragu aku menerima undangan tersebut.
Undangan ini tidak telalu besar dan berwarna Silver, dengan desain yang simpel namun elegan. Tangan ku serasa tidak mau membuka surat undangan ini. Tapi aku tidak mau Fatimah mengetahui kesedihanku. Saat di halaman pertama surat undangan, mataku terbelalak. Tidak mungkin. Fatimah hanya tertawa.
“Kenapa muka kamu langsung berubah gitu, Zan?”. Aku langsung menatap Fatimah dengan tatapan sejuta pertanyaan.
”Itu benar, Zan. Anggi akan menikah”. “Kenapa Dia gak bilang-bilang ke aku?”
Aku masih menatap surat undangan dari Anggi.
“Dia tau aku mau ke Jepang dan mau ketemu kamu. Katanya sih dia mau ngasih kejutan”.
Akhirnya Fatimah menceritakan tentang rencana pernikahan Anggi.
“Aku kira ini surat undangan pernikahan kamu”, ucapku.
Kelegaan menyelimuti hatiku. Aku dan Fatimah beranjak untuk melihat ukiran-ukiran es dan pahatan es yang dipamerkan di Taman ini. Fatimanpun bercerita tentang laki-laki yang selama ini dapat menarik perhatiannya. Aku kaget, tak menyangka bahwa selama ini yang Fatimah maksud adalah diriku.
Layaknya bunga matahari yang menanti matahari. Aku akan menunggumu dalam diam dan sunyi. Bertegur sapa lewat langit yang senantiasa senang menampung doa serta salam tulusku untukmu. Membiarkan angin merengkuhnya, dan membawanya kepadamu. Kan kunikmati setiap detik kisah kita yang menjeda dengan sabar. Kepada nama yang akan Allah takdirkan kepadaku.

