Kaderisasi atau pengkaderan merupakan sebuah proses atau tindakan mendidik, melatih, dan mempersiapkan calon anggota atau kader yang memiliki keterampilan dan disiplin ilmu. Harapannya melalui proses perkaderan akan lahir para pemimpin-pemimpin yang siap, dan berkualitas untuk membawa perubahan di masa mendatang. oleh karena itu, kaderasisasi sangat penting untuk dilakukan sebagai tonggak masa depan.
Merujuk pada sirah nabawiyah, Rasulullah Saw. telah mencontohkan kepada umat Islam bahwa dalam menyebarkan dakwah memerlukan kaderisasi. Rasulullah berperan sebagai pengkader dan menjadi ujung tombak selama masa perkaderan. Beliau sendiri yang mengkader para sahabat secara langsung sebagai manusia terbaik yang telah Allah ciptakan untuk mendakwahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagaimana firman Allah Swt:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S Ali Imron: 110)
Adapun dalam memulai proses perkaderan tersebut, Rasulullah menggunakan salah satu rumah sahabat yaitu Arqam bin Abil Arqam. Di dalam rumah tersebut, Rasulullah mengkader para sahabat secara intensif, memberikan pengarahan, pelatihan, dan menyontohkan sendiri perilaku kepada setiap sahabat. Materi-materi yang diajarkan berupa syariat Islam yang bersumber wahyu Allah.
Selain diajarkan syariah sebagai modal awal dalam melakukan segala tindakan, Rasulullah juga mengajarkan materi-materi aspek kehidupan di berbagai bidang seperti mu’amalah, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik dan lain sebagainya. Proses perkaderan tersebut dilakukan secara bertahap mulai dari sembunyi-sembunyi kemudian secara terang-terangan.
Rasulullah mengkader secara mendalam mulai dari dasar hingga setiap kader dapat dipastikan mampu berdiri sendiri dan siap berjuang mendakwahkan agama Islam. Kader yang sudah dipastikan siap oleh Rasulullah, selanjutnya akan diberikan tugas-tugas khusus untuk terjun ke medan dakwah atau yang biasa dikenal dengan sistem delegasi.
Maksud dari tugas khusus tersebut seperti menjadi seorang mata-mata atau informan bagi para penentang agama Islam ketika peperangan hendak berlangsung, menyerakan bendera kepemimpinan perang, memberikan mandat untuk berperang, mengantarkan pesan negosiasi Rasulullah kepada para penguasa dengan maksud mengajak untuk beragama Islam dan lain sebagainya.
Kemudian, di dalam sistem perkaderan Rasulullah selalu melaksanakan evaluasi atas amalan atau pekerjaan yang telah dilakukan kepada para kader. Apabila ditemukan kegagalan atau perbuatan dari setiap kader kurang tepat maka Rasulullah akan menegur dan memberikan nasihat-nasihat serta memberitahukan letak kesalahan yang telah kader tersebut lakukan. Contohnya, pada saat Usamah tetap membunuh salah satu kaum musyrikin, padahal salah satu kaum musyrikin tersebut mengucapkan syahadat sebagai persaksiannya atas Allah dan Nabi Muhammad. Maka, seusai pulang dari peperangan tersebut, Rasulullah langsung menegur Usamah dan membuatnya paham dan menyadari bahwa ia telah melalukan perbuatan yang salah.
Rasulullah selalu memberikan kesempatan kepada setiap umatnya untuk bertaubat kepada Allah dan memberikan kesempatan, barangkali dari kaum musyrikin tersebut bakal lahi para generasi canggih pembela Islam. Maka, perbuatan yang telah dilakukan oleh Usamah tersebut langsung disikapi dengan tegas oleh Rasulullah dalam menjalankan roda dakwah. Rasulullah begitu detail dalam mengurus perkaderan hingga berbuah pada sahabat-sahabat Rasul yang kini dikenal sukses dan mencapai tinta emasnya.
Adapun sahabat yang merupakan kader-kader Rasulullah dan berhasil mencatatkan tinta emas dalam sejarah salah satunya adalah Mushab bin Umair. Mushab bin Umair,m merupakan kader yang sukses mengislamkan para tokoh di kota Yatsrib, sehingga kota Yatsrib tersebut dapat menjadi tempat singgah bagi para Rasul dan umatnya setelah diusir dari kota Mekkah oleh kaum kafir Quraisy.
Kemudian, melalui perkaderan Rasulullah dapat menyiapkan pula pasukan untuk memerangi para musuh yang menentang agama Islam. Misalnya para penentang dakwah Rasul yang menghambat perluasan wilayah kerajaan romawi. Pada saat itu akan terjadinya peperangan besar. Maka, guna mengislamkan daerah kerahjaan Romawi dan memerangi musuh yang menghalangi jalannya dakwah, Rasulullah menunjuk Usman bin Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang. Padahal pada saat itu Usman masih berusia 18 tahun. Namun, Rasulullah tidak ragu dalam menunjuk Usman sebagai panglima perang karean kualitas Usamn terlihat dan diveririkasi selama mengikuti perkaderan bersama dengan para sahabat yang lain.
Sahabat Rasululah yang lain seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan yang lainnya dengan keberhasilan yang telah dicapai merupakan hasil pengkaderan Rasulullah guna menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, memahami sistem perkaderan yang telah dilakukan oleh Rasulullah ini bahwa dalam mewujudkan tujuan bersama, cita-cita yang besar dan mengajak pada kebaikan itu membutuhkan para kader atau pemuda. Para pemuda atau kader ini haruslah dibina secara intensif. Selian itu, tidak lupa pula melakukan proses evaluasi dari setiap metode atau cara yang digunakan selama proses perkaderan agar tidak terulang kesalahan yang sama secara berkelanjutan.
Kemudian, melakukan inovasi-inovasi baru agar setiap kader dapat tumbuh sesuai dengan perkembangan zaman dengan kualitas yang unggul. Dengan demikian, penting untuk menyediakan rumah perkaderan bagi para generasi muda untuk mengembangkan minat dan bakat, meningkatkan kualitas keimanan, membuat daya dan kekuatan untuk bertahan, serta menyambut tantangan dimasa depan.
والله عالم بشواب

