Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang dan Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, sejak awal didirikan sudah mencanangkan ambisi melahirkan pribadi yang berilmu, berharta, dan berkuasa. Inilah pribadi yang diharapkan bisa optimal dalam memperjuangkan agama. Dengan menjadi pribadi yang demikian, santri akan siap untuk mewakafkan hidup untuk agama, bukan sebaliknya menjual agama untuk hidup. Namun, tentu saja, agar mimpi dan ambisi tersebut terwujud, diperlukan usaha yang super keras.
Melahirkan santri yang bisa menguasai ilmu pengetahuan, itu tidak mudah. Sebab, untuk bisa memahami Islam secara utuh, harus menguasai ilmu alat, hafal al-Qur’an, hafal hadits, dan paling tidak memiliki logika yang sangat tajam. Proses untuk itu, diperlukan usaha yang luar biasa. Apalagi jika santri juga diharapkan untuk menjadi pribadi yang juga kaya dengan usaha-usaha yang konkret berdasarkan panduan agama. Itu jauh lebih sulit lagi. Sebab, dalam belajar ilmu, bisa dikatakan tidak akan mengalami kerugian. Namun, dalam belajar menjadi pengusaha, jika gagal, maka akan ada banyak modal yang hilang.
Perjalanan untuk melahirkan SDM berkepribadian lengkap tersebut, ibarat perjalanan menuju puncak bukit. Harus melewati jalan yang kadang terjal, berbatu tajam, menanjak, dan juga licin yang bisa menyebabkan terjatuh dan terluka. Namun, setiap kali terjatuh dan terluka, tidak boleh berhenti. Harus mampu bangun lagi dan terus melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Jika berhenti pasti gagal. Jika bertekad kuat untuk melanjutkan perjalanan, maka masih tetap ada peluang untuk mendapatkan kesuksesan.
Untuk kesuksesan besar itulah, Dr. Mohammad Nasih, M.Si., pendiri sekaligus pengasuh Monasmuda Institute dan Planet NUFO tak hanya memotivasi para santri, tetapi bahkan membersamai mereka dalam jatuh bangun membangun berbagai usaha. Tak hanya bicara, tetapi secara konkret menyediakan “lapak-lapak” usaha, di antara budidaya domba, sapi, kelinci, maggot, menanam sayur-mayur, berjualan, dll. Untuk mengetahui suka-duka membersamai para santri dalam membangun dan menjalankan usaha, baladena mewawancarai bapak lima anak yang akrab disapa Abah Nasih atau Abana oleh para santrinya:
Baladena: “Abah Nasih, Planet NUFO ini menurut saya terlalu ambisius. Santri harus tidak hanya berilmu, tetapi juga berharta, bahkan berkuasa. Apa ambisi ini tidak keluar dari prinsip-prinsip Islam?”
Abana: “Justru karena ini sangat Islami, maka saya ajarkan di sini. Dan saya tahu ini tidak mudah. Tapi Islam memang sering menekankan tentang perjuangan. Kenapa harus ada perjuangan? Karena ya tidak mudah itu. Kenapa saya sebuat sebagai Islami? Karena Nabi adalah ilmu, harta, dan kuasa itu ada pada diri Nabi, dan ketiganya dijadikan sebagai alat untuk berjihad, memperjuangkan agama Allah. Kalau kita membaca sirah nabawiyyah dengan benar, kita akan tahu bahwa Nabi Muhammad adalah sosok profesional. Sejak usia balita, Muhammad yang kemudian menjadi utusan Allah itu sudah pandai menggembala domba, juga menundukkan unta. Karena keahlian menundukkan unta inilah, Muhammad belia diajak oleh kafilah yang dipimpin pamannya, Abu Thalib, berdagang ke luar negeri. Ingat, saat Abu Thalib dan rombongannya diundang oleh Pendeta Buhaira, Muhammad belia menunggui unta-unta mereka di luar. Baru setelah diminta Buhaira untuk mengajaknya masuk, Muhammad kecil dipanggil masuk. Dan Buhaira tahu ini adalah calon rasul terakhir. Tapi bukan ini yang mau kita bahas.
Lalu, Nabi Muhammad menjadi fund manager andal, yang bahkan kemudian dipercaya oleh Ibu Khadijah. Sampai-sampai, karena cita-cita Khadijah adalah menjadi istri rasul terakhir, beliau menyampaikan keinginannya untuk menikahi Muhammad muda. Jadilah Muhammad muda ini suami dari seorang perempuan pengusaha yang memiliki kekayaan luar biasa besar. 2/3 kekayaan Makkah adalah miliknya. Setelah menikah, Khadijah mengatakan bahwa suaminya boleh menggunakan hartanya untuk apa pun yang dia suka. Ini karena Khadijah tahu bahwa seorang rasul pasti akan melakukan perjuangan besar. Dan itu harus dilakukan dengan harta, bukan hanya ngomong saja.
Setelah itu, sebagaimana harapan Khadijah, benar-benar diangkat menjadi rasul, mendapatkan ilmu pengetahuan dari Yang Maha Mengetahui, berupa wahyu. Inilah yang menjadi panduan seluruh umat manusia. Ilmu inilah yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat. Dan untuk berdakwah di Makkah selama 13 tahun, Nabi Muhammad dan Ibu Khadijah menghabiskan seluruh harta kekayaannya. Bahkan digambarkan, Ibu Khadijah yang kaya raya itu saat meninggal dunia memakai baju dengan 80 tambalan.
Namun, ternyata perjuangan selama belasan tahun ini, menghadapi banyak hambatan. Bahkan Nabi kemudian harus hijrah. Tetapi karena hijrah ke Yatsrib ini, Nabi malah dijadikan sebagai pemimpin politik. Nabi jadi presiden. Di Yatsrib, Nabi Muhammad justru bisa membangun negara dan menjadi presiden.
Dakwah beliau tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga struktural. Pemeluk Islam meningkat drastis. Bahkan kemudian bisa menunddukkan Makkah tanpa ada perlawanan. Bagaimana tidak, pasukan Nabi berjumlah belasan ribu. Sedangkan penduduk Makkah hanya kira-kira 5000-an saja. Jadi, dengan harta, kita sudah bisa berjuang. Dan dengan kekuasaan, kita bisa melakukan yang lebih besar lagi.
Baladena: “Iya juga ya. Jadi ternyata keliru ya, kalau santri hanya diajari ngaji saja?”
Abana: “Ya jangan dibilang keliru. Tapi belum cukup. Sebab, Nabi kita itu seorang pengusaha. Beliau adalah orang yang tidak hanya kaya, tetapi kaya raya, yang menggunakan seluruh kekayaannya, bahkan juga keluarganya untuk berjihad fii sabiilillaah. Nabi Muhammad kan juga keturunan para pedagang. Perjalanan yang oleh al-Qur’an di dalam surat Quraisy disebut sebagai rihlat al-syitâ’ wa al-shayf itu dipelopori oleh kakek buyut Nabi, Hasyim. Kakeknya Abdul Muththalib dan ayah Nabi juga pedagang. Unta Abdul Muththalib yang pernah disandra oleh Abrahah ketika menyerang Ka’bah saja 200 ekor. Itu setara dengan 200 buah mobil, karena fungsi unta waktu itu kan kendaraan untuk perjalanan dagang. Bagaimana tidak kaya raya? Iya kan? Nah, Nabi Muhammad belajar melakukan semuanya itu sejak masih berada di rumah Ibu Halimah al-Sa’diyah dengan menjadi penggembala dan benar-benar canggih. Nah, anak-anak kita saat usia balita lagi ngapain? Bermain yang memiliki nilai latihan apa mereka? Saat usia Nabi ikut dalam kafilah Abu Thalib, anak kita sedang apa? Padahal mestinya, kita bisa membangun pendidikan yang diformat dalam bentuk bermain juga. Menggembala ternak adalah di antara pilihannya. Kalau dalam lingkungan kita, menanam juga bisa menjadi alternatif yang lebih mudah lagi.”
Baladena: “Tapi untuk itu kan perlu modal yang tidak sedikit?”
Abana: “Nah itu tahu. Kalau cuma mengajarkan ngaji, nggak perlu modal besar. Hanya perlu mushhaf al-Qur’an yang harganya Rp. 50.000, ditambah kitab-kitab tanpa ada risiko gagal dan menanggung kerugian. Karena tidak mudah ini, maka kita harus memberikan contoh. Dan kita harus berani menanggung risikonya. Itu tadi, gagal dan rugi. Dan itulah yang kami alami di sini. Jangan dipikir usaha kami di sini langsung berhasil semua. Pelihara domba misalnya. Pertama kali memelihara domba, bagus-bagus. Tapi dombanya waktu itu hanya 50-an ekor. Lalu ada teman yang ingin membantu, tetapi juga tidak mau hanya memberi. Maka beliau bilang ikut investasi domba. Karena kami sudah bisa memelihara 50 ekor dengan baik, maka dengan senang hati saya menerimanya. Tapi, ternyata ada masalah. Sampai separuhnya bermasalah, karena kesalahanan teknis menejemen pakan. Untungnya yang bermasalah masih bisa disembelih untuk dimakan santri. Tapi kan saya harus mengganti domba-domba yang gagal bertahan itu. Saya mengajak Suud dkk. yang mengurus domba untuk menyampaikannya yang terjadi di lapangan kepada Mas YA dan saya sampaikan nanti akan segera dibereskan. Sebab, Planet NUFO harus tetap punya usaha ini. Dan domba ini adalah usaha yang paling realisistis dan menjanjikan. Sampai akhirnya dilakukan evaluasi dan sekarang kembali bagus. Domba sudah beranak pinak dengan normal.”
Baladena: “Apa lagi yang pernah gagal, dan sekarang ini, usaha apa yang paling andal?”
Abana: “Maggot itu jangan dikira tidak pernah gagal. Tapi kemudian diperbaiki terus. Tadinya karena kepanasan, hasilnya kurang optimal. Maggotnya tidak begitu besar. Lalu kami taruh di bawah kandang kambing. Jadi di bawah kandang kambing ada kolamnya. Kotorannya langsung jadi media maggot. Tapi ternyata diduga menjadi penyebab domba masuk angin. Lalu kami perbaiki lagi, dan kami terus perbaiki, agar jumlah maggotnya cukup untuk makanan ikan, menthok, dan ayam yang dipelihara oleh para santri. Dengan terus memperbaiki usaha-usaha ini, lalu mengintegrasikannya, jika pun salah satu tidak untung, yang lain menghasilkan untung. Namun, yang paling penting adalah membiasakan para santri-murid terus latihan bekerja dan terus melakukan inovasi, tanpa rasa bosan dan putus asa. Sebab, tidak ada usaha apa pun itu yang bisa direplikasi atau copy paste ke tempat lain dan langsung berhasil. Sebab, satu variable di lingkungan yang lain, sangat berpengaruh. Di situlah, mereka memerlukan kesabaran untuk bisa melakukan inovasi-inovasi sampai menemukan formula yang pas, dan bisa berhasil. Itu yang kami alami. Di antara yang sekarang menjadi andalan adalah air minum, jualan di depan masjid Mlagen itu jalan terus, ikan lele, dan masih banyak yang lain.”
Baladena: “Jadi, sesungguhnya apa yang diharapkan dari santri dengan mereka bisa ngaji dan punya usaha ini?”
Abana: “Kalau mereka menguasai ilmu, mereka memiliki bahan yang nanti harus mereka dakwahkan. Dan kalau mereka memiliki sumber-sumber penghidupan, mereka akan berdakwah, mengajar, dan bentuk-bentuk jihad lainnya dengan tenang. Mereka akan mengajar dengan gratis, tidak meminta atau bahkan sekedar berharap imbalan. Sebab, al-Qur’an diajarkan oleh Rasulullah dengan gratis. Itulah sebabnya, ulama’ disebut sebagai pewaris para nabi. Yang diwariskan para nabi yang ajaran agama. Warisan itu diberikan secara gratis. Dan pada umumnya orang tua berharap agar harta yang mereka wariskan nantinya tidak dijual. Kiasan sebagai warisan inilah yang mestinya dipahami dengan tepat oleh para da’i, pengajar Islam, bahwa mereka harus mencontoh para nabi, tidak meminta bayaran. Mengajar dengan gratis. Agar bisa mengajar dan berdakwah dengan gratis, ya harus punya usaha sendiri.” (AH)

