Senja hadir menyemai jingga, tak ku sangka saat berkisah telah purna. Purna dalam kekosongan dan kehampaan. Entah apa yang tengah melandamu pun aku. Tapi kini, yang ku tahu senja akan berganti malam. Saatnya kau berpamitan, meski aku enggan melepaskan.
Dalam butiran air mata yang tak henti menetes dari kedua bola mataku, tanganku tak henti menyeka dan bibirku berupaya mengembang. Tak lain, hanya untuk membuatku tampak tanpa luka juga duka. Aku ingin senja sore ini mencipta cerita yang tak bisa kau lupa. Tentang kita yang kini hanya memandang pada jarak yang semakin mengada.
Pergilah, kataku. Semoga kebaikan selalu melingkupi jiwa dan jasadmu. Kurapal doa, agar kau tenang dan tentram di tanah tinggalmu yang baru.
Meski berat, kakiku akan tetap menopang jasadku. Semoga kelak, temu menjadi kebahagiaan yang diridhoi-Nya. Hingga tawamu juga aku memenuhi juga melengkapi cakrawala kita.
Berjalan tanpamu bukanlah suatu hal yang ku harap, namun pergimu adalah sebuah keniscayaan dari kisah yang telah tertulis pada ketetapan-Nya. Ku syukuri segala yang telah semat dan menyelinap dalam bilik nadiku. Berkatmu, aku mengerti bahwa cita akan tetap berotasi, pada putaran bumi yang tak henti hingga nanti.
Setiap peluh adalah potret.
Setiap peluk adalah magnet.
Darinya aku menemu ruh yang kian mengobar, tak ku izinkan padam. Serat sarat mengembangkan alunan, tentang nada dan melodi, yang kurangkai saat mengingat dan menyebutmu.

