Jangan Terburu-buru Menikah!
Alhamdulillah. Di tengah perjalanan menuju Qur’anic Habbit Camp di Rembang, aku berhasil menemukan pengalaman yang mengajarkanku untuk tidak terburu-buru dalam menentukan jalan hidup.
Kulihat Molka, anak Abah Nasih merengek untuk dibelikan susu. Tidak boleh tidak, hal itu harus segera diwujudkan. Abah terpaksa harus berhenti ke mini market terdekat dan bergegas membelikan susu untuknya.
Setelah selesai membeli susu untuk Molka, Abah bertanya kepadaku “Diah, apa hikmah dibalik tingkah Molka ini?”.
Aku bingung untuk membalas apa. Pertanyaannya sangat tersirat. Aku hanya bisa menjawab dengan jawaban yang kurang memuaskan.
Kemudian, Abah baru menjawab pertanyaannya sendiri. Abah menyatakan bahwa sebelum menikah, kami harus mematangkan segala hal, terutama intelektual dan finansial. Bagian membeli susu ini termasuk bagian finansial.
Abah sangat menyoroti masalah ini berdasarkan fakta yang ada.
Banyak di luar sana yang memutuskan untuk menikah tanpa persiapan apa-apa. Padahal, mempunyai anak dan mengurusnya menjadi salah satu sebab dari menikah yang harus dihadapi orangtua.
“Kalau orang dewasa, mereka masih bisa menahan untuk tidak makan sesuatu. Tapi kalau anak kecil, gimana?” _istifham taqrir_ dilontarkan Abah.
Aku tertegun dan mulai sadar bahwa menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menikah bukanlah hal yang sepele. Apalagi jika Allah telah _mewanti-wanti_ dalam firman-Nya dalam Surat an-Nisaa’ ayat 9:
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Ayat tersebut menekankan kepada umat Islam untuk senantiasa mematangkan diri sebelum menjadi orang tua. Menikah memang harapan banyak orang. Namun, semua itu harus dipersiapkan dengan matang. Jangan sampai anak menjadi tak terurus dan mengalami penderitaan akibat ulah kedua orangtua.

