Site icon Baladena.ID

IPM : WADAH PENDIDIK PEMUDA ISLAM YANG IDEAL

Muhammadiyah adalah salah satu persyarikatan Islam terbesar di Indonesia, dipelopori oleh Muhammad Darwis, atau yang kerap kita kenal sebagai K.H Ahmad Dahlan. Pertama kali dibentuk di kampung halamannya, yakni Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 18 November 1912, dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Namun, alasan utamanya adalah maraknya terjadi praktik TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat) di dalam lingkup Islam kala itu. Dengan mengusung taglineamar maruf nahi munkar”, serta berdakwah dengan menumpu kepada Al-Quran dan As-sunnah membuat gerakan ini dengan mudah tersebar dan diterima di berbagai penjuru Nusantara. Saat ini, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi raksasa di Indonesia, bahkan sudah berdiri beberapa cabang istimewa di mancanegara.

Di samping itu, Muhammadiyah merupakan organisasi induk yang menaungi beberapa organisasi otonomnya yang acap disebut Ortom Muhammadiyah, salah satunya adalah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Berdiri pada tahun 1912 dengan nama awal Siswo Projo, hingga familiar di mata dan telinga masyarakat Indonesia pada tahun 1958, pasca Konferensi Pemuda Muhammadiyah yang dilaksanakan di Garut. Maksud K.H Ahmad Dahlan membentuk IPM ini adalah untuk menyebar luaskan gerakan Muhammadiyah di kalangan pelajar. K.H Ahmad menganggap bahwasanya pelajar adalah target krusial bagi masa depan Muhammadiyah. Bagaimana bisa begitu?

Mengapa Harus Pelajar?

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Dari sebuah quotes yang dideklarasikan oleh Ir. Soekarno di atas bisa kita bedah, bahwasanya esensi pemuda di dunia memiliki pengaruh yang signifikan dan konkret. Bahkan digadang-gadang dapat memengaruhi dunia dengan tangan-tangan muda mereka. Apakah benar? Lantas, mengapa bisa dikatakan demikian? Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa makna dari kata pemuda.

Secara etimologis, kata pemuda jika kita merujuk pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan kata muda yang diawali dengan afiksasi pe- di depannya. Sedang muda sendiri memiliki arti belum cukup umur, belum matang, belum saatnya untuk dipetik. Harus diberi beberapa sentuhan dan dorongan internal dan eksternal agar dapat optimal untuk difungsikan. Antonimnya adalah remaja.

Namun, secara terminologi, pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan, baik saat ini maupun masa datang.

Jika kita simpulkan kedua pernyataan tersebut, pemuda adalah manusia muda yang tengah berkembang, baik dari segi fisik maupun psikisnya. Ibarat buah yang belum matang, yang masih perlu mengalami beberapa peningkatan dan penguatan dari kandungannya, sehingga terciptalah buah manis dan bergizi yang pada akhirnya dapat manusia petik dan konsumsi. Tentu saja, hukum alam sudah membentuk bakal buah dengan sedemikian rupa agar siap menerima injeksi gizi yang dialirkan oleh sistem organ pada tumbuhan.

Pemuda juga dapat dianalogikan demikian. Buah muda dan manusia muda memiliki korelasi yang sama. Di mana kondisi keduanya telah dirancang Tuhan sedemikian rupa agar dapat beradaptasi dengan perubahan, baik internal maupun eksternal. Masa muda merupakan transisi menuju kedewasaan, dialami dengan peningkatan hormon yang pada saat itu sedang gencar sekali, sehingga berefek pada cara pemuda berpikir. Fear of missing out, globalnya.

Banyak orang mengatakan, fase pemuda ini adalah fase yang sangat rawan, atau masa depan manusia dapat ditilik dari masa mudanya. Betul, fase pemuda adalah fase penentu bagi keberlanjutan hidup seorang insan kedepannya. Pun mereka dalah manusia muda yang akan hidup di masa depan, lain hal dengan kaum tua. Oleh karena itu, masa muda ini perlu kita perhatikan dengan seksama. Sebagaimana buah yang membutuhkan sentuhan khusus agar dapat menjadi buah yang unggul, baik dari sistem penanamannya, pemupukannya, hingga penyiramannya.

Pemuda butuh sekali keberadaan tuntunan atau panduan agar menjadi insan yang prima untuk menghadapi dinamika dunia di masa mendatang. Salah satu aspek fundamental yang perlu hadir dalam pembentukkan karakter seorang manusia itu adalah pemenuhan pendidikan, di luar aspek gizi dan genetik. Tujuan akhir dari pendidikan ini adalah kedewasaan yang ditandai dengan kemampanan berpikir dengan bernalar kritis, membentuk karakter dan mental yang merdeka, serta mampu melakukan kaderisasi kepada manusia lainnya, sehingga memungkinkan bagi mereka yang terdidik untuk memberantas kebodohan di tengah masyarakat.

Islam telah menuntun kita kepada hal-hal yang demikian, namun dengan jalan kedamaian dan cenderung mutakhir. Ajaran-ajaran Islam yang merujuk pada keidealan hidup menjadikan Islam sebagai pedoman paling rasional di dunia. Dengan berlandaskan pada Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, insyaAllah prinsip-prinsip ini akan membawa manusia kepada kedamaian. Untuk itu, Islam perlu penguasa yang memiliki visi yang Islam pula.

Mengapa harus IPM?

Dengan pendidikan yang benar, diharapkan para pemuda akan mencapai kemerdekaan yang sejati, baik di raga, maupun pikirannya. Tentu, harus disertai dengan pedoman dan bimbingan yang tepat pula, sehingga nilai-nilai yang ideal itu dapat pemuda kuasai secara kohesif dan koherensif. Islam juga sudah mengatur pasti persoalan ini. Nahasnya, melihat kondisi terkini, di mana masyarakat Islam begitu jauh dengan pedoman primer mereka, yakni Al-Quran dan As-sunnah, akibatnya kualitas mayoritas muslim di dunia menurun drastis, bahkan bertolak belakang. Lingkup besarnya adalah pemuda-pemudi Islam.

Masalah ini perlu sekali diberi pendekatan yang mendalam, terkait keimanan, akhlak, dan tata cara mereka dalam menjalani hidup sesuai dengan syariat dan ketentuan Islam. Namun, mengimplementasikan hal ini tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Perlu adanya pengaruh dan dedikasi besar dari para penguasa untuk bersuara, sehingga kemungkinan besar akan didengar oleh masyarakat. Maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan brain rewashing pemuda-pemuda dengan cara menurut sertakan mereka ke dalam organisasi-organisasi pemuda.

Banyak sekali benefit yang dapat kita peroleh dari berorganisasi. Baik kepentingan individu, maupun majemuk. Dari berorganisasi kita dapat menguasai nilai leadership kita, karena di sana kita adalah praktisi kepemimpinan dan harus bisa memimpin. Dari berorganisasi kita dapat memperbagus kualitas penalaran dan kerunutan cara berpikir kita, karena di sanalah wadah di mana kita dihidangkan oleh berbagai problematika, dan kita sebagai pemberi solusinya. Bukan hanya itu, bahkan dari aspek kekeluargaan, intelektualitas, spiritualitas, dan keberagaman akan berkembang seiring berjalannya kita dalam lingkaran organisasi tersebut.

K.H Ahmad Dahlan mencetuskan IPM sebagai pengejawantahan dari pendidikan yang ideal, yakni memupuk dan menjayakan paradigma Muhammadiyah (amar maruf nahi munkar) di kalangan pelajar. Tujuannya, adalah untuk menciptakan pemuda yang terampil, berilmu, berakhlak mulia, dapat menggelorakan ihwal pembaharuan, serta tertampik dari kemungkinannya untuk menyentuh praktik TBC yang bahkan sampai saat ini masih saja ada yang mengimaninya.

Bermula dari filosofi ikon IPM yang menyiratkan makna intelektualitas dan religiusitas yang tinggi, dapat dilihat dari siluet pena pada ikonnya yang diartikan sebagai kegiatan menulis (kegiatan mutlak semua penuntut ilmu), dan warna hijau perlambang keilahian pada jiwa-jiwa muda kader IPM, kemudian pada buku bewarna putih di tengahnya yang menyiratkan pengetahuan yang suci, serta jargon umum IPM yang dikutip dari Q.S Al-Qalam ayat pertama yang berbunyi,

نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

 

Artinya : “Nun, demi kalam apa yang mereka tulis.”

 

Selain itu, mengingat bahwasanya skala persebaran Muhammadiyah di Indonesia sangat besar sekali. Tidak dapat dipungkiri mengapa IPM memiliki relasi yang demikian halnya dengan organisasi induknya itu. Muhammadiyah juga dikenal baik sebagai persyarikatan yang terintegrasi satu sama lain, baik Aisyiyah, NA (Nasyiatul Aisyiyah), Tapak Suci, Hizbul Wathan, dan lembaga-lembaga bernaungan Muhammadiyah lainnya dapat dipredikati solid bak saudara satu visi. Visi Muhammadiyah.

Mulai dari pemuda, merubah dunia secara radikal. Sayang seribu sayang manakala dunia tidak terdapat lagi pemuda yang berguna, kala tahu generasi saat ini berjuluk generasi sandwich yang terkenal dengan kelembekkannya dan hanya menyetujui hal-hal yang instan. Oleh karena itu, paham-paham pembaharuan dan kebenaran harus kembali ditegakkan. Pemuda adalah masa depan dunia, maka harus diberikan pendidikan yang mumpuni dan terbaik bagi karakter dan intelektualitasnya, sehingga dapat menjadi pemimpin yang berintegritas. Islam adalah ajaran paling ideal, IPM adalah salah satu wadahnya.

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Exit mobile version