Menjadi mahasiswa baru agaknya mesti memahami bahwa mahasiswa bukan hanya menjadi seorang pelajar yang sekedar mengejar pendidikan di perguruan tinggi, tapi juga menjadi sarana aspirasi suara masyarakat dan berpikir intelek. Maka mahasiswa dilabeli dengan empat tugas pokoknya, yakni agent of change (agen perubahan), social control (kontrol sosial), iron stock (generasi penerus yang tangguh), serta moral force (suri tauladan).
Keterlibatan mahasiswa untuk aktif bersosial bahkan beprolitik hingga dapat menerapkan ke-empat tugas tersebut ialah dengan mengikuti kegiatan internal maupun eksternal kampus. Keduanya bisa menjadi sarana mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan (soft skill), membentuk karakter, serta menambah jaringan.
Lalu apa sih perbedaan antara organisasi internal dengan organisasi eksternal kampus?
Organisasi internal kampus ialah organisasi yang berdiri secara formal dalam sebuah kampus. Misalnya, Badan Eksekutif Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan lainnya.
Sedangkan organisasi eksternal kampus ialah organisasi yang berada di luar kampus, ia tidak terikat di bawah naungan lembaga khusus. Organisasi ekstra ini yang banyak memiliki aktivitas di luar kampus, disini kepengurusan lebih berjenjang serta bisa sampai ke tingkat nasional. Banyak mahasiswa aktivis lahir dari organisasi ekstra kampus.
Adapun beberapa organisasi ekstra kampus terkenal yang berdiri di Indonesia, yaitu: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gerakan Mahasiswa Negeri Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
HMI
HMI didirikan oleh Lafran Pane sejak 5 Febuari 1947. Lafran Pane merupakan seorang mahasiswa Fakultas Hukum di Sekolah Tinggi Islam yang saat ini dikenal sebagai FH-UII, Yogyakarta.
Adanya HMI bermula dari keresahan Lafran Pane akibat kemerosotan persatuan serta jatuhnya harkat Islam. Sebab itu, Lafran Pane memiliki kesadaran untuk mendorong persatuan mahasiswa Islam demi menjaga persatuan serta mengangkat derajat Islam di Indonesia. Gagasan Lafran Pane yang awalnya hanya dibahas oleh teman-temannya mendapat banyak dukungan. Akhirnya diadakan pertemuan mahasiswa se-Yogyakarta pada 1946. Pertemuan pertama berlangsung dengan belum menemukan titik terang.
Masih melanjutkan perjuangannya, Lafran Pane melakukan pertemuan dadakan yang ia pimpin di salah satu ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam, pada 5 Febuari 1947. Pada tanggal tersebutlah dikenal sebagai hari lahirnya HMI.
Adapun tujuan dalam organisasi HMI, yakni:
“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.”
PMII
PMII dibentuk berdasarkan pada hasil Konferensi Besar IPNU pada Maret, di Kaliurung, Yogyakarta. Kemudian dibentuk panitia dari 13 mahasiswa NU dalam mengadakan musyawarah pembentukan organisasi mahasiswa berideologi ahlus sunnah wal jama’ah.
Dalam pemberian nama organisasi, mahasiswa NU meminta arahan dari para kyai. Akhirnya, PMII resmi dibentuk pada 17 April 1960, di Surabaya yang diketuai oleh Mahbub Djuanaidi.
Adapun tujuan dari PMII, yakni
“Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”
GMNI
GMNI terbentuk dari peleburan tiga organisasi besar yang memiliki ajaran sama. Diantaranya; Gerakan Mahasiswa Marhaenisme (GMM), Gerakan Mahasiswa Merdeka (GMM), dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI).
Pada 23 Maret 1954 yang bertepatan dengan kongres pertama, GMNI resmi dibentuk. S.M Hadiprabowo dari GMDI ditetapkan sebagai ketua pertama.
GMNI dilabeli sebagai organisasi bersifat nasionalis. Semua mahasiswa Indonesia bisa gabung di dalamnya, tanpa pandang ras, suku, agama, dan budaya. GMNI yang membawa ajaran Bung Karno ini juga tidak lepas dengan diskursus mengenai kebangsaan, pancasila, nasionalisme, juga kerakyatan.
Tujuan GMNI, yakni:
“GMNI adalah organisasi kader dan organisasi perjuangan yang bertujuan untuk mendidik kader bangsa dalam mewujudkan sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD 1945.”
IMM
IMM dibentuk pada 14 Maret 1964, Yogyakarta. Sesuai namanya, IMM merupakan organisasi Islam bagi mahasiswa berideologi Muhammadiyah. Drs. Moh. Djazman Al-Kindi menjabat sebagai ketua pertama IMM.
Adapun tujuan IMM, yakni:
“Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.”
KAMMI
KAMMI merupakan organisasi mahasiswa muslim yang dibentuk berdasarkan keprihatinan atas krisis nasional pada era reformasi 1998. Kepercayaan yang luntur pada para pemimpin negara membangkitkan para aktivis dakwah kampus untuk berkumpul di Universitas Muhammadiyah (UMM) Malang. Pada 29 Maret 1998 di Malang, KAMMI resmi terbentuk yang diketuai oleh Fahri Hamzah.
Adapun tujuan dari KAMMI, yakni:
“Menegakkan keadilan dan kebenaran dalam wadah negara hukum Indonesia melalui tahapan pembangunan nasional yang sehat dan bertanggung jawab.”
Demikianlah gambaran dari lima organisasi ekstra di lingkungan kampus yang penting mahasiswa baru ketahui sebelum gabung di dalamnya. Pastinya, tiap organisasi yang ada mempengaruhi pola pikir serta gerakan tiap anggotanya.

