Site icon Baladena.ID

Ingin Pintar, Haruskah Kaya Dulu?

Orang pintar di zaman dulu seringkali diidentikkan dengan orang kaya. Ilmuwan yang terkenal yang telah menjadikan Eropa berjaya dengan istilah “Rennaissance” adalah Leonardo Da Vinci yang berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya Ser Piero adalah seorang seorang notaris kaya dan kakeknya merupakan tuan tanah yang mempunyai perpustakaan pribadi.

Maka tidak heran jika dia bisa tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas bahkan menjadi orang paling jenius versi Eropa. Memang di masa kecilnya, ia hidup dalam pengasuhan ibu yang merupakan seorang petani desa. Namun, setelah ia menginjak remaja, ia diambil alih oleh ayahnya untuk tinggal bersama dan mendapatkan guru pribadi untuk mempelajari seni melukis. Alhasil, lukisannya menjadi salah satu mahakarya luar biasa bahkan dilelang oleh dunia dengan harga yang luar biasa.

Selain belajar ilmu lukis, ia juga mempelajari kimia, metalurgi, pengolahan kayu, musisi, dan bidang lainnya. Bahkan, dia dijuluki sebagai polymath karena menguasai banyak ilmu. Sebelum adanya penemuan kerangka pesawat oleh para ahli, dia telah lebih dulu memikirkannya. Hal ini ditopang dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan kecerdasan yang dimiliki. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia termasuk orang yang sangat jenius dan berpengaruh terhadap dunia.

Salah satu hal yang dapat ditarik kesimpulan dari cerita Leonardo Da Vinci selain kegigihan adalah ia hidup di tengah keluarga yang kaya raya. Semua sudah tercukupi termasuk guru pribadi dan ia hanya belajar serta tidak perlu memikirkan darimana ia bisa makan dan tinggal.

Hal yang bisa kita petik dari kisahnya adalah harta sangat penting untuk perbaikan kualitas intelektual. Bahkan, salah satu syarat wajib penuntut ilmu yang tertuang di dalam kitab Ta’lim Muta’allim adalah biaya. Biaya yang memadai dapat menjadi faktor pendorong kesuksesan anak karena orang tua dapat memilih guru, makanan dan lingkungan terbaik sebagai pendorong kualitas kecerdasan anak. Guru, makanan, dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas intelektual.

Mengenai harta, dalam teori materialisme historis, Karl Marx menyatakan bahwa dengan harta, seseorang bisa mengubah banyak hal apalagi dalam hal kecerdasan. Sungguh bahagia orang yang mempunyai banyak harta dan dapat digunakan untuk mencerdaskan diri. Apalagi kecerdasan tersebut digunakan untuk menyelamatkan banyak orang, pasti hidupnya akan diliputi kebahagiaan.

Namun, apakah orang miskin tidak bisa menjadi pintar? Tentu tidak. Namun, seorang yang hidup di tengah keluarga miskin harus menjauhi zona nyaman untuk meningkatkan kualitas diri. Bahkan, dia harus bekerja terlebih dahulu agar bisa mengenyam pendidikan yang diinginkan.

Syukurlah, akses ilmu pengetahuan era sekarang dapat dijangkau oleh semua orang. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli banyak buku agar dapat membaca, cukup dengan berselancar di dunia maya, seseorang dapat dengan mudah menggenggam pengetahuan. Dalam hal akses pembelajaran pun juga demikian. Seseorang tidak perlu melakukan ekspedisi jauh-jauh untuk mendapatkan pengetahuan. Semua telah tertera berbagai bentuk, baik teks, audio, visual, maupun audiovisual hanya dengan menggunakan alat yang mudah dijangkau.

Sudah tidak ada alasan untuk tidak menjadi ilmuwan di era sekarang. Usaha yang besar dan matang adalah kunci yang paling utama. Allah berfirman dalam Surat ar-Ra’d ayat 11:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ

“….Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri.”

Pertanyaan tentang pintar identik dengan kaya dapat dielakkan jika usaha besar untuk mengubahnya sangat tinggi. Bahkan, seseorang yang awalnya hidup di tengah keluarga miskin dan berusaha untuk mengubah status hidupnya dapat menjadi orang kaya. Wallahu a’lamu bi al-shawwab.

Exit mobile version