Site icon Baladena.ID

Idul Fitri di tengah Pandemi : Optimis Yes, Pesimis No

Esok, di pagi hari nan fitri, kita semua kembali diberi kesempatan oleh Allah swt untuk bersujud, bersimpuh mengumandangkan takbir, tahmid, dan bertahlil mengesakan Ilahi Rabbi.

Ramadhan bulan ini, bukanlah Ramadhan kelabu. Hari raya saat ini, bukan pula hari raya yang buruk. Wabah Covid-19 yang menyebabkan sebagian daerah tidak bisa menyelenggarakan jamaah tarawih dan tadarus di masjid, sama sekali tak mengurangi keagungan Ramadhan. Semuanya tetaplah mutiara yang bernilai tinggi bagi orang beriman.

Musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendakinya. Kita tentu sepakat bahwa tidak ada satupun dari kita yang menghendaki adanya musibah baik itu gempa bumi, gelombang tsunami ataupun yang terkinim wabah pandemi corona yang melanda negeri ini.

Musibah bisa dilihat dari dua sudut pandang, bisa disebut sebagai ujian atau juga azab. Ujian, manakala orang atau masyarakat yang tertimpa musibah adalah mereka yang baik, shaleh lagi taat kepada Allah swt. Firman Allah swt:  Sungguh, Kami akan menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al Baqarah :155-157).

Sementara musibah sebagai azab, ketika yang tertimpa adalah orang-orang yang durhaka kepada Allah swt. Mereka seringkali melakukan kemaksiatan dan sangat sulit menerima nasihat dan peringatan.

Dari ketentuan itu, sikap yang harus ditunjukkan orang yang taat kepada Allah swt adalah selalu sabar atas ujian yang tidak menyenangkan. Karena itu, sesulit dan seberat apapun persoalan yang dihadapi oleh seorang muslim, maka kebersamaan dengan Allah swt dalam bentuk kesabaran harus semakin diperkokoh, tanpa itu kesulitan tidak akan tertanggulangi bahkan bisa jadi malah semakin diperbesar oleh syaitan dan hawa nafsu sendiri.

Namun terlepas dari ujian atau azab, maka bencana yang menimpa manusia, sebagai seorang muslim di momen idul fitri ini kita bisa tunjukkan sikap positif yang diantaranya dengan cara;

Pertama, mengokohkan kesabaran. Kedua, dengan memberikan pertolongan sebagai bukti dari rasa senasib sepenanggungan. Salah satunya bisa dilakukan dengan pemanfaatan zakat fitrah yang tepat sasaran. Ketiga, sikap optimis. Kita mengakui bahkan bisa merasakan betapa sulit dan berat persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Namun kita pun tidak boleh larut dalam kesedihan dan yakinlah bahwa masih ada Allah swt yang Maha Berkuasa dan Maha Tahu atas kondisi yang kita alami.

Di tengah pandemi ini, kita harus optimis dan berharap agar ke depan keadaan menjadi semakin membaik, pintu-pintu masjid kembali terbuka dan kita bisa berkumpul, mengaji bersama, menjalankan sistem kontrol sosial melalui pintu-pintu masjid di sekitar kita.

Selain itu, di hari raya ini, meskipun sebagian di antara kita terhalang oleh keadaan, jangan sampai kita lewatkan permohonan maaf kepada kedua orang tua, tetangga saudara dan teman meskipun mungkin sebagian di antara kita tidak bisa bertatap muka. Mari kita saling memaafkan dengan menggunakan fasilitas yang ada, jika pertemuan fisik tidak memungkinkan. Kita fungsikan media sosial yang kita punya sebagai sarana untuk merekatkan antarkeluarga, sehingga media sosial kita menjadi wasilah kita menuju ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Exit mobile version