Site icon Baladena.ID

Idul Fitri di Masa Pandemi Tetap Harus Bersilaturahim

Walaupun saat ini masih pandemi, namun patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan, yaitu merayakan Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Hal ini merupakan anugerah berupa umur panjang untuk dapat kembali menikmati ibadah pada Ramadlan. 

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari mewabahnya Covid-19. Di antaranya diingatkan untuk selalu bersabar dan bersyukur dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Sabar dan syukur merupakan perisai bagi seorang muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia. Jika tidak bisa membentengi diri dengan sifat sabar dan syukur, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kerisauan, kepenatan, kesusahan dan kesedihan. Sebaliknya, jika kita tanamkan sabar dan syukur dalam hati kita, maka kita akan meraih ridla Allah dan pahala yang besar di kehidupan akhirat.

Mewabahnya Covid-19 juga mengingatkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Hanya dengan makhluk yang sangat kecil itu, banyak orang menjadi tak berdaya. Banyak orang jatuh sakit. Bahkan banyak orang meninggal dunia. Hal ini seakan mengikis habis kesombongan pada diri manusia. Manusia itu makhluk lemah yang memiliki banyak keterbatasan. Tidak selayaknya kita menyombongkan dan membanggakan diri.

Menyebarnya Covid-19 juga mengingatkan kita akan kematian. Manusia pasti akan mati. Manusia tidak selamanya hidup di dunia ini. Semuanya pasti akan berakhir dengan kematian. Tidak seorang pun dapat memajukan kematian atau memundurkannya barang sesaat pun. Kematian adalah pintu yang akan dimasuki oleh setiap insan. Maut akan menjemput seseorang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan tidak dapat sedetikpun untuk dimajukan maupun dimundurkan. Virus ini adalah satu di antara sekian sebab kematian manusia. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam firman allah, dalam surat al-A’raaf ayat 34 : “ Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Maka apabila telah datang ajal mereka, sesaat pun tak bisa dimundurkan dan tak bisa dimajukan.”

Menjalarnya Covid-19 juga mengingatkan kepada kita akan arti penting dari ilmu agama. Tanpa ilmu agama, kita tidak akan mampu menggali hikmah dari suatu kejadian. Tanpa ilmu agama, kita tidak akan dapat bersabar dan bersyukur sebagaimana mestinya. Tanpa ilmu agama, kita tidak akan mampu menyikapi musibah sesuai tuntunan syariat Islam.

Setelah hak-hak Allah kita tunaikan selama Ramadlan melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, tibalah kini waktu untuk memenuhi hak-hak sesama hamba. Setelah habluminallah maka hablumminnas. Hari raya adalah salah satu momen yang tepat untuk mempererat tali silaturrahim dan memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa.

Pandemi bukan halangan untuk bersilaturrahim. Karena silaturrahim bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu fisik, maka bisa diganti dengan pertemuan secara daring. Silaturrahim juga dapat dilakukan dengan saling bertegur sapa dan menanyakan kabar melalui sambungan telepon. Di musim pandemi covid-19 ini, kita memang dianjurkan untuk menjaga jarak fisik. Akan tetapi jarak sosial tidak boleh renggang. Jarak persaudaraan harus tetap dekat. Jembatan penghubung antar kerabat harus tetap dibentangkan.

Musim pandemi jangan sampai membuat kita memutus tali silaturrahim. Jangan sampai keluarga dan kerabat kita, merasa kita tinggalkan dan kita abaikan. Kita tetap jaga hubungan baik dengan mereka. Kita jaga hubungan baik itu dengan cara membantu mereka di kala mereka butuh bantuan. Kita hutangi mereka jika butuh hutangan. Kita kunjungi mereka jika memungkinkan.

Menjaga Silaturrahim merupakan bagian dari akhlak yang sangat terpuji. Silaturrahim sangat dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Karena disamping misi utamanya adalah penanaman keimanan kepada Allah, beliau juga mempunyai misi yaitu perbaikan akhlak yang ia ajarkan kepada umatnya.

Dengan berusaha melakukan akhlaq terpuji akan selalu terhapus dosa-dosanya sehingga akan tinggi kedudukannya di sisi Allah karena hatinya bersih. Sebaliknya nya dengan melakukan langkah akhlak yang jelek akan rusak berbagai ibadah yang dilakukannya sehingga kedudukannya akan rendah di sisi Allah, dan bahkan akan menimbulkan kemurkaan Allah Swt.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Dr. Mohamad Khamim, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Exit mobile version