Site icon Baladena.ID

Idulfithri dan Lebaran, Apakah Sama?

Lebaran menjadi peristiwa yang sangat diharapkan oleh setiap muslim. Lebaran jatuh pada tanggal 1 Syawal di setiap tahunnya. Biasanya, umat Islam akan merayakannya selama dua sampai tiga hari. Pada pagi hari di hari H, mereka akan melaksanakan sholat ied. Selepas itu, mereka akan saling mengucapkan minal ‘aaidin wal faaiziin serta mohon maaf lahir dan batin dengan berjabat tangan yang disertai dengan pelukan formal. Hal ini dilakukan sebagai rasa saling berbagi kebahagiaan dan rasa saling memaafkan atas segala kesalahan yang telah berlalu. Tidak hanya itu, umat Islam juga menyiapkan berbagai macam hidangan kue lebaran di rumah masing-masing serta hadiah yang kerap diberikan kepada anak-anak dan sanak saudara mereka yang masih kecil.

Tradisi ini akan semakin bervariasi jika kita melihat dari setiap negara. Di Indonesia, hari raya Idulfithri menjadi hari libur nasional dan cuti bersama selama kurang lebih satu minggu. Sekolah-sekolah dan perkantoran diliburkan, dengan tujuan umat Islam dapat berkumpul dengan keluarga, teman-teman lama, tetangga sekitar, dan sanak saudaranya. Idulfithri merupakan sebuah tanda bahwa puasa pada bulan Ramadlan telah berakhir. Selain itu, Idulfithri juga diartikan sebagai hari kemenangan umat Islam dan waktu untuk beramal, yang biasa disebut dengan zakat fitrah. Banyak yang memaknai bahwa Idulfithri merupakan waktu yang penuh dengan sukacita dan berkah bagi seluruh umat Islam, sehingga bagi mereka yang memiliki harta lebih membagikan hartanya kepada seseorang yang kurang mampu. Dalam hal ini, kita biasa menyebutnya sebagai tunjangan hari raya (THR).

Seringkali kita menyebut hari raya Idulfithri sebagai lebaran. Apakah keduanya sama? Terdapat lima padanan kata lebaran, yaitu lebaran, luberan, laburan, leburan, dan liburan. Pertama, lebaran yang berasal dari kata lebar dan ditambah dengan imbuhan -an. Lebar memiliki arti lapang. Artinya, hendaknya kita berlapang dada untuk saling memaafkan kepada sesama di hari raya. Kedua, luberan yang berarti melimpah atau meluap. Dalam artian lain, melewati batas yang telah ditentukan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan luber yaitu luber meminta dan memberi maaf, rezeki, dan pahalanya. Ketiga, laburan berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti mengecat. Hal ini berawal dari kebiasaan sebagian besar penduduk Indonesia yang mengecat rumahnya menjelang Idul Fithri. Keempat, leburan yang berarti menyatukan. Maksudnya, usai melaksanakan puasa Ramadlan dan segala amal yang telah kita lakukan, diharapkan mampu meleburkan sikap maupun sifat kita yang buruk. Kelima, liburan yang hampir menjadi tradisi di setiap momen lebaran. Selain itu, hari raya Idul Fithri merupakan tanggal merah pada kalender nasional, sehingga berarti libur. Kelima padanan kata tersebut jika diucapkan secara berulang-ulang, maka akan muncul istilah lebaran.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah lebaran muncul dipengaruhi oleh faktor budaya. Namun, berbeda dengan Idulfithri. Idulfithri berasal dari bahasa Arab, ‘aada – ya’uudu, yang berarti kembali. Sedangkan kata Fithri berasal dari kata fathara, yang berarti sarapan, sehingga Idulfithri dapat diartikan sebagai hari kembali sarapan setelah berpuasa selama 29-30 hari selama bulan Ramadlan. Idulfithri dan lebaran sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan, karena memang keduanya digunakan di Indonesia. Hanya saja asal usul munculnya kedua kata tersebut dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Idulfithri dipengaruhi oleh faktor bahasa, dan lebaran dominan dipengaruhi oleh faktor budaya. Akan tetapi, keduanya dapat memicu adanya perbedaan makna.

 

 

Wa Allahu A’lam bi al-Shawaab.

Exit mobile version