Site icon Baladena.ID

Iblis Berjubah Malaikat

Oleh: Naila Aulia

Aku Linka, seorang gadis yang bertemankan sendu. Hariku tak pernah lepas dari kisah pilu. Luka yang terkungkung dalam hatiku terlalu dalam, sampai aku sempat lupa bagaimana cara untuk sekedar melengkungkan bibir ke atas membentuk sebuah senyuman. Hingga suatu hari tuhan mengirimkan sosok malaikat berwujud manusia ke sisiku. Ialah Agam. Si pemilik mata gelap bak kelamnya malam, dengan pijar bolamata yang jernih meneduhkan.

Semarang, 7 Juli 2011

Taman bunga Cendana memang objek paling tepat untuk dikunjungi bersama orang terkasih. Rupa warna bunga nan cantik selalu berhasil menyihir setiap hati yang gundah menjadi membuncah. Sekolahku bersandingan langsung dengan taman itu, sehingga aku bisa menyapa bunga-bunga indah tersebut setiap hari.

Lihatlah segerombolan anak kecil yang kini tengah bercanda ria di sekeliling rerumpunan tulip itu. Senyum dan tawa yang terdengar renyah dari bibir merekaitu membuat hati siapapun yang memandang ikut bahagia. Sesekali mereka berlari kesana-kemari sambil merentangkan kedua tangan seperti burung yang hendak terbang. Bebas. Tanpa beban. Itulah yang bisa kutangkap dari ekspresi mereka. Sungguh suatu keadaan yang sudah lama tidak kurasakan.

Dulu aku juga pernah merasakan kebahagiaan sebesar mereka, duluu sekali ketika keluarga kecilku masih utuh tanpa goresan sedikitpun. Ketika ayah dan ibu masih sudi bertukar senyum hangat setiap waktu, saat tangan ayah masih setia menggenggam penuh kasih tangan kami.

Aku menghela nafas berat, menatap kosong khalayak ramai di hadapanku. Pemandangan yang kulihat kini membuat kelopak mataku yang sedang membendung airmata, kini terasa makin berat saja. Mati-matian aku berusaha nampak tegar dengan tidak menangis menyaksikan pemandangan tersebut. Aku mencoba mengalihkan mataku ke objek lain, jika tidak kenangan pahit tentang keluarga kecilku pasi akan semakin kuat menggores hatiku.

Kini di hadapanku nampak sepasang ayunan kayu yang mengayun pelan. Di sisi ayunan nampak gadis kecil berusia sebaya denganku, sekitar 8 tahunan tengah duduk sendiri dengan wajah sendu. Berulang kali ia menilik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya berulang kali. Raut wajahnya perlahan makin suram menandakan kesedihannya makin memuncak, sesekali terdengar ia berbisik dengan sendirinya “Ayah dan ibu pasti datang kan?”, bisikan pilu yang hanya dijawab oleh angin kosong. Aku mengambil langkah untuk duduk di sisi gadis itu tanpa mengajaknya berbincang sepatah katapun. Aku tidak tertarik untuk bicara banyak hari ini, tenagaku sudah habis kugunakan untuk menangis semalam suntuk akibat perkelahian kedua orangtuaku. Aku hanya ingin tau bagaimana kelanjutan nasib gadis terebut. Nampaknya ia memiliki kisah pilu dengan keluarga kecilnya, sama sepertiku.

Sang surya perlahan tergelincir ke barat, menyisakan cahaya orange di ufuk barat. Gadis kecil itu sudah mulai terisak tak tahan membendung airmatanya, sepertinya kedua orangtuanya tak bisa datang. Dan benar, kulihat seorang perempuan setengah baya dengan seragam asisten rumah tangga berlari dengan tergesa-gesa menghampiri si gadis. Perempuan itu berhenti sejenak untuk menjawab panggilan dari ponselnya yang berdering, “Maaf, mas. Sri sepertinya pulang terlambat, tadi Sri ikut menghadiri sidang perceraian nyonya dan tuan. Eh waktu Sri lewat depan sekolah non Tiara, dia masih setia menunggu di taman sekolah. Sepertinya nyonya dan tuan lagi-lagi lupa untuk menjemput anaknya sendiri. Jadi, Sri harus mengantarnya pulang dulu, mas…Iya, Sri akan segera pulang, mas, udah dulu ya”

Aku tersenyum dalam hati mendengarkan percakapan tersebut, setidaknya bukan hanya aku satu-satunya anak berusia dini yang dikecewakan oleh orangtua sendiri. Namun, sepertinya aku masih sedikit beruntung, keluarga kecilku maxsih utuh, tidak ada perceraian di antara ayah dan ibuku. Atau lebih tepatnya belum.

Hubungan ayah dan ibu mulai memburuk semenjak hubungan gelap ayah bersama sekretaris barunya terbongkar oleh ibu. Berulang kali ayah melayangkan surat perceraian ke pengadilan, namun ibu kekeuh mempertahakan hubungan mereka demi aku. Ibu yakin suatu saat ayah bisa menyadari kesalahannya dan kembali ke pelukan kami seperti dahulu. Ibu terus menerus membangun benteng pertahanan di hatinya, ia mencoba menutup mata seakan buta melihat perselingkuhan yang ayah lakukan. Lelaki yang pernah menjabat sebagai raja di hatinya kini telah berubah menjadi durjana yang jahat. Seakan lupa janji suci yang telah ia ucapkan di hadapan penghulu saat akad. Kini yang tersisa hanyalah tatapan penuh kebencian yang menghiasi keluarga kecil kami. Kemana perginya janji suci pernikahan mereka dulu? Apa mungkin janji yang mereka ucapkan kurang kuat sehingga berakhir pada rumah tangga seperti ini?

Usai kepergian si gadis malang itu aku pun turut beranjak meninggalkan taman menuju rumah. Aku mengayunkan langkah perlahan menyusuri jalanan sambil bersenandung pelan. Setelah 10 menit aku berjalan,samapailah aku di halaman rumahku. Namun, kuurungkan kaki ketika mendengar suara keributan dari dalam rumah, siapa lagi sumbernya jika bukan ibu dan ayahku. Ayah selalu saja memiliki topik baru untuk memarahi ibu. Entah apalagi masalah yang ia ungkit kali inikali ini.

Prankkkk

Aku berjengit kaget mendengar suara gelas jatuh dari dalam rumah. Kemudian disusul suara makian dan adu mulut antara kedua orangtuaku. Aku memejamkan mata sejenak menenangkan kegundahan hati ini, aku seperti tidak mengenali ayahku sendiri sekarang. Tidak ada lagi pelukan hangat seperi dulu, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ayah tersenyum kepada kami. Sekarang ayah lebih sering tersenyum kepada sekretaris barunya itu, bahkan ayah sudah mulai berani mengajaknya datang ke rumah kami ketika ibu tidak ada di rumah.

 

Aku masih menahan diri untuk masuk ke dalam, karena baru kali ini aku mendengar ibu ikut angkat bicara, biasanya setiap kali orangtuaku bertengkar ibu hanya diam dan sabar menghadapi perlakuan ayah. Nampaknya perdebatan mereka kali ini cukup serius, sampai ibu tidak bisa menahan kesabarannya lagi kali ini. Beberapa saat kemudian terdengar rintihan kesakitan ibu dari dalam rumah. Reflek aku membuka pintu.

Seketika mataku membulat sempurna, jantungku berdeguo kencang, kakiku seakan kehilangan energi untuk menyangga tubuh mungilku. Di sana di hadapanku, di dalam istana kecil kami yang dulu penuh dengan kasih sayang, nampak ayah termangu dengan tangan kanan memegang sebilah pisau yang telah berlumurkan darah, sedangkan ibu ku terkapar lemas di atas lantai dengan nafas pendek pertanda ajal sudah dekat. Aku menghambur ke pelukan ibu membasahi bajunya dengan airmataku, “Kak, maafkan ibu.. Jangan pernah membenci adanya cinta. Ia tak pernah salah. Yang salah adalah ketika kamu menjatuhkannya ke orang yang salah”. Pesan terakhir itu ia ucapkan dengan nada sangat pelan nyaris tidak terdengar jika saja telingaku terkena sumbatan sedikit saja.

Aku semakin mengeratkan pelukanku diatas tubuhnya, perlahan dada ibuku terasa tenang, tidak ada pergerakan naik turun pertanda masih adanya nafas yang mengalir. Aku menatap nanar wajah ibuku.

Tuhan… Hari ini aku menjadi seorang piatu, aku kehilangan malaikat tak bersayapku. Dan ironinya ayahku sendiri yang menjadi penyebabnya.

Bersambung…

Exit mobile version