Di usia 76 tahun HMI memiliki kemampuan yang kuat untuk kemajuan pergerakan Islam. Di usia yang tidak lagi belia ini, HMI memberikan kontribusi bagi pembangunan intelektual dan kepribadian bangsa. Bahkan komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaannya sampai saat ini masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Ini merupakan ideology HMI yang harus terus dijaga. Selain itu, ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan HMI sebagai organisasi yang memiliki ciri khas dalam setiap langkah kemahasiswaan. Berdirinya HMI memberikan sejarah tersendiri sebagai organisasi intelegensia muslim yang memiliki kekhawatiran terhadap kesejahteraan umat dan bangsa.
Pertama, HMI memberikan kontribusi dalam perlawanan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kedua, HMI menjadi tembok bagi rakyat Indonesia dalam pengintaian PKI yang terus menghantui rakyat di malam hari. Ketiga, HMI memilki semangat ke-Indonesiaan dan ke-Islaman demi memperjuangkan kesejahteraan dan penindasan terhadap rakyat. Keempat, HMI juga menjadi inisiator pergerakan dalam proses transisi orde lama ke orde baru.
Dalam konteks sejarah Indonesia sebagai negara yang berasaskan Pancasila, HMI digerakkan untuk kepentingan bangsa dan agama. Sejarah juga mencatat, banyak sekali kader HMI yang menjadi pemuka agama dan bangsa di Indonesia. Sehingga HMI menjadi organisasi yang banyak berkontribusi pada pos-pos penting dalam perjalanan bangsa.
Ketika orde lama berada pada titik terendah dalam kepemimpinan, HMI menjadi poros utama gerakan masyarakat untuk mewujudkan reformasi Indonesia. Akan tetapi, HMI sebagai organisasi yang sadar akan fungsi dan tanggungjawabnya tidak boleh terjeriumus ke dalam romantisme sejarah yang pernah dilakukan oleh founding father terdahulu. Sebagai seorang kader, kita harus bisa lebih progresif terhadap dinamika perkembangan zaman. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah HMI mampu untuk mencatat sejarah kembali dan kontribusi apa yang akan diberikan di era disrupsi ini menuju Indonesia Emas 2045?
Dengan berbagai konfigurafi dinamika yang sekarang ini menjadi tantangan HMI, maka semakin berat pula kader HMI untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, kontribusi apa yang akan diberikan HMI terhadap terjadinya disrupsi di segala elemen? Kedua, apakah HMI mampu mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 di era disrupsi ini? Ketiga, apakah HMI mampu mencatat sejarah kembali untuk diwariskan ke generasi yang akan datang? Jika dulu HMI digaungkan sebagai organisasi harapan masyarakat Indonesia kaarena founding fathernya. Kemudian pada tahun 1971 Cak Nur dan dua temannya merumuskan NDP yang sekarang dijadikan sebagai pedoman dasar perkaderan HMI. Maka, apa yang bisa diwariskan HMI masa kini untuk generasi yang akan datang?
Dengan berbagai masalah dan tantangan saat ini, HMI harus menemukan solusi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertama, HMI harus kembali kepada khittah perjuangan HMI yang selalu mengedepankan ukhuwah Islamiyah. Kedua, HMI harus bisa memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islaman HMI. Ketiga, HMI harus menegakkan kembali tujuan HMI untuk melahirkan insan cita. Keempat, HMI harus mampu mengoptimalkan teknologi sebagai pembangunan organisasi. Kelima, HMI harus merevitalisasi pembangunan SDM.
HMI memiliki niali ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Sudah lebih dari setengah abad berkiprah bukanlah waktu yang sangat singkat. Dalam konteks sejarah, HMI sudah dilabeli sebagai benteng pertahanan bangsa dan selalu sigap di garda terdepan untuk membela rakyat. Maka sudah seharusnya kader HMI memperbaiki diri untuk memberikan kontribusi menuju Indonesia Emas 2045. Kekayaan dan inklusifitas yang ada di HMI merupakan modal yang sangat besar untuk bisa mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

